Ketua DPRD Jateng Nilai Pin Kuningan Lebih Baik Daripada Emas

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPRD Jawa Tengah 2014-2019, Rukma Setyabudi. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPRD Jawa Tengah 2014-2019, Rukma Setyabudi. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Pin emas untuk anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024 menjadi sorotan publik. Ketua DPRD Jawa Tengah periode 2014-2019, Rukma Setiabudi, menganggap penggunaan pin emas itu tak perlu diterapkan di Jateng.

Dia menilai pin hanya sebuah simbol bahwa yang mengenakannya adalah anggota dewan. Bagi Rukma, yang harus diingat adalah tanggung jawab orang yang mengenakan pin itu.

"Kalaupun cukup dengan seperti ini (pin kuningan), yang penting adalah tanggung jawab dan kewajiban yang ada di dalamnya, itu kan hanya simbol," kata Rukma usai acara talkshow bertema 'Transformasi Parlemen Modern' di Gets Hotel, Kota Semarang, Senin (2/8).

Dia mengungkapkan calon anggota DPRD Jateng 2019-2024 yang akan dilantik hari ini tak ada yang mengusulkan pin emas. Menurutnya, paling penting bagi anggota DPRD adalah kinerja bukan simbolisasi.

"Anggaran juga tidak ada yang usul, yang penting kan kinerja kita daripada sekadar simbol," tegas politikus PDIP tersebut.

Pin Emas Tanda Pengenal Amggota DPRD DKI yang di Tolak PSI. Foto: Dok. Istimewa

Dia menilai penggunaan pin kuningan lebih baik daripada pin emas. Alasannya, pengadaan pin kuningan tak memakan anggaran besar sehingga lebih hemat dan efisien.

"Kalau anggarannya berlebih, ya, monggo saja, tapi kalau saya lebih ada untuk efektif dan efisien, (anggaran) bisa untuk yang lain," kata Rukma.

Rukma yang pada periode selanjutnya tak lagi menjabat sebagai anggota DPRD Jateng berharap para anggota dewan terpilih untuk menjadikan parlemen lebih baik.

Ia juga mengingatkan kepada anggota dewan agar tidak merasa lebih hebat dan merasa harus dilayani oleh rakyat. Anggota dewan, kata dia, harusnya yang melayani dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Harus terus berkembang dan bisa menjadikan parlemen kita adalah parlemen yang modern, artinya terbuka partisipatif dan akuntabel," ujarnya.