kumparan
21 Mar 2019 17:03 WIB

Dana Pendidikan Aisa, Anak dari Abang Becak yang Dipenjara, Diserahkan

Aisa saat belajar di sekolah, Buton Tengah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Aisa baru saja pulang sekolah saat kumparan berkunjung ke rumahnya di Kecamatan Lokudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Rabu (21/3). Ia menyunggingkan senyum manisnya pada kami, kemudian langsung mencari ibunya untuk mencium tangannya tanda ia sudah kembali ke rumah.
ADVERTISEMENT
Putri pertama dari pasangan Rasilu (34) dan Wa Oni (34) itu baru saja selesai try out Ujian Nasional di sekolahnya. Masih mengenakan seragam, Aisa langsung mengambil posisi duduk, dan siap menceritakan kembali kisahnya.
Gadis kecil berusia 14 tahun itu sempat berniat putus sekolah lantaran musibah yang menimpa sang ayah.
Aisa (Kiri), dan Ibu Wa Oni (Kanan). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Ayah Aisa, Rasilu, bekerja sebagai tukang becak di Ambon sejak tahun 2015. Minimnya lahan pekerjaan membuat sang ayah harus merantau hingga ke pulau seberang. Naas, ia mengalami kecelakaan pada 23 September 2018 lalu. Becak Rasilu terbalik saat berusaha menghindari mobil yang melaju kencang. Dua penumpang becak bersama Rasilu turut terluka akibat kecelakaan itu.
Para warga yang berada di lokasi kejadian membantu menyelamatkan korban dan membawanya ke RS TNI AD dr Latumenten, Ambon. Rasilu membantu membayar biaya rumah sakit korban. Namun, nyawa salah satu korban tak tertolong akibat luka-luka serta riwayat penyakit asma yang dideritanya.
ADVERTISEMENT
Akibat kecelakaan itu, Majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara kepada Rasilu. Meski keluarga korban telah mencabut tuntutannya, Rasilu tetap harus menjalani hukuman karena melanggar pasal 359 KUHP dan pasal (4) UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan atas kelalaiannya mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
“Bapak saya di penjara, dia waktu itu (saat masuk penjara) pakai pakaian koko, dia rajin salat, kalau ada waktunya dia cabut rumput dibelakang, dia juga suka berkebun,” cerita Aisa kepada kumparan di rumahnya, Rabu (20/3).
Semenjak kejadian tersebut, ibu Aisa yang menggantikan posisi sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Wa Oni, ibunya, harus bekerja keras demi menanggung biaya hidup dan pendidikan Aisa beserta keempat adiknya.
Aktifitas keluarga Wa Oni di rumah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Perempuan berusia 34 tahun tersebut mencari nafkah dengan bekerja membelah kulit kacang mede milik tetangga yang dihargai Rp 2.000 per kilogram. Ia pun terkadang berjualan pisang goreng meski harus berhutang kepada tetangga untuk membeli minyak goreng. Ia bercerita, penghasilan yang ia dapat per bulan sebesar Rp 200.000. Saat ditanya cukup atau tidak untuk memenuhi semua keperluan, Wa Oni menjawab pelan, "Ya harus cukup bu, yang penting bisa makan dan anak bisa pergi sekolah."
ADVERTISEMENT
Adik-adik Aisa di rumah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Mengetahui nasib ayah dan perjuangan ibunya, Aisa sempat berniat putus sekolah agar dapat membantu mencari nafkah. Padahal dia sebentar lagi harus menghadapi UN SMP dan ujian masuk SMA.
“Karena kalau bapakku belum keluar terpaksa saya putus sekolah, mau ambil uang gimana soalnya, kita makan saja sudah susah apalagi mau lanjutkan sekolah, sekolah jauh,” ujar Aisa.
Wa Oni tentunya tak merestui niatan anaknya tersebut. Ia ingin anak sulungnya itu tetap bersekolah, entah bagaimana pun caranya.
“Saya bilang Aisa sekolah saja bagaimana caranya, tetep saya semangatin, tetep sekolah saja nanti ngga usah mikir bagaimana, jangan kamu putus sekolah saya bilang begitu,” kata Wa Oni.
Aisa saat belajar di sekolah, Buton Tengah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Semangat dari ibunya itu yang membuat Aisa tetap melanjutkan sekolahnya. Semangat ibunya jadi sumber semangatnya juga. Aisa bercerita, ketika dewasa nanti ia ingin menjadi guru.
ADVERTISEMENT
“Saya ingin jadi guru, karena saya suka pelajaran matematika dan IPA,” kata Aisa.
Penyerahan donasi untuk Aisa dan keluarga. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Donasi yang digalang kumparan bersama kitabisa.com pun turut menambah semangat Aisa untuk meraih cita-citanya. Total donasi yang terkumpul di platform kitabisa.com jumlahnya mencapai Rp 771.011.681 per tanggal 19 Maret 2019. Ketika campaign ditutup pada 20 Maret 2019, donasi bertambah menjadi Rp 771.920.990.
Donasi yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk biaya pendidikan Aisa beserta adik-adiknya, renovasi rumah, dan juga modal usaha untuk Wa Oni.
Donasi tersebut rencananya juga akan dipergunakan untuk mempertemukan Wa Oni dan Rasilu. Keduanya belum pernah bertemu sejak sang suami di penjara di Rutan Ambon tahun lalu.
Aisa saat di sekolah, Buton Tengah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Aisa tidak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya ketika mengetahui ia dapat bantuan untuk melanjutkan pendidikan, bahkan hingga ke jenjang universitas. Senyum di wajahnya langsung merekah.
ADVERTISEMENT
“Saya bahagia karena berkat bantuan itu saya bisa lanjutkan sekolah, alhamdulillah,” ujar Aisa.
“Terimakasih untuk kepada donatur yang telah membantu kami agar Aisa bisa sekolah lagi, saya hanya bisa bilang terimakasih sebanyak-banyaknya,” katanya.
Campaign yang diinisiasi kumparan berhasil mengumpulkan donasi dari 11.119 donatur melalui platform kitabisa.com. Campaign ini akan dibantu pengelolaannya secara langsung oleh tim Aksi Cepat Tanggap dan relawan di daerah tersebut. Perkembangan dari campaign ini bisa terus dibaca di kumparan.com dengan topik 'crowdfunding Aisa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan