kumparan
13 Jan 2019 12:05 WIB

Mungkinkah Atlantis Ada di Indonesia?

Ilustrasi Atlantis. (Foto: Pixabay)
Genap 15 tahun sudah, Ahmad Yanuana Samantho bergelut dengan Atlantis dan segala misteri-misterinya. Ketika sang pembawa cerita Atlantis, Plato, belum sampai mengungkap di mana lokasi peradaban itu, Samantho begitu yakin ia ada di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Semua bermula dari kegemarannya terhadap sesuatu yang filosofis di masa SMA. Ketika anak seusianya saat itu sedang heboh-hebohnya menggemari Jhon Travolta, sekitar tahun 1980-an, ia justru lebih banyak merenung ditemani buku-buku filsafat nan tebal.
Tampil sebagai penyendiri, Samantho bukannya tak percaya diri. Ia merasa lebih berguna berkawan dengan buku-buku dibanding dengan berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik.
Ternyata, darah menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan ilmu sosial turun dari sang bunda yang merupakan antropolog Universitas Indonesia.
“Jadi saya memang sejak muda suka sejarah dan filsafat meskipun saya awalnya sarjana politik,” ujar Samantho dalam perbincangan dengan kumparan di kediamannya di Parung, Bogor, Jumat (11/1).
Perkenalannya dengan Atlantis dimulai ketika ia mulai membaca karya-karya Stephen Oppenheimer (1998) dan Profesor Santos asal Brasil soal Atlantis (2005). Baginya, saat itu adalah masa-masa menyenangkan. Katanya, seperti menemukan cinta pertama.
ADVERTISEMENT
Buku Santos yang berjudul ‘Atlantis: The Lost Continent Finally Founded’ menjadi penyemangatnya untuk menggapai bukti-bukti baru soal Atlantis. Apalagi Santos secara spesifik menyebut Atlantis yang hilang itu ada di Nusantara.
Ahmad Yanuana Samantho, Peneliti dan Penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Dalam bukunya, Santos mengungkapkan 30 ciri-ciri peradaban Atlantis yang ia temui di Nusantara. Dari mulai soal sistem irigasi, teknologi perkapalan, hingga beberapa artefak kuno yang identik.
Membaca buku Santos membuat Samantho semakin bersemangat. Awalnya ia hanya menyadur tulisan profesor nuklir itu untuk diterbitkan di majalah tempat ia bekerja tahun 2010, Madina.
Santos menyebut, Atlantis berada di sekitar Sundaland. Di antara Sumatera, Gunung Krakatau dan Laut Jawa.
Atlantis kemudian hilang karena letusan gunung berapi yang dibarengi dengan gempa dahsyat di Sundaland, mencairnya kutub utara dan selatan yang menyebabkan banjir dahsyat.
ADVERTISEMENT
“Namun sayangnya Santos meninggal dan belum sempat ke Indonesia. Dia meninggal di Amerika,” ujar lulusan Magister Universitas Paramadina itu.
Bak mendapat durian runtuh, tak lama kemudian tulisan Samantho menjadi sorotan tokoh-tokoh penting di Indonesia. Antara lain, mantan wakil gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dan eks Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashiddiqie.
“Nah Pak Jimly-lah yang menyuruh saya dan tim penerbit Ufuk untuk menerjemahkan bukunya Santos. Terbitlah awal tahun 2011," ungkapnya.
Ilustrasi Atlantis. (Foto: Shutterstock)
Tak cuma itu, Samantho juga mendapat dukungan penuh dari Dede Yusuf ketika menyodorkan ide untuk menyelenggarakan konferensi internasional soal Atlantis di Bogor. Pemprov Jabar mau mensponsori seluruh kegiatan tersebut.
Tak main-main, Samantho menghadirkan pembicara-pembicara yang memang fasih betul soal Atlantis. Dari mulai Oppenheimer yang menulis buku berjudul “The Eden in The East” dan anak dari Prof Santos yang tinggal di Amerika Serikat Frank Joseph Hoff.
ADVERTISEMENT
Di sana kemudian dipaparkan secara gamblang sejumlah penemuan yang diyakini bekas peninggalan Kerajaan Atlantis. Akhirnya Samantho kemudian mengumpulkan bukti-bukti penyempurna buku karya Santos berjudul “Peradaban Atlantis Nusantara” tak lama setelah konferensi itu.
“2013 muncul Gunung Padang dan fakta-faktanya. Saya sendiri sudah menduga artefak itu ada. Di buku saya, saya sajikan ini ada, artefak misalnya bangunan megalitik atau patung di Lampung, di Teluk Bada di Sulawesi yang mirip dengan Ester dengan patung di Samudera Pasifik dengan Amerika Selatan,” ungkapnya.
Situs Megalitikum Gunung Padang yang berbentuk mirip piramida. (Foto: Danny Hilman Natawidjaja/LIPI)
Tak puas sampai di situ, ia terus berupaya mematahkan pendapat mereka yang skeptis tentang Atlantis. Dari mulai penemuan patung di Medan, hingga penemuan topeng logam campuran di Goa Meda, Jombang, Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
Setelah diteliti di Italia, lanjut dia, umur topeng ternyata puluhan ribu tahun, cocok dengan kisah Plato tentang Atlantis yang hilang sekitar 9000 SM.
