kumparan
24 Okt 2018 7:16 WIB

Prabowo dan Jokowi Kompak Rekrut Influencer Demi Galang Suara Milenial

Jokowi (kiri) dan Prabowo (kanan) bergandengan usai menandatangani deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 di Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Fenomena baru terjadi di Pilpres 2019. Apabila di Pilpres 2014 lalu publik disuguhi fenomena relawan dan blusukan, kini di Pilpres 2019 muncul strategi baru dalam kampanye yakni dengan merekrut influencer.
ADVERTISEMENT
Seperti di kubu Jokowi-Ma'ruf terdapat nama influencer seperti artis Nafa Urbach, Tina Toon, Sonny Tulung, Rieke Dyah Pitaloka dan Okky Asokawati. Sementara di kubu Prabowo-Sandi terdapat nama selebgram Rachel Vennya, Caca Zeta, Febiola Novita, Sarah Gibson, dan Alvin Faiz.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan, fenomena influencer di kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi tersebut tidak lepas dari perkembangan digital yang semakin maju. Akibatnya, kedua paslon merekrut para influencer yang punya pengaruh dan banyak pengikut di media sosial
"Ini bagian dari fenomena demokrasi digital, sekarang banyak telusuri politik di dunia maya, instagram, twitter. Karena sekarang fenomena demokrasi digital tentu yang dituju yang punya followers yang banyak," ujar Adi saat dihubungi kumparan, Rabu (24/10).
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, perekrutan para influencer yang aktif di media sosial (medsos) itu juga dinilai karena terbatasnya ruang kampanye baik melalui alat peraga maupun iklan di media massa yang hanya boleh pada tanggal 24 Maret hingga 14 April 2019. Hal itu sesuai Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilu 2019.
"Kampanye media mainstream di koran atau TV itu kan dibatasi hanya 3 minggu sebelum pencoblosan. Itu (pembatasan) dianggap tidak memadai, maka kedua paslon menggunakan medsos yang tak terbendung. Rentang waktu yang terbatas di media mainstream itu diantisipasi dengan influencer, itu bagian dari strategi kampanye," jelasnya.
Adi Prayitno, Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)
Menurutnya, melalui para influencer tersebut, kedua paslon memang bertujuan merebut hati generasi milenial yang melek teknologi.
ADVERTISEMENT
"Memang yang disasar (pemilih) generasi milenial yang melek teknologi," ucapnya.
Akan tetapi, kata dia, peran influencer di medsos tersebut jangan terlalu banyak diharapkan dapat meraih banyak suara. Sebab kampanye di medsos hanya salah satu instrumen untuk sosialisasi visi dan misi.
Terlebih, denyut medsos hanya terasa di kota-kota besar. Masih banyak daerah lain, khususnya di luar Jawa, dimana masyarakatnya belum terlalu melek teknologi, apalagi medsos.
"Masyarakat kita masih banyak yang belum melek teknologi sehingga kampanye konvensional tetap diperlukan. Kekuatan Jokowi di Pilpres 2014 ya blusukan itu," ucapnya.
Hendri Satrio saat berorasi politik. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
Dihubungi terpisah, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai influencer tak hanya berperan untuk menarik hati pemilih milenial, tetapi juga pemilih yang belum menentukan pilihannya (swing voters).
ADVERTISEMENT
"Peran influencer ini besar karena dari hasil survei hampir 50 persen masyarakat itu memilih pada H-7 dan hari H. Karena memilihnya mepet-mepet jadi tidak semua punya pilihan, maka peran influencer penting," ucapnya.
Namun merekrut para influencer tersebut bukan tanpa resiko, Hendri menilai apabila influencer tersebut terkena isu negatif, maka imbasnya juga menimpa para paslon capres-cawapres. Sehingga, kedua paslon harus memastikan para influencer yang direkrut tidak melakukan hal negatif selama masa kampanye.
"Untung kalau kinclong, bersih, positif citranya, semua yang dia omongkan semua (penggemarnya) ikut. Tapi kalau negatif maka imbasnya akan ke kandidat," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan