kumparan
22 Nov 2017 16:25 WIB

Masa Depan Milenial dalam Dunia Kerja

Ilustrasi kantor google (Foto: Reuters/Baz Ratner)
Larry dan Brin, begitu orang-orang memanggilnya. Mereka adalah dua sekawan yang mendirikan salah satu perusahaan yang dikenal “luar biasa” semenjak pertama berdiri pada 1998 hingga sekarang. Perusahaan itu bernama Google.
ADVERTISEMENT
Di saat banyak perusahaan masih terpaku dengan aturan, seperti jam kerja, pakaian formal, ruang kerja terkotak-kotak hingga pola komunikasi atasan-bawahan yang sangat jomplang, Larry dan Brin memilih membuat terobosan budaya kerja perusahaan yang tidak biasa.
Tidak ada kemeja, tidak ada sepatu kinclong, jam masuk dan pulang fleksibel, rapat online, perbincangan di kedai kopi, kantor bernuansa rumah yang nyaman, makanan serta pijat gratis hingga kebebasan yang diberikan karyawan untuk mengeksplor minat dan bakatnya sendiri. Begitulah cara Google bekerja bersama para milenial.  
Menurut studi PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam Millenials at Work: Reshaping the Workplace dikatakan bahwa “kiblat” masa depan dunia kerja milenial, salah satunya adalah Google. Disebutkan juga dalam studi itu, bahwa Google merupakan perusahaan yang sukses menarik milenial berbakat dari seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Alih-alih banyak menuntut target, perusahaan kenamaan itu lebih fokus pada penyiapan budaya, gaya pendekatan perekrutan, dan gaya manajemen yang secara alami menarik bagi para milenial.
Milenial. (Foto: flickr/@StateFarm)
Lalu, apakah milenial itu? Mengapa kemudian dunia kerja saat ini perlu mempertimbangkan keberadaan para milenial?
Milenial merupakan generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980 hingga 2000. Meski, beberapa versi menyebutkan berbeda namun yang pasti generasi millenial lahir setelah hadirnya internet.
Di Amerika Serikat, ada sekitar 73 juta millenial lahir antara tahun 1980 hingga 1996. Seperti pada setiap generasi sebelumnya, milenial kian tumbuh hingga memasuki fase yang disebut angkatan kerja produktif.
Para milenial kini telah membentuk 25 persen dari angkatan kerja di AS yang mencakup lebih dari setengah dari populasi India. Pada tahun 2020, milenial diprediksi akan mampu membentuk 50 persen angkatan kerja secara global.
ADVERTISEMENT
Artinya, estafet kepemimpinan di dunia kerja akan segera beralih ke tangan para milenial. Imbasnya beragam, mulai dari beralihnya budaya kerja, etos kerja, hingga orientasi kerja para milenial dibandingkan generasi sebelumnya. Maka, sebuah sistem cara kerja baru akan terbentuk atau dapat dikatakan sebagai reshaping workplace.
Kelahiran milenial disambut dengan perkembangan internet yang kian pesat. Itulah yang kemudian menjadikan milenial lebih akrab dengan beragam kemajuan teknologi yang tidak dicicipi oleh generasi sebelumnya. Milenial tumbuh dengan smartphone, laptop, hingga media sosial yang memungkinkan akses informasi dan komunikasi secara cepat.
Fenomena milenial yang telah akrab dengan internet itupun terjadi di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet (APJII) menemukan fakta bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet.
ADVERTISEMENT
Survei pada sepanjang tahun 2016, mengungkap 132,7 juta dari total penduduk 256,2 juta telah terpapar internet. Angka tersebut, mengalami kenaikan yang cukup signifikan disbanding pada 2014. Yaitu berkisar antara 88 juta pengguna internet di Indonesia atau sekitar naik 51,8 persen.
PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam survei yang dituangkan dalam Millenials at Work: Reshaping the Workplace membeberkan secara gamblang bagaimana milenial bekerja dan akan membentuk dunia kerjanya di masa depan.
Survei ini berangkat dari asumsi bahwa teknologi dapat berdampak pada perilaku khas yang dibentuk milenial. PwC mengemukakan bahwa pengalaman milenial yang telah melalui krisis ekonomi global juga akan berdampak pada penekanan kebutuhan pribadi dibandingkan organisasi. Milenial juga cenderung bersifat kompromi dalam menangkap setiap peluang yang ada.
ADVERTISEMENT
Milenial dinilai sebagai generasi yang tidak nyaman dengan hierarki atau struktur perusahaan yang kaku dan mematikan kreativitas. Sebaliknya, milenial mengharapkan kemajuan yang cepat, karier yang bervariasi, dan adanya umpan balik yang konstan.
Dengan kata lain, milenial menginginkan gaya manajemen dan budaya kerja yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu, milenial juga ambisius dan memiliki tujuan yang jelas.
Kedekatan Generasi Milenial dengan Teknologi (Foto: rawpixel)
Karakteristik Kerja ala Milenial
Studi PwC mengungkapkan bahwa 72 persen milenial melakukan kompromi sebelum memulai kerja. Sebanyak 38 persen milenial memilih untuk berpindah-pindah tempat kerja, 43 persen terbuka terhadap penawaran baru, dan hanya 18 persen yang berharap bekerja di satu perusahaan dalam rentang waktu lama.
Pengembangan dan keseimbangan hidup lebih penting dibanding penghargaan finansial bagi milenial. Termasuk juga terkait orientasi tujuan yang dipegang teguh oleh milenial. Mereka akan lebih sering mempertanyakan,“Mengapa saya ada di sini?”.
ADVERTISEMENT
Sebanyak 41 persen milenial mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk berkomunikasi secara elektronik di tempat kerja daripada tatap muka atau melalui telepon. Namun, teknologi sekaligus pola komunikasi ini kerap menjadi penyebab konflik antargenerasi di tempat kerja. Hal tersebut membuat milenial merasa ditahan oleh gaya yang kaku atau ketinggalan zaman.
Milenial yang memiliki mobilitas tinggi menginginkan agenda tugas ke luar negeri lebih sering dibanding generasi sebelumnya. Milenial mengharapkan terbentuknya ekosistem teknologi tempat kerja mencakup jejaring sosial, pesan instan, video-on-demand, blog dan wiki. Alat sosial itulah yang menurut mereka memungkinkan semuanya terhubung, terlibat, dan terkolaborasi untuk produktivitas yang lebih baik.
Tak banyak berbeda dengan generasi sebelumnya, milenial juga mengharapkan kenaikan jenjang karir yang cepat (52 persen). Brand perusahaan yang mereka kagumi menarik dan menjadi pertimbangan bagi para milenial. Pada 2008, sebanyak 88 persen memilih pindah kerja ke tempat yang lebih membanggakan dan 86 persen mempertimbangkan untuk melakukan itu.
ADVERTISEMENT
Kesejahteraan kerja dan kehidupan mapan juga menjadi hal yang sejatinya didamba milenial. Sebanyak 95 persen responden mengatakan keseimbangan kerja dan hidup penting bagi mereka, 70 persen mengatakan sangat penting.
com-Kesaing Milenial Lain (Foto: Thinkstock)
Menyongsong Masa depan
Masa depan kerja  yang dikendalikan milenial sudah di depan mata. Maka, tidak ada cara lain kecuali menghadapinya. Terlepas dari beragam stigma yang melekat pada milenial, apa yang menjadi potensi milenial dapat dimaksimalkan.
Bagaimana cara milenial agar tepat membentuk masa depan kerjanya? Selengkapnya, kumparan akan merangkumnya dari thenextweb untukmu:
1.      Mengolaborasikan teknologi
Teknologi menjadi kunci bagi milenial dalam menunjang masa depan kerjanya. Milenial adalah generasi yang sedang “bergerak” dan tumbuh dikelilingi oleh teknologi yang berperan besar memfasilitasi hidup mereka.
ADVERTISEMENT
Sehinga, komunikasi jarak jauh dan teknologi kolaboratif menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan pada Milenial. Misalnya, Skype atau GoToMeeting untuk pertemuan online serta Google Docs untuk membagikan hasil kerja kepada banyak orang dan sebagainya.
Jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Gallup menemukan 43 persen milenial Amerika yang dipekerjakan menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan dari jarak jauh melalui teknologi sepanjang 2016.
Sementara survei FlexJobs tahun 2016 mengemukakan bahwa sepertiga milenial meninggalkan pekerjaan lama hanya karena perusahaan tidak menawarkan fleksibilitas kerja yang cukup dalam pemanfaatan teknologi.
2.      Memberi kesempatan mobilitas yang tinggi dan produktif
Studi menunjukkan bahwa para milenial menyukai pengalaman mengenai banyak hal baru. Statistika contohnya memaparkan bahwa 47 persen milenial lebih suka menghabiskan uang untuk bepergian daripada membeli rumah atau fasilitas mentereng seperti yang disukai generasi sebelumnya. Pola pikir serupa dapat diterjemahkan pimpinan di tempat kerja.  
ADVERTISEMENT
Menurut survei MMGY Global’s 2016 tentang pelancong Amerika menemukan bahwa 81 persen milenial benar-benar mengaitkan perjalanan bisnis dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, terlepas dari efek negatifnya dengan hubungan keluarga. Hasilnya, perjalanan bisnis yang diambil milenial akan lebih banyak rata-rata 7,7 persen pertahun dibandingkan generasi sebelumnya.
Bagi milenial, perjalanan bisnis merupakan hadiah dan investasi yang cerdas untuk meningkatkan produktivitas kerja. Hal itu didukung oleh survei dari TINYpulse, pekerja yang melakukan perjalanan bisnis akan merasa jauh lebih bahagia, dihargai, dan lebih produktif dari pekerja rata-rata.
3.      Memprioritaskan tanggung jawab sosial
Menjadi milenial yang dimanjakan dengan teknologi tidak berarti membuat mereka antisosial. Serupa dengan keinginan milenial untuk menikmati kualitas hidup yang baik, mereka juga ingin memastikan hal yang sama bagi orang lain. Hal itu dibuktikan dengan ketertarikan milenial terhadap tanggung jawab sosial.
ADVERTISEMENT
Menurut Cone Communication pada 2015, sembilan dari sepuluh milenial mengganti merek produk yang mereka gunakan terkait dengan isu-isu sosial yang mereka pedulikan.
Dari hal tersebut kemudian lahir beberapa jenis kegiatan yang fokus pada masalah sosial dan melibatkan milenial. Salah satunya adalah Green Apple, sekolah alam bagi anak-anak yang memberikan pelatihan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
Mereka memberdayakan kaum minoritas dengan membuka akses pendidikan yang lebih mudah. Green Apple STEM juga mendukung organisasi amal di Chile, Kolombia, dan Puerto Riko. Semua itu berawal dari  kepedulian milenial terhadap isu-isu sosial.
Hai kamu para milenial, sudah siap dengan masa depan kerjamu?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan