Risma Nilai DKI Bisa Kelola Sampah dengan Mudah Karena Punya Uang

Sampah di Ibu Kota masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov DKI Jakarta. Setiap hari setidaknya ada 7.500 ton sampah, setara dengan ukuran Candi Borobudur.
Melihat polemik tersebut, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menilai sampah Jakarta mudah dikelola. Terlebih, anggaran pengelolaan sampah Jakarta mencapai Rp 3,7 triliun, sedangkan Surabaya mampu mengelola sampah hanya dengan anggaran Rp 30 miliar.
“Sebetulnya enggak sulit, kalau dikelola dengan benar, itu enggak butuh lahan besar. Saya sudah lihat di Korea, Jepang, mereka itu punya lahan kecil di tengah-tengah (kota), asal kita disiplin, tidak kotor, kemudian tidak terlambat ngolahnya, kita tidak perlu takut bau dan sebagainya karena sebetulnya itu bisa dikendalikan,” ujar Risma di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Kota Surabaya, Selasa (30/7).
Menurut Risma, Jakarta harus pandai mengatur anggaran yang digelontorkan pengelolaan dalam sampah. Sebab anggaran tersebut tidak sedikit. Apalagi, TPA Bantargebang diprediksi bakal overload pada 2021, sementara pembangunan TPA baru rampung pada 2022.
“Sebenarnya kalau Jakarta tidak sulit karena punya uang. Semua daerah kemarin rapat itu kesulitan, karena daerah punya keuangan terbatas. Kalau Jakarta itu punya uang, manage itu sehingga bisa realisasi semuanya,” terangnya.
Risma mengaku tak masalah jika Pemprov DKI Jakarta memintanya turut membantu pengelolaan sampah. Risma bakal menerapkan pengelolaan sampah di Kota Surabaya sesuai dengan analisis dampak lingkungan (Amdal) di Jakarta.
“Enggak masalah saya (membantu), daerah mana pun minta bantuan saya siap untuk bantu. Karena itu akan nolong. Coba bayangin itu ada anak bayi, karena kita tidak kelola dengan benar sampahnya, kemudian kena diare itu kan masalah juga,” terangnya.
Sebelumnya, Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD dan Pemda DKI Jakarta mengunjungi Pemkot Surabaya pada Senin (29/7). Kunjungan itu terkait studi banding pengelolaan sampah yang diterapkan Pemkot Surabaya.
Ketua Fraksi NasDem DPRD Kota Jakarta, Bestari Barus mengatakan, pengelolaan sampah di Surabaya cukup efisien, tidak membutuhkan anggaran besar dan mampu memberdayakan warganya. Pihaknya perlu mempertimbangkan hasil studi banding tersebut dalam penyelesaian Perda soal pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF).
“Anggarannya 4 kali lipatnya dari Surabaya ini," ungkap Bestari.
“Tentu ini menjadi pembelajaran bagi kami yang dari Jakarta dengan anggaran yang begitu besar masih belajar ke Surabaya, bagaimana pengelolaan sampah yang efektif dan efisien,” imbuhnya.
