Keluarga Korban Lion Air: Kalau Penumpang Masih Hidup Namanya Mukjizat

Gedung Maintenance Division Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, yang menjadi posko bencana jatuhnya Lion Air dipenuhi keluarga korban sejak Senin (29/10) siang. Mereka datang untuk memberikan data maupun menunggu kabar nasib keluarga mereka.
Salah satunya, Arni, warga Bekasi Timur. Matanya tampak sembab meski air matanya sudah kering di pipi. Arni datang ke Bandara Halim Perdanakusuma ingin mencari kabar pamannya, salah seorang penumpang Pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di Karawang pagi tadi.

"Saya mau nunggu sampai ada klarifikasi identifikasi korban, katanya nanti malam," terang Arni kepada kumparan, Senin (29/10).
"Iya sampai ada identifikasi," tegasnya.

Tanpa menyebutnya nama pamannya, Arni langsung terkenang saat-saat terkahir pertemuan itu. Saat itu, pamannya sengaja datang ke Jakarta untuk bertemu dengan istri dan anaknya. Tidak biasanya. pegawai BPK itu menambah waktu berkunjung hingga Senin pagi.
"Om saya sering tugas ke mana-mana. Jadi tinggal di Bangka sendiri, keluarga yang di Jakarta. Kemarin nyempetin pulang agak lama, ketemu anak-anaknya sampai Senin, (niatnya) biar di Senin langsung kerja," tutur perempuan 43 tahun itu.

Dia memang datang ke posko Halim tak bersama dengan istri atau anak dari korban. Tantenya itu sudah lemas karena terus menerus menangis setelah mendapat kabar pesawat yang ditumpangi pamannya itu jatuh di Tanjung Karawang.
"Saya yang ke sini, tante saya enggak kuat nangis terus. Sebelumnya Om saya main ke rumah sama tante (istrinya) dan dua anaknya, kita enggak ada perasaan enggak enak saat, om pergi," ungkapnya.
Meski telah mendapat kabar seluruh korban pesawat meninggal dunia, ia tak menampik tetap berharap pamannya ditemukan dengan selamat.
"Kalau ditemukan selamat (masih hidup) syukur alhamdulillah mukzizat itu. Kalau pun meninggal semoga jenazahnya semoga bisa ditemukan," harapnya.

