kumparan
20 Mar 2019 21:19 WIB

Pilot Lion Air JT-610 Sempat Cari Solusi di Handbook Sebelum Jatuh

Pesawat Lion Air Foto: AFP/Roslan Rahman
Penyelidikan terbaru berhasil mengungkapkan detik-detik terakhir sebelum pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 jatuh dan menghantam perairan Karawang, Oktober 2018 lalu. Berdasarkan rekaman cockpit voice recorder (CVR), pilot dan co-pilot pesawat nahas itu sempat berupaya mencari tahu penyebab jet yang mereka tunggangi itu terus meluncur ke bawah.
Salah seorang sumber yang dikutip Reuters mengungkapkan, saat itu, pilot Bhavye Suneja mengambil kontrol saat pesawat bernomor penerbangan JT610 itu lepas landas. Sementara, co-pilot Harvino bertanggung jawab untuk komunikasi dengan Air Traffic Controller (ATC).
Dua menit setelah lepas landas, co-pilot sempat melaporkan masalah kontrol penerbangan ke ATC dan menyebut bahwa pilot ingin mempertahankan jelajah terbang di ketinggian 5 ribu kaki. Namun, saat itu co-pilot tidak merinci masalah apa yang terjadi di pesawat tersebut.
Boeing 737 Max 8 Foto: Dok. Boeing
Pilot lalu meminta co-pilot untuk memeriksa handbook pesawat yang berisi daftar penanganan untuk peristiwa abnormal. Sembilan menit kemudian, muncul peringatan adanya kondisi stall. Sebagai respons otomatis, moncong pesawat langsung mengarah ke bawah.
Kondisi stall merupakan kondisi saat aliran udara di atas sayap pesawat terlalu lemah untuk menghasilkan daya angkat dan membuat pesawat tetap terbang.
Mengetahui hal itu, pilot lalu berusaha keras untuk membuat hidung pesawat naik. Namun, komputer yang masih keliru mendeteksi kondisi stall terus menekan hidung pesawat dengan sistem trim. Sistem ini biasanya berfungsi untuk menyesuaikan permukaan kontrol pesawat dan memastikannya tetap terbang lurus dan datar.
“Mereka sepertinya tidak tahu jika trim bergerak turun. Saat itu, mereka hanya memikirkan soal kecepatan udara dan ketinggian. Itu satu-satunya hal yang terdengar mereka bicarakan,” kata sumber lainnya.
Menurut sumber tersebut, pilot berusaha tetap tenang dan mencari tahu cara mengendalikan situasi abnormal itu. Ia juga juga meminta co-pilot untuk mengambil alih kendali, sementara dia memeriksa manual untuk mencari solusi.
Bhavye Suneja, pilot Lion Air JT-610. Foto: Facebook/Bhavye Suneja
Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta izin kepada ATC untuk membersihkan lalu lintas di bawah ketinggian 3 ribu kaki. Selain itu, pilot juga meminta terbang di ketinggian lima ribu kaki, dan disetujui.
Namun, usaha pilot mencari solusi di buku petunjuk sia-sia. Pesawat yang mereka tumpangi tetap tidak bisa dikendalikan.
“Ini seperti ujian di mana ada seratus pertanyaan, dan ketika waktunya habis, Anda hanya bisa menjawab 75 pertanyaan saja. Jadi Anda akan panik. Inilah yang dinamakan kondisi timeout,” ucap sumber tersebut.
Di akhir rekaman, pilot asal India itu akhirnya terdiam. Sementara sang co-pilot, terus menerus meneriakkan kata ‘Allahu akbar’.
Pesawat akhirnya menabrak permukaan air dan meledak. Dalam tragedi itu, 189 orang di dalamnya, termasuk pilot, co-pilot, serta kru penerbangan tewas.
Lion Air dan Ethiopian Airlanes. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan , AFP/JENNY VAUGHAN;
Sementara itu, badan investigasi kecelakaan udara Prancis, BEA, menyebut data blackbox di pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopia Air menunjukkan ada kesamaan masalah dengan pesawat Lion Air tersebut. Semenjak tragedi itu, sebenarnya Boeing mengaku telah berupaya meningkatkan sistem perangkat lunak yang mengatur sejumlah data, termasuk untuk sistem anti-stall terbaru.
Data rekaman dari CVR Lion Air JT-610 tersebut sebenarnya baru berhasil diunduh pada Senin, 14 Januari 2019 lalu. Meski bagian cangkang CVR rusak, namun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia memastikan kualitas suara rekaman masih jernih dan bagus.
Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT-610 yang di temukan di Ujung Karang, Bekasi, Senin (14/1). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut, rekaman berdurasi 124 menit itu mencatat seluruh percakapan antara pilot, co-pilot, serta awak kabin. Ia menyebut, rekaman tersebut bisa jadi terdiri dari rekaman penerbangan-penerbangan sebelumnya.
"Dua jam (tercatat) dari saat terakhir kecelakaan mundur ke belakang. Karena kalau electrical-nya di-on-kan otomatis CVR terekam. Kita enggak tahu rekaman yang di belakang itu apa. Kita yakin rekaman di belakang itu masalah maintenance saja," kata Soerjanto di Gedung Kementerian Kemaritiman, Jakarta, Senin (21/1).
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
Meski terbilang cukup bersih, namun Soerjanto menyebut, ada noise-noise yang membuat pihaknya terkadang harus memutar berkali-kali untuk mendapat ucapan yang jelas.
"Karena dengerin itu ada noise-noise itu kadang kita putar sampai 100 kali, kata-katanya oh ini, cukup jelas. Tapi memang di dalamnya ada suara yang berisik ya. Kita ada trik-trik untuk bagaimana filter suara itu jadi bagaimana suara yang kita inginkan itu lebih jelas," imbuhnya.
Ia berharap, hasil rekamannya bisa dirilis pada Juli atau Agustus mendatang. Hasil rekaman tersebut, diharapkan juga bisa mempercepat proses investigasi kecelakaan serupa yang dialami Ethiopia Air.
Sebelumnya, CVR ditemukan oleh tim penyelam dari Dislambair dan Kopaska Koarmada 1 pada Senin (14/1) pukul 08.40 WIB dan tertimbun lumpur 8 meter. CVR terletak tidak jauh dari titik jatuhnya Lion air JT-610 dan masih dalam radius 10 meter dari lokasi penemuan FDR. CVR bersama FDR (yang merekam data penerbangan) merupakan komponen kotak hitam alias black box.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·