kumparan
18 Apr 2019 11:29 WIB

Meredam Depresi di Pesantren setelah Kalah Pemilu

Konten Spesial: Depresi Usai Kalah Pemilu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan dan Putri Sarah Arifira/kumparan
Teriakan histeris membangunkan Saefudin (55) pada suatu malam. Suara itu berasal dari tiga bilik kecil persis di samping rumahnya. Di sana, seorang laki-laki berusia antara 40-50 tahun mengamuk. “Dia sudah stres, otomatis ibarat orang kesurupan,” kata Saefudin kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Ia tengah mengenang masa saat Pondok Pesantren Bhakti Nugraha Islami asuhannya di Tenjolaya, Kabupaten Bogor, menampung calon anggota legislatif yang stres akibat kalah pemilu. Tak cuma berteriak histeris, lain waktu para caleg stres itu membuat onar.
Pondok Pesantren Bhakti Nugraha Islami, Tenjolaya, Kab. Bogor. Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan
Mereka mengamuk dan menyerang orang-orang di sekitar. Bila sudah begitu, lagi-lagi Saefudin harus turun tangan. Kadang kala, dia butuh bantuan lima orang santri untuk menenangkan caleg yang stres.
“Kadang-kadang kayak main silat. Iya kelabakan. Kayak berantem kan,” kenangnya. “Kita zikirin, kita masukkan ke kolam (supaya tenang).”
Saefudin Zuhri, Pemilik Pondok Pesantren Bhakti Nugraha Islami, Tenjolaya, Kab. Bogor. Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan
Setelah Pemilu 2009, para caleg yang gagal lolos datang ke Ponpes Bhakti Nugraha Islami secara bergelombang. Entah dari mana kabar pesantrennya menangani caleg stres beredar. Seingat Saefudin, ia cuma pernah memberi pelatihan penanganan gangguan mental dalam perspektif Islam di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada medio 1999.
ADVERTISEMENT
Sejak saat itu, orang-orang sering datang ke rumahnya untuk berkonsultasi masalah kejiwaan. Saefudin menduga, metodenya menyebar dari mulut ke mulut. Tetapi, apa yang terjadi pascapemilu 2009 benar-benar membuat Saefudin terkejut.
Kalau dihitung, menurut dia, sekitar 150-an caleg stres datang ke tempatnya. Biasanya, mereka dibawa pihak keluarga. Asal caleg stres ini dari berbagai tempat, seperti Banten, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Ada pula yang datang dari luar Jawa, semisal Lampung, Kalimantan, hingga Aceh.
Kolam tempat para mantan caleg dimandikan di Ponpes Bhakti Nugraha Islami, Tenjolaya, Kab. Bogor. Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan
Saefudin menangani para caleg stres dengan pendekatan religius. Pasien akan diminta banyak beribadah dan berzikir. Di sela-sela ibadah, Saefudin mengingatkan para caleg tentang tujuan dan bagaimana mencapai ketenangan hidup.
Dalam beberapa kasus, Saefudin salat istikharah untuk mengetahui musabab stresnya sang caleg. Sebab, menurutnya, mereka bisa saja kemasukan jin sehingga sulit sembuh. Saefudin menggabungkan pendekatan itu dengan metode medis.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Saefudin berkonsultasi dengan ahli psikologi yang dikenalnya. Seingatnya, ada caleg yang sudah sampai pada taraf gila. “Itu kita harus pendekatan kepada dokter psikologi juga. Ke mana, ke (rumah sakit) Grogol. Saya banyak kenal (dokter di sana). Baru sembuh,” ungkap Saefudin.
Dari pengalamannya, umumnya para caleg stres karena mimpi menjadi anggota legilastif tak tercapai. Sementara, mereka habis-habisan keluar modal untuk kampanye. “Ini juga karena banyak yang mengeluarkan uang untuk jadi caleg. Ada yang Rp 2 miliar , ada yang Rp 1 miliar,” kata lulusan UIN Bandung ini.
Bahkan ada caleg yang berusaha bunuh diri karena punya utang ratusan juta rupiah untuk modal kampanye. Seorang caleg lain berusaha membunuh orang lantaran tertipu dijanjikan akan memperoleh jabatan dengan mengeluarkan banyak uang. “Ternyata orangnya mengkhianati. Akhirnya ada dendam kesumat,” tutur Saefudin.
Suasana di Pondok Pesantren Bhakti Nugraha Islami, Tenjolaya, Kab. Bogor. Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan
Yang bikin dia repot bila ada caleg stres parah yang lepas. Mereka akan lari ke permukiman warga. Hal ini membuat penduduk sekitar ponpes ketakutan. Saefudin juga mendapat keluhan dari santri perempuan di ponpesnya resah dengan keberadaan caleg stres. Terlebih, mereka umumnya menginap dalam waktu lama, hingga 40 hari.
ADVERTISEMENT
Pengalaman itu membuat Saefudin kapok. Pascapemilu 2014, ia tak mau lagi membuka penampungan bagi caleg stres. Sebagai gantinya, Saefudin yang datang ke rumah caleg stres bila ada permintaan. Itu pun, kata dia, hanya melayani pasien yang lokasinya tak jauh dari Bogor.
Masjid di Pondok Pesantren Bhakti Nugraha Islami, Tenjolaya, Kab. Bogor. Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan
Pengalaman kebanjiran caleg stres tak cuma dialami Saefudin. Pengasuh Padepokan Antigalau di Cirebon, Jawa Barat, Ujang Bustomi, juga punya cerita serupa. Bedanya, ia tak kapok. Pademokan Ujang memang spesialis menangani kasus gangguan kejiwaan. “Sekarang kalau ada caleg stres pun kita siap terima,” katanya kepada kumparan.
Pascapemilu 2009, Ujang menangani 60-an caleg stres yang berasal dari Jakarta, Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa. Namun, jumlahnya berkurang sedikit pascapemilu 2014. “Saya kira mereka malu kayaknya, soalnya padepokan ini sering diekspose media,” terka Ujang.
ADVERTISEMENT
Dia pernah menangani beragam caleg stres, mulai dari yang hanya bicara meracau hingga lari-lari tanpa pakaian. Latar belakang stresnya beragam, mulai dari terlilit utang sampai ada yang ‘dikerjai’ tim sukses hingga keluar banyak uang.
Ilustrasi penderita sakit jiwa. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Para caleg ini pun datang dari semua jenjang pemilihan, DPRD tingkat I, DPRD tingkat II, bahkan DPR RI. “Kita obatin dengan cara spiritual, tidak ada cara medis. Dengan metode rukyah, dengan metode mandi, yang terutama lagi dengan doa-doa kita kepada Allah,” papar Ujang.
Mereka akan diinapkan di padepokan selama sebulan. Setelah itu, caleg stres akan dipulangkan. Bila belum sembuh, penanganannya berlanjut dengan berobat jalan. Meski diakuinya, dalam kasus caleg stres yang sudah parah hal itu menyulitkan.
ADVERTISEMENT
Ada saja caleg stres yang belum sembuh meski berobat jalan setahun lebih. “Kalau kelamaan rasanya mau saya ceburin aja ke laut,” kata Ujang berkelakar.
Simak ulasan kumparan selengkapnya di topik caleg stres.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan