kumparan
13 Mei 2019 11:34 WIB

Potensi Penyebaran Cacar Monyet di Singapura Sangat Rendah

Seseorang terinfeksi Monkeypox di Afrika, yang mendapatkan pengobatan. Foto: AFP
Warga Singapura diminta tidak terlalu khawatir akan penyebaran penyakit cacar monyet atau monkeypox. Sebelumnya, seorang pria Nigeria diketahui mengidap penyakit tersebut ketika mengunjungi Singapura.
ADVERTISEMENT
Menurut Dr Leong Hoe Nam, ahli penyebaran penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, risiko penularan cacar monyet antarmanusia sangat rendah, bahkan hampir tidak ada sama sekali.
"Saya tidak khawatir," kata Leong kepada media Singapura, The Straits Times, pada akhir pekan.
"Cacar monyet telah ada di negara-negara lain sebelumnya, seperti Inggris, dan tidak ada penularan lokal. Hal itu tidak terjadi di sana, dan kemungkinan terjadi di Singapura sangat rendah," lanjut Leong.
Pria Nigeria positif mengidap cacar monyet pekan lalu saat mengunjungi Singapura. Dia langsung dikarantia di ruang isolasi Pusat Nasional untuk Penyakit Menular. Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, kondisinya telah stabil.
com-Ilustrasi Negara Singapura Foto: Shutterstock
Penderita mengaku memakan daging hewan liar di negaranya sebelum berangkat ke Singapura untuk menghadiri lokakarya. Memakan daging hewan buruan liar Afrika atau bush meat seperti tikus hutan, kelelawar, atau monyet diketahui penyebab penularan cacar monyet dari hewan ke manusia.
ADVERTISEMENT
Sebanyak 22 dari 23 orang juga dikarantina di Singapura karena melakukan kontak dengan penderita. Belum dikabarkan kondisi terbaru mereka, namun sebelumnya dilaporkan tidak ada gejala-gejala penularan.
Singapura adalah negara keempat di luar Afrika, dan pertama di Asia, yang memiliki kasus cacar monyet. Sebelumnya, penyakit ini pernah tercatat di Inggris dan Israel tahun lalu, dibawa oleh warga Nigeria.
Kasus pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat pada 2003 dengan 47 orang penderita. Mereka diduga tertular oleh hewan yang dikirim dari Ghana.
Seorang anak terinfeksi Monkeypox di Afrika, yang mendapatkan pengobatan. Foto: AFP
Menurut WHO, penyakit ini tidak mudah menular antar manusia, kecuali terdapat kontak fisik terhadap luka terbuka.
Gejala cacar monyet adalah demam, pusing, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit pinggang, nyeri otot, dan lemas. Ruam muncul setelah demam satu hingga tiga hari, mulai dari wajah lalu ke bagian tubuh lain.
ADVERTISEMENT
Dalam kasus terparah, virus cacar monyet bisa menyebabkan komplikasi seperti paru basah, sepsis, pembengkakan otak, atau kehilangan penglihatan akibat infeksi pada mata. Angka kematian akibat penyakit ini hanya 1 hingga 10 persen.
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk cacar monyet. Namun menurut WHO, vaksin cacar air terbukti bisa mencegah penyakit ini hingga 85 persen.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan