kumparan
10 Mei 2019 10:27 WIB

Pria Afrika Bawa Cacar Monyet ke Singapura, Puluhan Orang Dikarantina

Ilustrasi pengidap cacar monyet atau monkeypox di Afrika. Foto: AFP
Seorang warga dari negara Afrika diketahui mengidap cacar monyet (monkeypox) ketika mengunjungi Singapura. Akibat kasus ini, puluhan orang terpaksa dikarantina untuk mencegah penyebarannya.
ADVERTISEMENT
Diberitakan media The Straits Times, Jumat (10/5), ini adalah kasus pertama cacar monyet yang pernah dihadapi Singapura. Penyakit ini diidap oleh pria Nigeria berusia 38 tahun yang menghadiri lokakarya di Singapura.
Menurut keterangan Kementerian Kesehatan Singapura, pria itu tiba pada 28 April dan tinggal di sebuah hotel di Geylang. Dua hari kemudian, dia menghadiri lokakarya di Samsung Hub, Church Street.
Dia mulai sakit pada 30 April, mengeluh demam, nyeri otot, meriang, dan ruam pada kulit. Antara 1-7 Mei, pria itu tidak keluar kamar hotel. Dia dilarikan pada 7 Mei ke Tan Tock Seng Hospital dan dinyatakan positif cacar monyet.
com-Ilustrasi Singapura Foto: Shutterstock
Saat ini dia berada di karantina Pusat Nasional Penyakit Menular (NCID) dan kondisinya sudah stabil. Sebanyak 22 dari 23 orang yang melakukan kontak dengan pasien juga dikarantina untuk tindak pencegahan. Satu orang lainnya telah pulang ke negaranya, dan tidak menunjukkan gejala apapun.
ADVERTISEMENT
Kepada tim medis, penderita cacar monyet mengaku menghadiri pernikahan di Nigeria sebelum ke Singapura. Di acara itu, dia makan daging hewan liar yang biasanya tikus hutan, kelelawar, atau monyet.
Konsumsi daging hewan liar Afrika atau bush meat adalah salah satu sumber penularan cacar monyet dari hewan ke manusia. Penyakit ini pertama kali teridentifikasi pada 1970 di Kongo.
Seorang anak dan perempuan terinfeksi Monkeypox di Afrika. Foto: AFP
Menurut WHO, penyakit ini tidak mudah menular antar manusia, kecuali terdapat kontak fisik terhadap luka terbuka.
Gejala cacar monyet adalah demam, pusing, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit pinggang, nyeri otot, dan lemas. Ruam muncul setelah demam satu hingga tiga hari, mulai dari wajah lalu ke bagian tubuh lain.
Dalam kasus terparah, virus cacar monyet bisa menyebabkan komplikasi seperti paru basah, sepsis, pembengkakan otak, atau kehilangan penglihatan akibat infeksi pada mata. Angka kematian akibat penyakit ini hanya 1 hingga 10 persen.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk cacar monyet. Namun menurut WHO, vaksin cacar air terbukti bisa mencegah penyakit ini hingga 85 persen.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan