kumparan
6 Okt 2018 14:29 WIB

Cerita Volunteer Asian Para Games yang Ingin Beri Semangat ke Atlet

Volunteer Asian Para Games 2018. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
Sama seperti Asian Games, keberadaan volunteer juga terlihat di ajang Asian Para Games 2018. Berbagai tugas dilakukan oleh para relawan tersebut, mulai menunjukkan arah para pengunjung dan membatu atlet berserta para official.
ADVERTISEMENT
Volunteer Asian Para Games 2018 kali ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka bekerja secara sukarela tanpa dibayar. Salah satunya adalah Putri Azharika (23), volunteer asal Bekasi.
Meski tidak dibayar Putri tetap semangat memberikan petunjuk untuk pengunjung Asian Para Games. Uang memang bukan tujuan utama Putri. Ia menjadi volunteer untuk ikut memberi semangat kepada atlet disabilitas untuk berprestasi.
“Saya jadi volunteer karena ingin bantu sukseskan acaranya. Terus juga pengen kasih semangat ke atlet disabilitas juga,” kata Putri di Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (6/10).
Putri ditugaskan di divisi venue atletik. Ia bertugas mengarahkan penonton menuju pintu masuk sesuai tiket mereka. Selain itu, ia juga mengemban tugas untuk menunjukan jalur khusus disabilitas di venue tersebut.
ADVERTISEMENT
“Tugas volunteer ada banyak macamnya, ada untuk crowd jadi mengarahkan penonton. Ada juga yang bantu atletnya mempersiapkan barangnya. Ada juga yang bertugas di tempat penginapan atau stay-nya, jadi dia (atlet) perlu apa selalu siap sedia 24 jam,” kata Putri.
Sebelum hari H, ia dan volunteer lainnya diberikan pelatihan untuk mengenal akses di area SUGBK. Selain itu mereka juga dilatih untuk melayani disabilitas dan bahasa isyarat.
Volunteer lainnya, Kiki Veronica (23) memiliki alasan berbeda untuk bergabung sebagai volunteer Asian Para Games 2018. Ia mengatakan ingin membantu negara dengan cara berpartisipasi di Asian Para Games.
“Gue pengen nunjukin apa sih yang bisa gue kasih ke negara, daripada gue mikirin apa sih yang negara kasih ke gue. Salah satunya dengan berpartisipasi jadi volunteer Asian Para Games,” kata perempuan asal Cinere tersebut.
Volunteer Asian Para Games 2018. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
Kiki bercerita, kesulitan menjadi volunteer ialah harus berkoordinasi dengan banyak pihak. Koordinasi tersebut harus dilakukan secara cepat.
ADVERTISEMENT
“Kesulitannya kita mesti standby di sini belajar tentang GBK, di mana pintu keluar, di mana pintu masuk. Kemarin ini mobil masih bisa masuk, tiba-tiba infonya enggak bisa lewat. Jadi kita harus cepat banget ngasih infonya,” ungkapnya.
“Abis itu kita kan venue mesti ngobrol juga sama anak ticketing, tranportasi semuanya kaya dijadiin satu gitu. Itu sulitnya sih,” tambahnya.
Terkait tempat tinggal, Putri dan Kiki memilih tinggal di rumah masing-masing. Karena menurut mereka penginapan yang disediakan Inapgoc sudah penuh dan lebih diprioritaskan untuk volunteer yang berasal dari luar kota.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan