Penjelasan Din Syamsuddin soal Mundur dari Utusan Khusus Presiden

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Din Syamsuddin  (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Din Syamsuddin (Foto: Helmi Afandi/kumparan)

Din Syamsuddin mengundurkan diri dari jabatan sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban. Pengunduran diri itu sudah dilayangkan sejak Jumat (21/9) kemarin.

Din menjelaskan alasannya mundur karena tidak ingin dianggap berpihak dalam Pilpres 2019. Dalam hal ini, Presiden Jokowi adalah calon presiden yang sudah ditetapkan KPU bersama Prabowo Subianto.

Apalagi, kata Din, kini dia masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dalam Muhammadiyah, ada prinsip yang sangat tegas pengurus tidak boleh terafililasi dengan partai politik atau kandidat tertentu.

"Kalau saya menjabat sebagai utusan khusus presiden, dapat dipersepsikan berada di pihak tertentu. Maka itu tidak positif bagi saya dan juga ormas-ormas Islam dan Muhammadiyah," ucap Din kepada kumparan, Sabtu (22/9).

Berikut penjelasan Din Syamsuddin

Sudah (mundur) sejak 21 September 2018 kemarin, sejak KPU sudah menetapkan Pak Jokowi sebagai capres, saya melayangkan surat pengunduran diri dari jabatan sebagai utusan khusus presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban. Mengapa, karena pertama kami mempunyai amanat keumatan sebagai pimpinan Muhammadiyah tingkat ranting dan juga di MUI sebagai ketua dewan pertimbangan MUI.

Nah khusus Muhammadiyah, punya prinsip pimpinan tidak terlibat dalam politik kekuasaan. Secara organisatoris tidak mendukung seseorang. Nah, begitu pula sebagai Dewan Pertimbangan MUI yang anggotanya seluruh pimpinan ormas-ormas Islam itu terbelah. Maka kalau saya menjabat sebagai utusan khusus presiden dapat dipersepsikan berada di pihak tertentu. Maka itu tidak positif bagi saya dan juga ormas-ormas Islam dan Muhammadiyah.

Nah, maka tentu mengharapkan saya berada posisi di tengah, tidak berpihak. Itu saya kira alasan utamanya itu. Maka itu saya ingin supaya lebih maslahat sambil mendorong demokratisasi Indonesia lewat pilpres bisa berlangsung secara damai, berkualitas, dan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kekbaikan), maka hal semacam ini diperlukan di tengah gejala keterbelahan bangsa, keterbelahan umat. Jangan hanya karena agenda 5 tahunan persatuan kebangsaan kita goyah, ukhuwah islamiyah kita goyah. Oleh karena itulah kekuatan wasathiyah (jalan tengah) itu harus juga dijelmakan dalam konteks perlombaan politik perlombaan demokrasi.

Presiden Jokowi saat dikonfirmasi soal pengunduran Din, siang tadi, menyebut belum menerima suratnya. Namun Jokowi mengaku akan bertemu dengan Din pada hari Senin.

"Belum, belum, surat belum saya terima. Beliau pun juga, mungkin hari Senin baru saya terima," ujar Jokowi usai menghadiri acara reuni alumni Universitas Gadjah Mada di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9).

"Hari Senin akan terima beliau," ujarnya.