Gerindra: Salam 2 Jari di Reuni 212 Bukan Kampanye, Aksi Tak Terencana

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani di Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/18). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani di Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/18). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto memberikan orasi di acara aksi reuni 212 di Monas, Minggu (2/12). Saat Prabowo berorasi, beberapa peserta aksi reuni 212 memberikan salam dua jari.

Menanggapi hal itu, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, aksi reuni 212 merupakan acara keagamaan yang diisi dengan zikir, doa dan salawat. Acara juga diisi oleh orasi-orasi dari berbagai politikus, tokoh, serta alim ulama.

Menurutnya, jika ada beberapa peserta yang merespons pembicara dengan isyarat tertentu seperti salam dua jari itu tidak bisa dianggap sebuah pelanggaran kampanye. Sebab, isyarat tersebut muncul tanpa perencanaan dari panitia. Dia menilai, salam dua jari itu merupakan respons spontanitas dari para peserta aksi reuni 212.

Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, saat berada dalam acara Reuni 212 di Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (2/12/2018). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, saat berada dalam acara Reuni 212 di Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (2/12/2018). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

“Kalau kemudian dari jemaah ada yang memberikan isyarat (salam dua jari) bahwa bisa dianggap sebagai sebuah kampanye, saya kira itu sesuatu yang dilakukan oleh jemaah, yang itu pasti tidak direncanakan oleh panitia mau pun yang dilakukan oleh para pembicara,” jelas Muzani di gedung DPR, Jakarta, Senin (3/12).

“Karena dari awal kita menghindari bahwa kesakralan yang dimaksudkan oleh begitu banyak jemaah untuk menghadiri (kampanye karena) acara tersebut untuk memberikan doa bagi negeri kita tercinta,” imbuhnya.

Gambar dari udara suasana Reuni 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dari udara suasana Reuni 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Muzani juga menepis tudingan terkait aksi reuni 212 sebagai bagian dari kampanye terselubung. Dia mengatakan, peristiwa 212 telah terjadi sejak 2 tahun lalu, sehingga tidak mungkin reuni 212 dianggap sebagai kampanye terselubung.

“Saya kira enggak. Peristiwa itu kan sudah ada dua tahun sebelumnya. Itu tidak (kampanye terselubung). Reuni pun sudah terjadi tahun lalu. Pada peristiwa awalnya kan juga Pak Jokowi datang. Pak Prabowo kan pada peristiwa 212 malah nggak datang,” terangnya.

Menurut Muzani, tudingan yang menyebut aksi reuni 212 sebagai agenda kampanye terselubung merupakan prasangka buruk.

“Saya kira enggak ada (kampanye terselubung). Saya kira ya nggaklah. Lebih prasangka buruklah,” tutupnya.