Ralat: Game Fortnite Tidak Menginspirasi Pelaku Teror di Christchurch

15 Maret 2019 15:20 WIB
Sebuah tangkapan layar saat insiden penembakan berlangsung, menunjukkan tersangka menembaki jamaah masjid di Christchurch, Selandia Baru. Foto: Dok. istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah tangkapan layar saat insiden penembakan berlangsung, menunjukkan tersangka menembaki jamaah masjid di Christchurch, Selandia Baru. Foto: Dok. istimewa
ADVERTISEMENT
Catatan redaksi: Berita ini telah mengalami ralat pada konteks kutipan manifesto pelaku penembakan Christchurch. kumparan melansir dari The Sydney Morning Herald yang mengutip sebagian isi manifesto pelaku di bagian Fortnite. Setelah mendapatkan dokumen lengkapnya, ternyata konteksnya tidak demikian. kumparan memohon maaf untuk ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
ADVERTISEMENT
Pihak keamanan Selandia Baru telah menangkap 4 terduga pelaku penembakan jemaah di 2 masjid di kota Christchurch. Seorang pelaku diketahui merupakan warga negara Australia bernama Brenton Tarrant.
Pada Kamis malam (14/3), Tarrant sempat menulis ultimatum bahwa dia akan membunuh orang-orang pada Jumat (15/3).
"Aku akan menyerang melawan para penjajah dan akan menyiarkannya secara langsung via Facebook," tulis Tarrant sebagaimana dilansir The Sydney Morning Herald.
Perkataan Tarrant pun dibuktikan dengan tindakan. Dia mem-posting video di media sosial saat melakukan aksi sadisnya menembaki jemaah masjid yang sedang salat Jumat dengan sudut pandang sebagai seorang penembak.
Sebelum melakukan tindakan sadis itu, Tarrant menulis sebuah manifesto bertajuk "The Great Replacement" yang berisi 73 halaman. Dalam manifesto itu ia membuat tulisan yang seakan memiliki format tanya-jawab yang disebarkannya via media sosial. Pria berusia 28 tahun ini sempat menyebut nama sejumlah game di dalamnya, termasuk 'Spyro the Dragon' dan 'Fortnite'.
ADVERTISEMENT
Berikut ini bagian potongan dari tanya-jawab dalam manifestonya tersebut.
"Apakah kau diajari kekerasan dan ekstremisme oleh video games, musik, literatur, dan drama?
"Iya, 'Spryo the Dragon 3' mengajarkan saya etno-nasionalisme. Fortnite mengajarkan saya untuk jadi pembunuh dan ber-floss di atas mayat musuh-musuh saya. Tidak," bunyi tulisan Tarrant.
Kalimat yang ditulis Tarrant di atas bisa diartikan sebagai bantahan. Tindakan brutalnya tersebut tidak terinspirasi dari video game. Hal ini dipertegas dengan adanya kata "No" (Tidak) pada akhir kalimat, yang bisa diartikan sebagai: "Tentu saja tidak".
Dalam manifesto tersebut, Tarrant dengan tegas menyatakan inspirasinya dalam melakukan aksi ini berasal dari Andres Breivik. Hal ini ia ungkap dalam salah satu tanya-jawab dalam manifesto tersebut.
ADVERTISEMENT
"Apakah keyakinanmu terinspirasi dari penyerang lain?"
"Saya membaca tulisan Dylan Roof dan banyak lainnya, tapi satu-satunya inspirasi saya adalah dari 'Knight Justiciar' Breivik," kata Tarrant, yang maksudnya adalah Anders Breivik.
Anders Breivik merupakan pelaku pembunuhan 77 orang dalam aksi pengeboman yang ia lakukan di Oslo, Norwegia, dan kemudian melakukan aksi penembakan. Dalam aksinya itu, Breivik juga mengatakan, serangan itu harus ia lakukan untuk menghentikan 'islamisasi' di Norwegia.
Sebelumnya, media Sydney Morning Herald hanya mengutip sebagian kalimat tersebut, yaitu: "Fortnite mengajarkan saya jadi pembunuh". Potongan kalimat ini memiliki konteks berbeda dengan kalimat penuh dalam dokumen manifesto yang asli, yaitu "menginspirasi".
Fortnite merupakan game online battle royale. Dalam game ini para pemain akan bertarung dalam sebuah arena tanding menggunakan senjata sampai ada orang terakhir yang bertahan.
ADVERTISEMENT
Game besutan Epic Games ini cukup digandrungi anak muda di seluruh dunia namun memicu kekhawatiran orang tua. Fortnite bukan satu-satunya yang digemari, ada game battle royale lainnya yang tenar yaitu Player Unknown Battle Grounds atau PUBG.
Peta lokasi penembakan yang terjadi di Christcurch, Selandia Baru. Foto: Nunki Lasmaria Pangaribuan/kumparan