Pencarian populer

Waspada Caleg Stres Usai Pemilu

Konten Spesial: Depresi Usai Kalah Pemilu. Foto: Rangga Sanjaya/kumparan

Kabar pilu itu datang dari Kecamatan Koto X Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pertengahan Februari lalu. Seorang caleg perempuan yang diduga depresi mengakhiri hidup dengan menggantung diri.

Korban, menurut polisi, sempat cekcok dengan suaminya karena masalah ekonomi terkait pencalegan. Persoalan itu diduga sudah berlangsung lama sejak si caleg resmi berlaga di Pemilu 2019.

"Gantung diri akibat depresi, kita sudah autopsi kok," ujar Kapolsek Koto X Tarusan, Iptu Thamrin, saat di konfirmasi, Rabu (13/2) lalu.

Kejadian itu merupakan salah satu kasus ekstrem dampak dari tekanan yang dihadapi caleg. Sejak 2009 lalu, saat pertama kalinya Indonesia menggelar pemilihan calon anggota legislatif secara langsung, muncul pula fenomena caleg stres.

Pasalnya, mekanisme pemilihan langsung membuat kompetisi antarcaleg lebih terbuka. Mereka harus berlomba-lomba menggaet hati pemilih. Tak hanya bertarung dengan caleg dari partai lain, persaingan antarcaleg separtai pun tak terelakan. Para caleg harus mengeluarkan modal besar di tengah politik berbiaya tinggi tanpa jaminan akan terpilih.

Ilustrasi Uang dan DPR Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan

Sejumlah penelitian menyebut, Pemilu 2009 menyebabkan 7 ribuan caleg stres karena gagal lolos. Pada pemilu 2014 tak ada data jumlah caleg stres yang bisa dirujuk, tetapi dari sejumlah pemberitaan tercatat fenomena yang sama terulang.

Pemilu 2019 yang baru digelar kemarin, Rabu (17/4), bukan tak mungkin juga kembali ‘memakan korban.’ salah satu tolok ukurnya, lebih sengitnya persaingan kali ini. Data KPU menunjukkan ada 245.106 caleg berlaga di Pemilu 2019.

Mereka akan berburu kursi yang tersedia, baik di tingkat DPRD tingkat II (17.620 kursi), DPRD tingkat I (2.207), dan DPR RI (575). Mendapat suara untuk memperoleh satu kursi pun belum cukup. Caleg-caleg juga harus memastikan suara partainya lolos ambang batas parlemen yang mencapai empat persen.

Belum lagi, penyelenggaraan pemilu anggota legislatif kali ini berbarengan dengan pemilihan presiden. Alhasil, beban para caleg juga bertambah. Hal itu bisa dipotret dari pengakuan seorang psikolog yang berpraktik di Jakarta.

Jauh hari sebelum Pemilu 2019 digelar, beberapa nama caleg sudah masuk daftar tunggu pasiennya. “Biasanya yang datang keluarganya, untuk antispasi kalau kalah,” ungkap psikolog itu kepada kumparan. Karena alasan kepercayaan dengan klien, dia enggan mengungkap identitasnya.

Konten Spesial: Depresi Usai Kalah Pemilu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Pengalaman politikus Nova Riyanti Yusuf bisa memberi gambaran bagaimana beratnya tekanan seorang caleg. Ia pernah dua kali maju menjadi caleg. Pada 2009, Noriyu, begitu sapaan akrabnya, lolos ke Senayan lewat dapil DKI.

Sementara, saat maju kembali lewat Dapil Jawa Timur, dia gagal lolos pada 2014. Meski belakangan, salah satu inisiator Undang-undang Kesehatan Jiwa ini masuk menjadi anggota DPR periode 2014-2019 melalui mekanisme pergantian antarwaktu.

Noriyu menuturkan, kampanye tak cuma membutuhkan modal besar. Masa-masa itu juga menguras kondisi fisik caleg. Dari pengalamannya, setiap hari dia harus menempuh lima titik kampanye, yang kebanyakan ditempuh melalui jalur darat. Ditambah, Noriyu harus sering bolak balik Jakarta-Jawa Timur selama masa kampanye

Beberapa kali dia tumbang dan harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, yang paling menyita energi justru bukan masalah fisik. Intrik-intrik politik juga membuatnya terpukul. Caleg harus mengerahkan sumber daya untuk mengawal dapil nyaris 24 jam.

Urusannya, kata Noriyu, dari persiapan kampanye hingga mengamankan alat peraga agar tak dicopot orang. Belum lagi strategi meredam kampanye hitam yang diembuskan lawan. “Kita enggak bisa ngapa-ngapain udah. Segala sesuatu bisa terjadi,” ujarnya.

Pencetakan Alat Peraga Kampanye (APK) butuh biaya yang besar. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Masalah pun belum juga habis hingga di hari pencoblosan. Pada hari pencoblosan suara, misalnya, beredar isu tim suksesnya melakukan kecurangan dengan mencoblos surat suara sebelum TPS dibuka.

“Saya sudah mengantisipasi keletihan fisik, mental yang saya tidak pernah antisipasi adalah politik itu kebangetan,” katanya.

Singkatnya, dia gagal lolos ke Senayan, dengan selisih 2 ribuan suara dari yang ditargetkan untuk mendapat jatah kursi di DPR. ”Begitu kejadian itu saya capek, saya syok, saya lelah.”

