Pencarian populer

Masjid Jami Matraman, Tempat Sukarno Tenangkan Diri setelah Proklamasi

Suasana Masjid Jami Matraman (Foto: Apriliandika Hendra/kumparan)

Bagi sebagian orang, nama Masjid Jami Matraman terdengar asing di telinga mereka. Namun hal itu tak berlaku bagi orang yang memahami betul seluk beluk masjid bercat putih itu.

Sebut saja Haji Samsudin, pria 63 tahun yang berprofesi sebagai Ketua Marbot dan Ketua kebersihan dari Masjid Jami Matraman. Ia memang tak menampik masjid ini tak memiliki bukti tertulis mengenai siapa pendiri masjid ini serta kapan tepatnya masjid ini didirikan.

Namun, menurut pria yang karib disapa Haji Udin itu, masjid ini sudah eksis sejak Kerajaan Mataram. Menurutnya selain sebagai tempat ibadah, orang Mataram konon dulu juga menggunakan sebagai tempat untuk mengintai pergerakan pasukan Belanda yang acapkali melewati Sungai Ciliwung yang mengalir tepat di depan Masjid Jami Matraman.

"Memang sejarahnya masjid ini sudah ada dari Kerajaan Mataram di sini. Dulu kan di samping sini kan Kali Ciliwung, pusat transportasi di zaman Belanda, tujuannya kan Ciliwung itu sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan besar waktu itu. Nah, Mataram itu bikin ini itu istilahnya untuk mencegat Belanda di sini," ujar Haji Udin saat berbincang dengan kumparan, Jumat (1/6).

Suasana Masjid Jami Matraman (Foto: Apriliandika Hendra/kumparan)

Meski ia menyebut tak ada bukti tertulis yang dapat memberikan informasi terkait masji itu, namun Haji Udin menyebut masjid masih menyimpan beberapa pernak-pernik yang digunakan sejak masjid itu ada.

Salah satunya yaitu papan kayu yang saat itu digunakan sebagai penunjuk jam salat. Ia mengatakan bahwa papan itu telah ada sejak masjid ini berdiri dulu. Di papan itu bahkan tertulis tahun 1932 yang semakin mensahihkan fakta bahwa memang masjid ini sudah berdiri lama.

"Ini sih dibangunnya atau direnovasinya setelah kemerdekaan katanya, jadi dulu bangunannya belum begini. Kalau berdiri pun enggak begitu jelas tanggalnya cuma kita punya barang yaitu alat penunjuk jam salat yang menunjukkan tahun saat itu yaitu 1932, ya kita pikir mungkin antara tahun itu lah," tuturnya.

Suasana Masjid Jami Matraman (Foto: Apriliandika Hendra/kumparan)

Itu baru sejarah awal yang menurut Haji Udin menjadi asal muasal dari didirikannya masjid ini. Menurutnya, ada pula sejarah yang mengatakan bahwa masjid ini pernah digunakan oleh mantan Presiden ke-1 Indonesia, Ir Sukarno sebagai tempat ibadah salat Jumat saat itu.

Haji Udin menceritakan, Soekarno melaksanakan ibadah salat Jumat kala itu usai dirinya membacakan naskah proklamasi tepatnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

"Memang dari sini ke sana ke Pegangsaan Timur itu enggak jauh, ya sekitar 150 meterlah. Dulu kan kelihatan jelas," ucap Haji Udin.

Konferensi Pers Sukarno-Hatta Pasca-Proklamasi (Foto: kitlv.nl)

Kendati demikian, ia menuturkan sempat ada simpang siur mengenai informasi itu. Menurutnya ada versi yang mengatakan Sukarno sempat singgah untuk salat Jumat di masjid itu, namun ada pula yang mengatakan Sukarno tak sempat ke masjid karena kurang sehat.

"Memang ada simpang siur. Memang kebetulan kan dulu proklamasi hari Jumat. Simpang siurnya itu ada yang bilang beliau waktu itu langsung salat di sini, ada yang bilang juga beliau enggak sempet karena sakit sedikit entah itu pusing atau apa. Ada dua versilah," ungkapnya.

Namun bagi Haji Udin, dia meyakini bahwa dulu usai naskah proklamasi dibacakan, banyak orang berkumpul dari seluruh penjuru Jabotabek untuk beribadah di masjid itu, termasuk Sukarno dan Mohammad Hatta. Karena hal itulah banyak orang dulu menyebut masjid yang terletak di Jalan Matraman Dalam ini sebagai Masjid Bung Karno.

Suasana Masjid Jami Matraman (Foto: Apriliandika Hendra/kumparan)

"Makanya orang dulu bilangnya ini masjid Bung Karno, karena beliau kebanyakan ya ngobrol di sini kalau ada senggang. Ya biasalah zaman dulu kalau ada waktu senggang abis sholat ya mungkin ada yang dibicarain makanya orang dulu bilangnya ini Masjid Bung Karno," tutur pria 63 tahun itu.

Tak hanya berbincang mengenai sejarah dari berdirinya masjid, kumparan berkesempatan untuk diajak berkeliling masjid untuk sekadar melihat arsitektur masjid. Ditanya mengenai kondisi masjid saat ini, Haji Udin pun menyebut memang kini kondisinya kurang begitu baik.

Hal itu terlihat dari mulai lusuhnya sejumlah bagian masjid serta banyaknya atap dari masjid yang bocor. "Ya ini banyak yang bocor-bocor sih sebetulnya, karena memang bangunannya bangunan tua, jadi banyak yang perlu diperbaiki," kata Haji Udin.

Namun, dengan bergantung pada sumbangan sejumlah donatur dan kas yang dimiliki, masjid ini sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan misalnya dari segi cat atau warna bangunan.

Suasana Masjid Jami Matraman (Foto: Apriliandika Hendra/kumparan)

"Ya beberapa bagian kita perbaiki juga termasuk bagian luar juga. Kalau yang di luar sendiri juga masih asli seperti tiang atasnya yang sampai sekarang masih kita manfaatin sebagai toren air. Selebihnya ya tambahan, seperti gerbangnya juga tambahan itu," jelasnya.

Beberapa bagian masjid, menurut Udin, juga terbilang bangunan baru. Renovasi dilakukan dimaksudkan agar nantinya selain sebagai tempat ibadah, masjid juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran Islam.

"Kalau ini sih tetep dari dulu begini aja, tapi untuk serambi sama lantai atas memang tambahan, karena selain buat nampung lebih banyak jemaah, tapi juga karena di atas kita bikin sekolah SD Islam. Sama cat-cat di luar juga paling, jendela ini asli, tiang ini asli, ya beberapa bagian asli cuma ya kita percantik sedikit," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60