Pencarian populer

Prabowo: Untuk Apa Jalan Tol Bagus Kalau Mobil dan Truk Produk Asing

Capres Prabowo Subianto dalam acara Ngobrol Bareng Bersama 300 Jenderal dan Para Intelektual di Hotel Sari Pacific Jakarta Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018). (Foto: Adim Mugni M/kumparan)

Presiden Jokowi selama empat tahun ini begitu gencar membangun infrastruktur untuk menekan ketimpangan antar wilayah di Indonesia. Akan tetapi menurut capres Prabowo Subianto, pembangunan tersebut bukanlah hal yang istimewa.

Prabowo mengatakan, infrastruktur memang sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Terutama ketika produksi dalam negeri sudah kuat sehingga membutuhkan infrastruktur untuk menyalurkan produksi tersebut ke pasar dalam negeri dan pasar asing.

Namun jika pada akhirnya infrastruktur tersebut membuat pasar dalam negeri dibanjiri produk asing, maka sama saja membuat daya saing Indonesia melemah.

"Jadi pemerintah yang berpihak kepada bangsa sendiri tidak hanya memikirkan infrastuktur, tapi produksi dalam negeri harus dipikirkan. Untuk apa kereta api bagus, jalan tol bagus, kalau mobil dan truk di jalan tol semua produk asing," kata Prabowo saat menjawab pertanyaan mengenai gencarnya Jokowi membangun infrastruktur dalam bedah buku 'Paradoks Indonesia' di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9).

Jokowi meninjau Tol Balikpapan-Samarinda (Foto: Biro Pers Setpres)

Ia pun meminta masyarakat agar tidak terkesima dengan maraknya pembangunan infrastruktur apabila tidak diimbangi dengan produksi dalam negeri. Terlebih, bahan-bahan yang digunakan untuk membangun infrastruktur tersebut kebanyakan berasal dari impor.

"Jadi yang digembar-gemborkan infrastrukur fisik. Bagaimana produksinya (dalam negeri)? Jangan terkesima pembangunan fisik, tapi semennya dari mana, bajanya dari mana? Pabrik semen lemah, dan baja kita lemah," tegasnya.

Selain itu dalam pembangunan infrastruktur, kata Prabowo, juga rentan terhadap kecurangan, kongkalikong, hingga nepotisme. Terpenting menurut Prabowo saat ini ialah perbaikan pengelolaan ekonomi dalam negeri. Sebab ia menilai sistem ekonomi saat ini tidak dibangun atas dasar filosofi Pasal 33 UUD 1945 .

"Kalau ekonomi kita lemah, maka mata uang kita lemah, karena produksinya enggak ada, kuncinya itu. Waktu kita untung sekian belas tahun, uangnya enggak tinggal di kita, apalagi kita rugi, defisit," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33