Sinyal Politik JK Dorong Anies Nyapres

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jusuf Kalla di Silaturahmi Partai Golkar (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jusuf Kalla di Silaturahmi Partai Golkar (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Wakil Presiden Jusuf Kalla belakangan menampilkan berbagai sinyal soal sikap politiknya di 2019. Setelah mengaku hanya akan ngurus cucu, JK beberapa kali "mempertontonkan" kemesraan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan.

Momen kemesraan ini ditampilkan ke publik dan elite politik. Banyak yang mengartikan ini adalah kode mendorong Anies nyapres di 2019.

Upaya JK yang ingin mendorong Anies itu terlihat dari momen 'kemesraan' yang ia tunjukkan beberapa waktu terakhir. Salah satunya, dengan mengajak Anies semobil dengannya.

Dari catatan kumparan, JK dan Anies berada dalam satu mobil sebanyak 4 kali. Pertama, terjadi pada Oktober 2017, saat itu Anies akan mengantar JK ke Bandara Halim Perdanakusumah, lantaran sang RI-2 itu akan melakukan kunjungan kerja ke Turki.

Sementara tiga momen lainnya, dilakukan dalam waktu sepekan. Yakni keduanya meninjau venue Asian Games di Gelora Bung Karno. Saat itu, Anies mendapat kesempatan untuk diantar JK ke Balai Kota.

Sedangkan momen kedua dan ketiga, terjadi dua hari berturut-turut, yakni saat keduanya menghadiri acara halalbihalal di PBNU dan PP Muhammadiyah. Di ketiga momen itu, Anies berkesempatan semobil dengan JK, menggunakan mobil RI-2.

Wapres Jusuf Kalla beri buku ke Anies Baswedan (Foto: Dok. Jubir Wapres Husain Abdullah)
zoom-in-whitePerbesar
Wapres Jusuf Kalla beri buku ke Anies Baswedan (Foto: Dok. Jubir Wapres Husain Abdullah)

Manuver JK kian ditunjukkan saat ia kerap melakukan pertemuan politik dengan sejumlah elite partai. Sebut saja Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden PKS Sohibul Iman.

Sinyak politik pun ditangkap oleh parpol-parpol. Ketum PAN Zulkifli Hasan bahkan pernah nyeletuk ke JK, menyebut Anies sebagai capres. "Capres kita ini Pak," kata Zulkifki ke JK sambil menunjuk ke Anies saat menghadiri halalbihalal PP Muhamaddiyah.

"Iyalah, " kata JK.

Setelah momen tersebut, PAN langsung menyampaikan sejumlah opsi capres cawapres. Antara lain Anies-AHY, Anies-Aher, Prabowo-Anies, Prabowo-Zulkifki. Nama Anies masuk di 3 simulasi.

Senada dengan PAN, setelah momen kebersamaan JK dan Anies ramai, PKS pun menggodok serius opsi Anies capres. Faktor elektabilitas menjadi salah satu alasan utama.

Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan, peran JK dalam mendukung karier politik Anies bukan kali pertama. Sebab, JK juga turut membantu Anies dalam pencalonannya di Pilgub DKI 2017.

"Kalau melihat sejak awal, JK dekat dengan Anies. Bahkan JK andil di DKI dan meyakinkan biar Sandi jadi nomor dua. Itu peran JK. JK relatif bisa menjinakkan Prabowo bahkan SBY," ucap Adi, saat dihubungi kumparan, Kamis (5/7).

Wapres Jusuf Kalla berbincang dengan Anies. (Foto: Dok. Setwapres)
zoom-in-whitePerbesar
Wapres Jusuf Kalla berbincang dengan Anies. (Foto: Dok. Setwapres)

Adi mengatakan, JK memiliki kemampuan untuk menjembatani Anies ke sejumlah elite parpol seperti SBY hingga Prabowo. Sebab, JK merupakan seorang politikus senior sekaligus representasi umat Islam.

"JK dukung Anies ini menarik. JK dianggap representasi kepentingan umat Islam, pengurus NU, merepresentasikan di luar jawa, jaringan bisnis kuat. Pak JK kalau all out akan menarik," ucap dia.

Namun, Adi memastikan, manuver yang dilakukan JK tak akan agresif. Menurutnya, JK justru akan bergerak dalam senyap.

"JK tidak akan deklarasi dukung siapa saja. Dia main underground. Pak JK lebih soft karena faktor umur, jadi agresivitasnya dikurangi," tutur Adi.

Wapres Jusuf Kalla dan Anies Baswedan. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wapres Jusuf Kalla dan Anies Baswedan. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)

Suara Golkar Pecah

Manuver JK ini tak bisa dilepaskan dari statusnya sebagai politikus Golkar. Hal ini menjadi menarik lantaran saat ini, partai berlambang pohon beringin itu telah mendeklarasikan untuk mendukung Jokowi di laga pilpres.

Adi mengatakan, kader dan elite Partai Golkar bisa saja terpengaruh untuk mendukung Anies, namun tak sampai berpindah koalisi. Sebab, suara di dalam partai, biasanya ditentukan oleh ketua umumnya, dalam hal ini Airlangga Hartarto.

"Bisa saja Golkar terseret tapi pengaruhnya cukup terbatas. Karena secara struktural dukungan kepada calon ditentukan melalui rapimnas. Dan memang dalam sejarahnya bergantung kepada ketumnya," lanjut dia.

Namun, fenomena keterbelahan politik itu dinilai biasa oleh Adi. Sebab, beda pandangan politik juga pernah terjadi di internal Partai Golkar pada Pilpres 2014.

"2014 banyak di bawah dukung Jokowi terutama grupnya Agung Laksono. Dulu Ical dukung Prabowo, tapi banyak di bawah dukung Jokowi. Itu dinamika yang terjadi di Golkar, dan kemungkinan terjadi di 2019," jelas dia.