Pakualaman Gelar Dhaup Ageng Pernikahan Putra Mahkota Paku Alam X

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BPH Kusuma Bimantoro dengan dr Maya Lakhsita Noorya. (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
BPH Kusuma Bimantoro dengan dr Maya Lakhsita Noorya. (Foto: Dok. Istimewa)

Wakil Gubernur Yogyakarta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X akan menikahkan anaknya, BPH Kusumo Bimantoro, dengan dokter Maya Lakhsita Noorya. Kadipaten Pakualaman pun menggelar Dhaup Ageng atau prosesi pernikahan sang putra mahkota sejak Senin (24/12).

Rangkaian upacara itu dimulai dengan prosesi Bucalan yang digelar sejak 24 Desember lalu. Ketua Umum Panitia Dhaup Ageng, KPH Indrokusumo menjelaskan, usai proses Bucalan, akan ada rangkaian proses lain seperti Wilujengan, Nyekar, hingga doa bersama di Masjid Kagungan Dalem.

Baru kemudian, pada Rabu, 2 Januari 2019, rangkaian acara resepsi pernikahan akan dimulai. Rangkaian tersebut terdiri dari sebelas tahap, mulai dari Majang, Tarub, Nyengker, Siraman, Midodareni, Tantingan, Ijab, hingga Resepsi dan Pamitan. Rangkaian ini akan berlangsung hingga Senin, 7 Januari.

Indrokusumo menyebut, sejak jumenengan (dilantik), Paku Alam X memang menyatakan diri akan mengemban kebudayaan dan tradisi. Sehingga, hajat mantunya ini akan menjadi salah satu kiprahnya mengemban kebudayaan melalui rangkaian acara Dhaup Ageng.

Suasana jumpa pers acara Dhaup Ageng. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana jumpa pers acara Dhaup Ageng. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Acara Dhaup Ageng itu juga akan mengikuti tata cara yang berlaku di Kadipaten Pakualaman. Termasuk, rangkaian upacara seperti Panggih dan resepsi yang akan dilaksanakan di bangunan utama Istana Pakualaman, yaitu Bangsal Sewatama.

"Sesuai dengan kebudayaan, Dhaup Ageng dikatakan kental dengan tradisi budaya, akan ada layar besar untuk masyarakat menyaksikan jalannya upacara," ucap Indrokusumo di Kompleks Puro Pakualaman, Rabu (26/12).

Meski menjadi acara nguri-nguri kebudayaan, namun Indrokusumo memastikan acara ini tidak menggunakan Dana Keistimewaan (Danais). Acara ini tetap menjadi acara keluarga yang sudah disiapkan oleh pihak mempelai.

“Tidak menggunakan Danais. Jadi Danais sudah ada pedomannya untuk kebudayaan, tapi bukan untuk ini. Ini kan lain, keluarga. Beliau sudah menyiapkan,” ujarnya.

Suasana di depan Puro Pakualaman. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di depan Puro Pakualaman. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Meski sesuai dengan pakem, Paku Alam X tidak menghendaki acara ini menjadi acara yang besar. Bahkan, pihak Pakualaman juga tidak akan menggelar kirab.

“Tidak melaksanakan kirab. Beliau menghendaki tidak perlu besar-besaran tapi tetap pada pakemnya. Misalnya dari Puro Pakualaman ke masjid dengan jalan kaki itu sudah bagian dari kirab. Habis ijab masuk ke Puro, itu bagian dari kirab,” katanya.

Hingga saat ini, persiapan untuk rangkaian acara pernikahan sudah mencapai 90 persen, termasuk untuk prosesi Pasang Tarub pada 2 Januari 2019 mendatang. Sejumlah 750 tamu undangan akan hadir di resepsi tanggal 5 Januari, dan 2.500 undangan akan hadir di tanggal 6 Januari.

Suasana jumpa pers acara Dhaup Ageng. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana jumpa pers acara Dhaup Ageng. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Ketua 1 Dhaup Ageng, KRT Radyowisroyo menjelaskan, resepsi pertama akan ditujukan bagi tamu-tamu VIP seperti Presiden Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, dan beberapa menteri. Tak hanya itu, perwakilan keraton nusantara juga akan hadir di resepsi hari pertama.

Sementara itu, motif batik Surya Mulyarja yang dipilih untuk Dhaup Ageng. Motif ini merupakan iluminasi naskah Sestradisuhul yang diciptakan pada masa Paku Alam II tahun 1874.

Motif ini menggambarkan karakter Batara Surya dalam Kitab Asthabrata. Dalam naskah Sestradisuhul, Batara Surya digambarkan memliki sifat cermat, dermawan, dan mampu memberikan motivasi bagi para muridnya untuk tekun berusaha agar bisa hidup secara lahir dan batin.

Surya Mulyaraja, secara etimologi diambil dari kata surya yang berarti matahari dan merupakan representasi Batara Surya. Sedangkan, kata mulya berarti luhur dan arja berarti selamat. Sehingga, motif Surya Mulyarja menjadi doa atau harapan untuk meneladani karakter luhur Batara Surya bagi keduanya.

BPH Kusuma Bimantoro dengan dr Maya Lakhsita Noorya. (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
BPH Kusuma Bimantoro dengan dr Maya Lakhsita Noorya. (Foto: Dok. Istimewa)