“Puluhan ribu tahun lalu bangsa kita sudah mempunyai teknologi metalurgi. Sudah mengerti mineral batuan yang mengandung logam yang bagus sudah ada peleburan yang jadi topeng. Itu banyak sekali bukti kalau kita mau berpikiran terbuka menerima,” ungkapnya.
Isu Atlantis kemudian perlahan meredup sekitar tahun 2015. Namun Samantho tak berhenti meneliti untuk mengungkapkan misteri Atlantis.
Ia juga menyebut sering berkumpul dengan komunitas yang suka dan meneliti Atlantis di berbagai kota. Sampai pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang ia sebut sebagai bukti baru di tahun 2018.
Beriringan dengan meledaknya film superhero ‘Aquaman’, isu ini muncul kembali meski tak sekencang sebelumnya. Di saat yang sama, Samantho juga mengklaim bukti baru bahwa Atlantis ada di Indonesia.
Klaim bukti peninggalan Atlantis di Indonesia. (Foto: Dok. Ahmad Yanuana Samanto)
Ia mengisahkan, semua bermula dari akhir tahun 2018. Samantho bertemu dengan keluarga Ari Karyono, seorang pejabat di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan RI.
ADVERTISEMENT
Keluarga Ari Karyono ini, lanjut dia, ternyata sejak tiga tahun terakhir ini mengumpulkan banyak artefak, pusaka kuno yang ditemukan di sekitar Madura, Selat Bali, Pulau Bawean. Baik di darat maupun di lautan.
“Ditemukan berupa pusaka berbahan baku logam meteorid. Beda dengan keris yang campuran, ini murni bahan meteorid,” tutur dia.
Pusaka tersebut berupa pedang, cincin, mahkota, yang jumlahnya puluhan. Barang meteorid itu menurutnya ditempa lipat artinya dipanaskan sedemikian rupa dan hanya bisa lebur di suhu 3000 derajat celcius.
Keluarga Ari Karyono kemudian meneliti juga ke pusat pembuatan keris di Madura. Namun para empu keris di sana tak sanggup untuk membuat pusaka dengan model dan bahan yang sama.
ADVERTISEMENT
“Bahannya enggak ada dan teknologinya rumit,” katanya.
Klaim bukti peninggalan Atlantis di Indonesia. (Foto: Dok. Ahmad Yanuana Samanto)
Ia bercerita, ada kujang yang panjangnya satu setengah meter dan beratnya 20 kg. Ada kujang naga, kujang lumba-lumba, ada trisula. “Cincinnya juga gede-gede, enggak masuk di tangan orang sekarang,” ujar Samantho.
Samantho semakin yakin bahwa Atlantis benar-benar ada di Indonesia.
Di sisi lain, pihak arkeolog di Indonesia belum bisa memercayai bahwa Atlantis itu ada. Apalagi seperti yang disebutkan Samantho, Atlantis ada di Indonesia.
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bambang Budi Utomo bahkan menyebut Atlantis hanyalah berada di dunia ide. Sementara soal bukti-bukti, menurutnya hanya dicocok-cocokkan saja.
“Kalau memang Atlantis itu ada dia adanya enggak jauh dari Laut Mediterania, di sekitar gunung api Santorini di sana. Itu juga kalau ada,” ujar Bambang ketika berbincang dengan kumparan di kantornya di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (12/1).
ADVERTISEMENT
Bambang juga mengaku sempat membaca buku karya Santos. Namun tak sampai habis.
Klaim bukti peninggalan Atlantis di Indonesia. (Foto: Dok. Ahmad Yanuana Samanto)
Dia juga menyebut, apa yang disampaikan Santos bahwa Atlantis di Laut Jawa juga sulit dipercaya. Sebab, tak ada satupun peninggalan sejarah yang mirip dengan peradaban di barat ataupun Mesir.
“Yang saya terakhir baca itu si Santos itu bilang ada di selatan Kalimantan di Laut Jawa. Tempat bermuaranya sungai sungai besar. Di situ disebutkan ada pulau yang dikatakan bekas pilar Hercules. Nah itu kan enggak mungkin,” ujarnya.
“Sekarang, barang-barang yang ditinggalkannya itu apa?” ujar Bambang.
Menurut Santos, Atlantis itu kerajaan yang lenyap sekitar tahun 9500 sampai 9000 SM. Seharusnya, apabila Atlantis benar-benar di Indonesia ada, paling tidak, tembikar di sekitar lokasi istana kerajaan itu bisa ditemukan.
ADVERTISEMENT
Sementara menurut penelitian Bambang, sejauh ini situs tertua di Indonesia itu berasal dari 3800 tahun SM dengan tinggalannya berupa tembikar.
Bambang Budi Utomo, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Indonesia. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
“Kan enggak mungkin kerajaan itu lenyap 9500 tahun yang lalu, sementara itu yang ini 3800 SM. Itu kan sesuatu yang enggak mungkin,” tegasnya.
Samantho sendiri sudah memprediksi akan ada pihak-pihak yang mempertentangkan temuannya. Namun, ia meyakini mereka hanyalah pihak yang belum mau mengakui ada peradaban yang lebih maju dari peradaban kuno Yunani.
Peradaban itulah yang disebutnya sebagai Atlantis, yang sekali lagi diyakini ada di Indonesia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan