kumparan
26 Mei 2018 14:22 WIB

Rusia dan Kasus Penembakan Dua Pesawat Penumpang

Korean Airlines (Foto: theaviationist.com)
Rusia tengah menjadi sorotan terkait keterlibatannya dalam penembakan Malaysia Airlines MH17 pada 2014 lalu. Namun ternyata, ini bukan kali pertama militer Rusia menembak jatuh sebuah pesawat komersil.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari History, kejadian ini terjadi pada 1 September 1983. Kala itu sebuah pesawat Korean Airlines (KAL) 007 asal Korea Selatan, terbang dari New York, Amerika Serikat, menuju Seoul dengan pemberhentian di Anchorage, Alaska.
Ketika hampir tiba di Seoul, KAL007 tiba-tiba berbelok arah dari rute penerbangannya sejauh 321 kilometer. Pesawat yang membawa 269 penumpang dan kru itu masuk ke wilayah udara Rusia, tepatnya di Semenanjung Kamchatka. Semenanjung yang berada di antara Laut Okhotsk dan Laut Bering itu, digadang-gadang menjadi tempat penyimpanan instalasi militer yang paling dirahasiakan oleh Soviet (sebutan Rusia saat itu).
Mengetahui adanya 'penyusup' di wilayah mereka, pihak Soviet mencoba untuk menghubungi KAL007 namun tak kunjung menerima respons. Lantas, mereka mengirim prajuritnya untuk mengadang pesawat itu.
ADVERTISEMENT
Pada masa perang dingin, Soviet tentu tak mau ambil risiko adanya kemungkinan mata-mata Amerika Serikat yang masuk ke wilayahnya. Keputusan pun harus segera dibuat.
Panglima Pasukan Pertahanan Udara Timur Soviet, Jenderal Valery Kamensky, sempat bersikeras akan memusnahkan KAL007 meski terbang di atas perairan netral. Namun Kamensky hanya akan mengambil keputusan setelah identifikasi positif KAL007 adalah pesawat penumpang. Sedangkan bawahannya, Jenderal Anatoly Kornukov, menegaskan tak perlu melakukan identifikasi karena KAL007 telah terbang di atas Semenanjung Kamchatka.
"Apakah akan dihancurkan walaupun terbang di atas perairan netral?" tanya Kornukov, dikutip dari Rescue 007.
"Kita harus lihat dulu. Mungkin ini hanya pesawat penumpang, atau apalah," jawab Kamensky.
"Penumpang apanya? Dia sudah terbang di atas Kamchatka! Saya akan berikan komando untuk menyerang," timpal Kornukov.
Ilustrasi rudal (Foto: Reuters)
Tanpa perundingan lebih lama, akhirnya Soviet mengutus tiga prajurit pesawat Sukhoi Su-15 untuk meluncurkan rudal ke KAL007. Pada saat yang bersamaan, pilot pesawat Korsel itu menghubungi Tokyo Area Control Center di Jepang, meminta untuk terbang lebih tinggi dengan alasan menghemat bahan bakar.
ADVERTISEMENT
Ketika pilot mengendarai pesawat untuk terbang lebih tinggi, secara otomatis kecepatan ikut melambat. Bagi Soviet, langkah ini dinilai sebagai perlawanan dari KAL007. Padahal, pilot KAL007 tak tahu-menahu bahwa mereka telah memasuki wilayah terlarang Soviet.
Di bawah tekanan Kornukov untuk tidak membiarkan pesawat melarikan diri ke wilayah udara internasional, Su-15 langsung memposisikan diri untuk menembakkan dua rudal K-8.
Pesawat penumpang itupun berputar-putar sampai akhirnya jatuh ke laut di dekat Pulau Moneron, terletak antara Jepang dan Rusia. Sebagai pemilik pesawat, pemerintah Korsel menunjuk AS dan Jepang untuk melakukan pencarian KAL007. Sementara hingga delapan hari setelah kejadian, pihak Soviet masih mengaku tidak tahu soal kecelakaan itu.
"Kami tidak bisa memberikan jawaban di mana pesawat itu jatuh karena kami dari awal tidak tahu tentang keberadaan pesawat itu," ucap Marshal Soviet dan Kepala Staf, Nikolai Ogarkov.
Pesawat Sukhoi Su-15 (Foto: Wikipedia)
Pada 26 September, tim SAR menemukan puluhan sepatu dan pakaian yang diduga milik korban kecelakaan KAL007. Tercatat ada sekitar 213 baju, sandal, dan sepatu, baik laki-laki maupun perempuan, yang berhasil dikumpulkan.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, sejumlah personel militer Soviet akhirnya menemukan bangkai pesawat di kedalaman 174 meter dekat Pulau Moneron. Namun mereka tidak menemukan satupun jasad di dekat puing-puing pesawat tersebut.
Sementara itu, pihak Korsel tidak menemukan bukti apapun dari kotak hitam pesawat. Hingga pada 18 November 1992, Presiden Rusia, Boris Yeltsin, mengunjungi Seoul dan merilis rekaman yang sebenarnya dari peristiwa itu ke Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Setelah diadakan penyelidikan lebih lanjut, akhirnya terungkap kronologi jatuhnya KAL007. Mulai dari komando pihak Soviet untuk menghancurkan pesawat, saat Su-15 meluncurkan rudal, hingga jatuhnya KAL007 di dekat Pulau Moneron.
Pada 1996, pilot Su-15, Gennadi Osipovich, baru mengakui bahwa sebelum rudal diluncurkan, ia tahu KAL007 hanyalah pesawat penumpang.
ADVERTISEMENT
"Saya lihat ada dua jendela di pesawat dan tahu kalau ini adalah pesawat Boeing. Ini pesawat penumpang. Tapi bagi saya ini bukan berarti apa-apa," ungkap Osipovich, dilansir New York Times.
Pesawat Malaysia Airlines MH17 yang jatuh. (Foto: REUTERS/Maxim Zmeyev)
Kini, semua mata kembali tertuju ke Rusia setelah jatuhnya Malaysia Airlines MH17 di Ukraina pada 2014 lalu. Kejadian itu bisa jadi merupakan tanggung jawabnya, bila merujuk pada hasil Tim Investigasi Gabungan yang menyebut instalasi BUK milik militer Rusia telah menembak jatuh MH17.
Akan tetapi, Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah secara tegas membantah tuduhan yang dilayangkan kepadanya.
"Tentu saja tidak," ujar Putin, dilansir AFP.
Pria yang telah memimpin Rusia selama hampir 24 tahun itu juga menyebut hasil investigasi sebagai hal yang pesimistis. "Pasti ada banyak versi lain (dari insiden jatuhnya pesawat)," lanjut dia.
ADVERTISEMENT
Catatan kumparan, pesawat Malaysia Airlines MH17 membawa 283 penumpang dan 15 awak dalam penerbangan dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur ditembak jatuh di desa Hrabove, provinsi Donetsk, wilayah timur Ukraina. Korban terbanyak 193 orang adalah warga negara Belanda, yang antara lain hendak melanjutkan berlibur ke Indonesia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan