kumparan
20 Jun 2019 3:21 WIB

Hairul Anas, Caleg PBB yang Jadi Saksi Prabowo-Sandi di Sidang MK

Hairul Anas. Foto: Dok. Istimewa
Mahkamah Konsititusi (MK) masih menggelar sidang gugatan sengketa Pilpres 2019 yang dimohonkan tim hukum Prabowo-Sandi. Persidangan yang digelar hingga Kamis (20/6) dini hari menghadirkan 15 saksi dan 2 ahli.
ADVERTISEMENT
Salah satu saksi yang menyampaikan keterangan kepada hakim dalam persidangan yakni Hairul Anas Suaidi. Sebelum menyampaikan keterangan, Hairul mengaku sebagai caleg dari Partai Bulan Bintang (PBB).
"Jadi saya adalah caleg dari Partai Bulan Bintang yang merupakan pendukung paslon 01, kemudian saya ditugaskan hadir training saksi pada 20-21 Februari di Kelapa Gading, salah satu hotel untuk training TKN dan saya diutus sebagai wakil PBB (ke training)," kata Hairul dalam persidangan, Kamis (20/6).
Meski PBB diketahui merupakan salah satu partai pendukung Jokowi-Ma'ruf, namun Hairul menyebut PBB tidak mempermasalahkan bahwa ia mendukung paslon 02 Prabowo-Sandi.
"Saat itu sebetulnya partai kami secara resmi di 01, kebetulan Pak Yusril Ketumnya, tapi mengizinkan calegnya berbeda pilihan. Enggak masalah, sementara saya mencalonkan di dapil di Madura," ucap Hairul.
ADVERTISEMENT
Dalam keterangannya sebagai saksi, Hairul menceritakan pemaparan yangmengenai kecurangan yang dibawakan dalam pelatihan TKN.
"Saya mendapatkan materi pelatihan 2 hari itu. Di mana ingatan saya juga ada slidenya pertama adalah ada satu slide materi kecurangan bagian dari demokrasi, materi ini diupload ke suatu drive dan ditayangkan pada saat Bapak Moeldoko kalau tidak salah," ujar Hairul.
Menurutnya, dalam materi yang disampaikan itu, banyak materi yang dianggap mengganggu demokrasi. Materi yang dimaksud adalah pengerahan aparat hingga menyebut kecurangan merupakan suatu kewajaran.
"Artinya kita diberikan persepsi ini (kecurangan) diizinkan begitu, tapi ada materi lain yang menurut saya enggak sesuai kaidah demokrasi. Ini pertanyaan besar saya, sebagai caleg bahwa penggunaan aparat untuk kemenangan satu paslon bagi saya enggak sesuai dengan prinsip demokrasi," jelas Hairul.
ADVERTISEMENT
Hal inilah, kata Hairul, yang membuatnya akhirnya memilih paslon Prabowo-Sandi. Pada akhirnya, Anas memutuskan untuk melaporkan apa yang dilihatnya dalam pelatihan TKN tersebut kepada BPN.
"Ini ganggu saya. Pada akhirnya saya bantu 02, sehingga saya konsultasi dengan teman-teman 02. Apakah ini bisa menghentikan perhitungan, kondisi yang carut marut dalam hal penegakan hukum," tutur Hairul.