Ilustrasi depresi Foto: Pixabay

Akumulasi semua kesibukan caleg selama berbulan-bulan dan kegagalanya, menurut perempuan yang berlatar belakang pendidikan psilologi ini, bisa memicu stres. Perbedaannya terletak pada tingkat toleransi masing-masing orang dalam menghadapi tekanan. Itu sebabnya, setiap orang bisa merespons stres dengan cara yang berbeda.

“Mungkin waktu itu saya cepat memaafkan diri saya sendiri. Saya bukan orang gagal di situ ini bukan kegagalan saya gitu,” Noriyu menjelaskan. “Akhirnya ada hal-hal di luar kendali saya, artinya saya capek marah kesal pasti ada tapi setiap emosi itu muncul saya pikirkan alternatif.”

Tantangan menjadi caleg, menurut dia, akan lebih besar bila maju sebagai pendatang baru. Si caleg harus terjun di belantara dunia politik yang belum bisa dia ukur pasti. Belum lagi persoalan modal besar yang harus disiapkan.

Hal ini dialami seorang caleg DPRD di Jawa Tengah. Sebut saja namanya Edwin yang mengalami masa kelam pada Pemilu 2014.Tak cuma gagal menjadi anggota legislatif, dia juga terlilit utang ratusan juta rupiah.

“Dulu saya gagal (Pemilu 2014), tapi andaikan saya jadi pun utangnya pasti banyak,” ucap Edwin. Selama beberapa bulan dia sempat stres sampai datang ke Jakarta. Barulah setelah mendapat bantuan dari kerabatnya, Edwin bangkit dan kini kembali maju menjadi caleg.

llustrasi Tagihan Utang Foto: Shutterstock

Pemicu stres pada caleg yang gagal, menurut psikolog klinis Adi Chandra, umumnya berpangkal pada tingginya ekspektasi terhadap hasil pemilu. Pendorongnya bisa berasal dari dalam maupun luar individu, seperti keluarga, pimpinan partai, maupun kerabat. Bila tak bisa dikelola, ekspektasi akan berubah memicu stres.

“Itu akan mempengaruhi keadaan mental seseorang. Kecewa, amarah, anger, stres jadi satu akhirnya mempengaruhi capacity mental mereka,” urai Adi.

Yang pasti, tak ada faktor tunggal penyebab stres pada caleg gagal. Seorang psikolog lain pernah punya kasus caleg yang stres karena masalah internal keluarga. Awalnya, si caleg maju tanpa persetujuan keluarga.

Sejumlah aset dijual untuk modal kampanye, tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. “Ketika kalah dia tak punya tempat kembali (ke keluarga) karena malu,” ujar psikolog itu.

Ilustrasi penderita sakit jiwa. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Direktur Utama Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, dr. Laurentius Panggabean mengatakan stres pada caleg sebenarnya tak berbeda dengan stres karena penyebab lain. “Obatnya juga sama kok, diagnosis sama, tenaganya sama. Cuma penyebabnya berbeda,” ungkapnya.

“Bahwa dia terganggu jiwanya mungkin iya. Tidak bisa tidur, tidak doyan makan, atau marah-marah. Tapi kan itu gangguan jiwa yang bisa self-healing atau sembuh sendiri,” Lauren menambahkan.

Antisipasi

Kemungkinan munculnya caleg stres pasca-Pemilu 2019 sudah diantisipasi pemerintah. Sejumlah daerah menyiagakan unit layanan kesehatannya, bahkan beberapa khusus menyediakan ruangan bagi caleg yang stres.

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung, misalnya, punya ruangan khusus bagi para caleg yang mengalami stres. Ruangan tersebut terdiri dari 39-40 tempat tidur yang dibuat terpisah dari ruangan yang lain.

"Ruangannya dibuat terpisah karena para caleg tersebut tidak langsung mengalami gangguan jiwa, tapi prosesnya bertahap," jelas Direktur RSJ Provinsi Lampung Ansyori, Selasa (16/4).

Demikian pula dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba yang menyediakan dua ruangan khusus bagi pasien stres pasca-Pemilihan Umum 2019.

"Kami habis rapat rutin dengan manajemen dan keputusannya, jika ada yang gagal dan stres kami siap menampung, dua kamar kami siapkan untuk mereka," ujar SubBagian Hubungan Masyarakat dan Promosi kesehatan RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba, Mala, Selasa (16/4).

Seorang perawat merapihkan tempat tidur ruangan inap rumah sakit jiwa Mahoni Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/1). Foto: Antara/Septianda Perdana

Provinsi penyumbang jumlah caleg terbanyak di Pemilu 2019, DKI Jakarta juga tak ketinggalan. Tercatat ada 3.732 orang caleg yang berasal dari DKI Jakarta. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengatakan ada 16 rumah sakit menyediakan penangan khusus bagi caleg stres berupa rawat inap, rawat jalan dan tenaga psikologi.

Total ada 551 kamar yang disediakan bagi caleg yang sewaktu-waktu mengalami gejala stres dan gangguan jiwa. Meski tak ada persiapan khusus dalam menangani caleg stres, Widyastuti kesiapan jajarannya.

“Intinya kami harus siap, melalui penguatan di lapangan, pengamanan kesehatannya, kemudian juga kesiapsiagaan di masing-masing layanan di rumah sakit maupun di Puskesmas. Karena ini pesta demokrasi yang harus kita semuanya ikut menyukseskan,” ia memungkasi.

Simak ulasan lengkap konten spesial Depresi Usai Kalah Pemilu di kumparan dengan topik Caleg Stres

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Minggu,19/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20