Deddy Mizwar: Jangankan Pak Jokowi, Nabi Saja Difitnah

4 April 2019 17:28 WIB
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Deddy Mizwar tiba di Rumah Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Cemara, Jakarta, Sabtu (1/9/2018). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Deddy Mizwar tiba di Rumah Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Cemara, Jakarta, Sabtu (1/9/2018). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf kembali menggelar acara Gerakan Tangkal Fitnah (Hoaks) untuk menjawab sejumlah fitnah terhadap Jokowi yang tersebar di masyarakat. Fitnah-fitnah yang dimaksud, mulai dari Jokowi didukung PKI hingga pernikahan sesama jenis akan dilegalkan jika Jokowi kembali terpilih jadi presiden.
ADVERTISEMENT
Juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Deddy Mizwar mengatakan hoaks berkembang secara masif di masyarakat karena telah direncanakan oleh sejumlah pihak tak bertanggungjawab.
"Jadi menarik mengamati bagaimana hoaks tumbuh berkembang secara masif, terstruktur dan dilakukan berulang-ulang. Lalu juga ada data yang berisi tentang 498 hoaks terjadi selama bulan Februari," kata Deddy di Posko Cemara, Jakarta Pusat, Kamis (4/4).
"Kalau kita lihat, ada sesuatu yang direncanakan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Jadi direncanakan," imbuh dia.
Deddy menuturkan, fenomena dan perilaku fitnah sudah lama terjadi bahkan sejak zaman nabi. Deddy mengatakan, semburan fitnah yang dialami Jokowi perlu ditangkal dengan keimanan yang kuat.
"Jangankan Pak Jokowi, nabi saja difitnah. Nabi waktu difitnah tentang Aisyah (istri Nabi), beliau beberapa hari mengurung diri di rumah. Tidak berani berbicara sebelum wahyu turun yang menjelaskan tentang hal ini. Pak Jokowi 4,5 tahun diam. Kalau Rasulullah menunggu wahyu. Tangkal yang utama sebagai negara yang berketuhanan yaitu iman," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Deddy mengatakan pihak yang membuat fitnah merupakan golongan masyarakat yang ingin merusak tatanan bangsa. Ia menganggap hoaks tak perlu dibalas dengan bentuk yang serupa. Namun, perlu diklarifikasi dengan kebenaran.
"(Pembuat hoaks) orang fasik yang merusak. Untuk sebuah kekuasaan, yang merupakan amanah, mencapainya harus dengan fitnah. Apakah harus dibalas dengan fitnah? Saya kira juga bukan tindakan arif. Tapi bagaimana mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi," kata dia.
Deddy menuturkan kontestasi Pemilu 2019 bukan merupakan akhir dari persatuan Indonesia. Namun, apabila pemilu dimenangkan oleh kelompok yang menggunakan fitnah, ia mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kemunduran.
"Boleh dikatakan 17 April ini bukan titik akhir dari perjalanan bangsa ini. Yang mengerikan adalah apabila kekuasaan di tangan orang-orang dan kelompok yang memfitnah. Maka kehidupan demokrasi akan jauh lebih derajatnya akan jauh lebih rendah daripada saat ini," ucap Deddy.
ADVERTISEMENT
"Jadi proses pemilu ini proses ibadah kita kepada Allah. Kekuasaan yang diberikan kepada siapa presiden terpilih nanti juga adalah proses ibadah dia kepada Allah dengan kekuasaannya," pungkasnya.