Dilema Donor ASI

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi ibu menyusui (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menyusui (Foto: Thinkstock)

Tak semua anak yang baru lahir bisa langsung mendapat kesempatan menyusui dari ibunya. Sebagian ibu memiliki kendala tersendiri yang perlu dipahami.

Untuk membantu para ibu dan bayi yang kurang beruntung itu, muncullah tren baru Donor Air Susu Ibu (ASI). Gerakan ini amat bermanfaat, tetapi juga menyimpan risiko.

Donor ASI layaknya donor darah. Seorang ibu yang memiliki ASI melimpah dan berkualitas bisa membagikan ASI miliknya kepada bayi lain yang bukan anak kandungnya.

Salah satu ibu yang sudah melakukan donor ASI adalah Isma Savita. Awal Isma ingin mendonorkan ASI adalah karena pernah melihat seorang bayi tak memperoleh ASI cukup.

"Aku pernah lihat bayi prematur di ruang peristi (Perinatologi Resiko Tinggi) lagi nangis enggak berhenti-berhenti karena susu ibunya sedikit, cuma 10 milimeter. Kasihan banget. Di situ aku jadi sadar dan merasa bersyukur (punya ASI banyak)," kata Isma saat berbincang dengan kumparan, Selasa (7/2).

Ilustrasi ASI (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ASI (Foto: Thinkstock)

Kini di media sosial, banyak ditemui ibu berhati mulia yang berniat mendonorkan ASI mereka seperti yang dilakukan Isma.

Namun di balik niat baik itu, donor ASI juga punya risiko. Ini utamanya untuk kaum Muslim.

Dalam hukum Islam, bayi yang menyusu bukan kepada ibunya akan menjadi anak sepersusuan perempuan tersebut. Sementara salah satu aturan dalam Islam menyebut bahwa saudara sepersusuan tak boleh menikah.

Isma menyadari hal tersebut. Meski tak terlalu mempersoalkannya, dia punya trik untuk mencegah kejadian pernikahan antarsaudara sepersusuan.

Biasanya Isma mendonorkan ASI via media sosial, baik Instagram maupun Twitter. Ia tak pernah memberikan ASI untuk teman dekatnya, mengantisipasi kemungkinan anak-anak mereka menikah di masa depan.

"Aku biasanya minta sedikit biodata bayi yang kukasih donor. Nama lengkap dia, nama lengkap bapak/ibunya, dan alasan dia butuh donor ASI," kata Isma.

"Tapi aku pribadi enggak masalah kalau ada bayi cewek yang butuh ASI-ku. Namanya juga butuh. Bismillah, kasih saja," sambung dia.

Isma tak mau asal-asalan mendonorkan ASI. Harus ada alasan yang mendesak seperti ibu sang bayi meninggal, atau ada penyakit yang membuat ASI tak keluar.

"Kalau cuma karena air susunya sedikit aku pikir-pikir buat kasih. Menurutku semua ibu pernah mengalami fase itu. Tinggal bagaimana ia sering memompa atau tidak. Itu yang harus dibiasakan," ujarnya.

Dalam sehari Isma bisa menyetok 16 kantong yang masing-masing berisi 100 mililiter ASI. Kantong-kantong itu disimpan di dalam freezer khusus.

Bila ada yang membutuhkan ASI-nya, biasanya Isma menggunakan jasa pengantar ASI Namun tak jarang, Ia mengirim ASI-nya melalui jasa ojek online.

"Ada delivery khusus, pung delivery. Tapi kadang-kadang yang didonorin nggak mau karena mahal. Kadang-kadang jaraknya jauh juga, sampai ada yang 25 kilo. Mereka maunya pakai Gojek karena lebih murah," ungkapnya.

Terakhir dia berpesan, agar setiap Ibu senantiasa menjaga kualitas ASI-nya. Jangan malas-malas untuk memompa ASI.

"Aku mengajak diriku sendiri untuk semangat mompa. Nggak boleh males, aku ke kantor mompa, aku ke mall mompa, di rumah juga mompa," tutup dia.

Infografis Memahami Pentingnya ASI (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Infografis Memahami Pentingnya ASI (Foto: Bagus Permadi/kumparan)