Pencarian populer

Rocky Gerung Jawab Tudingan soal Homo hingga Ceramah di Masjid

Rocky Gerung saat diwawancara di kantor kumparan. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Nama Rocky Gerung bisa dibilang cukup populer di telinga masyarakat Indonesia. Indikasinya, seringnya lulusan Filsafat Universitas Indonesia itu muncul di media massa. Selain itu, aktivitasnya di Twitter juga mampu meraup lebih dari 551 ribu pengikut.

Apalagi belum lama, sosok yang kerap menyebut kata ‘dungu’ itu baru saja diperiksa polisi terkait frasa ‘kitab suci adalah fiksi’ yang dia ucapkan di Indonesia Lawyer Club (ILC), 10 April 2018.

Sosok Rocky juga tidak terlepas dari kontroversi. Sebagai seorang yang aktif tampil membawa kritik di berbagai seminar kampus, media massa, dan tentunya Twitter pribadi, ia juga tak luput dari “serangan-serangan” warganet.

Berbagai isu miring dari warganet pun sempat melayang kepada Rocky. Dari urusan pribadi hingga dugaan sikap politiknya ikut dipersoalkan. Berbincang di kantor kumparan pada Sabtu (2/2) sore, Rocky menjawab berbagai isu miring tersebut.

Berikut beberapa di antaranya: Dituding Homo Seksual karena Belum Menikah

Rocky pernah bilang kalau menikah itu indah sebagai fiksi, tapi mengerikan sebagai fakta. Bagi dia, menikah itu indah sebagai molekul perkawinan, tapi buruk sebagai fakta karena sering berantakan.

Dia menambahkan, ikatan dalam pernikahan tidak cukup kuat untuk mempertahankan keindahannya sehingga sering terjadi perceraian.

Rocky Gerung saat diwawancara di kantor kumparan. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Namun, Rocky menampik jika hingga kini belum menikah, maka lantas pantas untuk dikatakan homo.

“Itu, kan, logika apa? Itu dua fakta yang berbeda itu. Jadi gue dianggap homo begitu. Saya enggak antihomo, tapi saya juga bukan homo. Yang saya persoalkan orang ambil kesimpulan semua yang enggak menikah itu homo, kan ya dongo. Ngambil kesimpulan yang tolol,” kata Rocky. Ceramah di Masjid

Akademisi yang sudah menginjak umur 60 tahun ini sempat meretweet unggahan seorang warganet yang menampilkan video dia sedang berceramah di sebuah pesantren di Bangkalan, Januari 2018. Warganet menyoal tindakan Rocky tersebut karena dia dianggap non-islam, tapi memberi ceramah Namun, Rocky mengklarifikasi tuduhan tersebut. Di Bangkalan, dia memang memberi ceramah di sebuah pesantren yang berdiri sejak tahun 1700-an. Isinya, tentang fungsi edukatif pesantren dan aktivitas menjaga akal sehat melalui pesantren. Dia pun menegaskan, pesantren sebagai kampus.

“Lalu orang bilang memberi kuliah atau memberi tausiah di masjid. Itu bukan masjid. Itu rumah kyai, bahkan yang punya. Dan saya diundang. Kan enggak mungkin saya datang sendirian saya mau ngomong. Tradisi kan diundang, ya saya datang,” jelas Rocky.

Rocky pun menampik kalau dia disebut menyampaikan hal-hal dogmatis di hadapan warga pesantren. Menurut dia, pesantren adalah institusi pedagogi dan bertukar pikiran. Selain itu, pesantren juga dianggap sebagai perjuangan politik di dalam pendidikan. Perihal Rocky diundang dan bicara di lingkungan pesantren dipersoalkan, dia pun tidak ambil pusing.

“Buktinya mereka tepuk tangan. Kalau mereka enggak suka, pasti gue disambit. Ya, pasti baik dong. Setelah itu selfie-selfie,” kata dia. Dianggap Dekat dengan Kalangan ‘Islam kanan’ dan membela 212

“Apa itu Islam kanan? 212? Gini ya, 212 itu saya enggak pro 212. Itu udah terlalu besar. Enggak perlu saya bela 212 itu. Yang saya bela adalah hak saya untuk memperoleh informasi mengenai 212. Kan 212 itu di Monas peristiwa besar, saya cuma lihat di berita internasional. Saya bilang, kenapa negara menutup informasi tentang 212?,” terang Rocky.

Mantan pengajar di jurusan Filsafat UI ini bilang, kalau dia tidak lantas menjadi kanan karena menyinggung gerakan 212. Sebab, dia hanya membela perihal kebebasan mengungkapkan pendapat. Bukan hanya oleh gerakan 212, tapi juga gerakan manapun. “Jadi bukan 212-nya yang saya bela, tetapi hak warga negara untuk mengucapkan pendapatnya,” ujar Rocky. Membela Kepentingan Capres-Cawapres Nomor Urut 02

Banyak yang bertanya-tanya mengenai sikap Rocky yang kerap mengkritik pemerintah. Apakah itu berarti dia punya kepentingan tertentu, terutama untuk membela capres-cawapres nomor urut 02 yang kini berada di kubu oposisi?

“Iya saya punya kepentingan sendiri pada pemerintah. Nah, sialnya orang anggap kalau saya yang mengkritik pemerintah, saya pro Prabowo, misalnya oposisi. Itu dua hal yang terpisah. Prabowo ya kritik aja,” ujar Rocky.

Dia pun mempertanyakan logika pihak-pihak yang menyebut dia pro Prabowo. Rocky menyebut, bahkan dia lebih dulu bersikap oposisi daripada Prabowo sendiri. “Tapi itulah kepicikan itu, menyebabkan anda 02 karena mengkritik 01,” ujar Rocky Gerung.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60