Referendum Catalunya Rusuh, 844 Orang Terluka

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polisi bubarkan referendum di Catalunya (Foto: REUTERS/Juan Medina)
zoom-in-whitePerbesar
Polisi bubarkan referendum di Catalunya (Foto: REUTERS/Juan Medina)

Aparat keamanan Spayol melakukan aksi represif untuk mencegah pelaksanaan referendum Catalunya. Mereka menyerbu beberapa tempat pemungutan suara dan menembakan peluru karet.

Seorang pejabat lokal Catalunya menyebut, polisi anti huru-hara awalnya turun ke jalanan. Selain menembakan peluru karet, warga yang ikut memberikan suara diusir dengan cara dipukul menggunakan tongkat.

Akibat tindakan tersebut setidaknya 844 orang menderita luka-luka. 92 di antaranya bahkan mendapat perawatan medis serius.

Meski dilarang, nyatanya di pusat Ibu Kota Catalunya, Barcelona, mayoritas warga wilayah tersebut tetap menggunakan hak pilihnya.

Setelah seluruh TPS ditutup pada Minggu malam waktu setempat, warga Catalunya berkumpul di Plaza Catalunya sembari menunggu pengumuman resmi hasil referendum.

Pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont, menegaskan, referendum ini merupakan bukti bahwa seluruh warga wilayahnya menginginkan bercerai dari Spanyol.

"Dengan hari penuh harapan dan penderitaan ini, warga Catalunya telah memenangkan hak mereka menjadi negara merdeka dan membuat sebuah republik," ucap Puigdemont seperti dikutip dari AFP, Senin (2/10/2017).

Polisi bubarkan referendum di Catalunya (Foto: REUTERS/Albert Gea)
zoom-in-whitePerbesar
Polisi bubarkan referendum di Catalunya (Foto: REUTERS/Albert Gea)

Kendati referendum telah terlaksana, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengatakan, pemungutan suara itu ilegal. Hasilnya tidak akan pernah diakui.

"Hari ini, tidak pernah ada referendum penentuan nasib di Catalunya," tegas dia.