Pencarian populer

Tanya Jawab Ancol Soal Sirkus Keliling dan Konservasi Lumba Lumba

Polemik Sirkus Lumba-lumba. (Foto: kumparan)

Sirkus lumba-lumba keliling dinilai oleh para penyelenggara sebagai bentuk konservasi sekaligus edukasi yang murah dan menyenangkan bagi anak-anak.

Salah satu pihak yang masih menggelar sirkus lumba-lumba adalah PT Taman Impian Jaya Ancol. Meski begitu, Ancol enggan menggunakan kata 'sirkus' di setiap peragaannya. Dan menggantinya dengan sebutan edutaiment. Serupa hanya berganti nama.

Hal tersebut menuai penolakan dari aktivis hewan yang menganggap bahwa sirkus keliling merupakan bentuk eksploitasi hewan. Lumba-lumba ditangkap dari habitat aslinya dan dibawa berkeliling dari kota ke kota untuk menghibur masyarakat kelas menengah ke bawah.

Menyangkut hal itu, Rica Lestari selaku Manager Communication, serta Yus Anggoro Saputro, Dokter Hewan dan Manajer Konservasi PT. Impian Jaya Ancol, berbincang dengan kumparan pada Senin (29/10). Berikut tanya jawab dengan Ancol:

1. Apa yang dimaksud edutaiment dan apa tujuannya?

Sejak dibukanya Ocean Dream Samudra, itu sebetulnya konsep yang dibawa memang sudah edukasi. Edukasi yang dikemas dalam konsep-konsep yang menyenangkan. Oleh karena itu, kenapa kita sebut namanya edutaiment? Orang yang berwisata ke Ocean Dream Samudra secara tidak langsung dia belajar tentang biota yang ada di laut dan mengenalnya dengan cara yang menyenangkan.

2. Lumba-lumba di Ancol didapatkan dari mana?

Kami melakukan kegiatan breeding di mana itu tidak lagi mengambil sumber daya dari alam, tetapi kita melakukan pengembangbiakan di dalam.

Rica Lestari Coorporate Communication Manajer Ancol (Foto: Dok.Pribadi/Rica Lestari)

3. Lalu bagaimana dengan mobilitas lumba lumba keliling?

Kami ini adalah lembaga konservasi yang tunduk dan patuh terhadap peraturan. Jadi setiap hal yang kami lakukan berdasarkan standar. Standar yang kami miliki itu adalah standar dari IATA, yaitu standar transportasi yang dikeluarkan oleh internasional.

4. Di negara-negara lain sirkus lumba-lumba keliling sudah dilarang karena dinilai mengeksploitasi hewan. Bagaimana tanggapannya?

Sebetulnya kami tidak mendukung bahwa itu dinamakan sirkus. Karena misi kami sendiri adalah mendekatkan atau memberikan informasi kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa biota laut itu perlu dikenal dengan baik.

Jadi kami sangat menghindari kesan dari sirkus. Dalam hal ini atraksi-atraksi yang memang memicu kontroversi. Karena yang kami lakukan adalah si lumba lumba ini bertingkah laku, berpola yang memang ada di alam.

Wawancara dengan Yus Anggoro Saputro, Dokter Hewan dan Manajer Konservasi PT. Impian Jaya Ancol

Dokter hewan Yus Anggoro Saputra. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

1. Bagaimana perawatan lumba lumba di Ancol?

Jadi setiap hari lumba-lumba kita kan kita rawat nih, jadi kita ada program perawatan. Program perawatan itu ada program harian, program 3 bulanan dan program tahunan. Nah hariannya itu yang secara rutin kita lakukan itu pemberian makan, kita sambil melakukan pemantauan, kontrol dari respons makan, gerakan dan juga kepatuhan.

Nah pakan yang kita berikan itu kan harus kita kontrol jumlahnya dan kualitasnya. Jadi kita harus tahu nih pagi dia makan berapa? Siang makan berapa? Dan sore makan berapa? Sehingga kita tahu totalnya. Itu yang harian.

Kemudian ada yang tiga bulanan sekali, tiga bulanan itu kita melakukan kontrol seperti pengambilan darah untuk mengetahui ada enggak sih bakteri yang patogen di dalam paru-paru atau mungkin ada pertumbuhan jamur atau mungkin parasit lainnya.

Nah itu kita kontrol setiap tiga bulan sekali. Nah yang setiap tahun sekali itu kita melakukan kontrol berat badan supaya kita tahu pertumbuhannya dia itu seperti apa nah dari berat badan kita tahu kondisi untuk konsumsi pakan setiap hari.

Jadi kita tahu berat badannya dan pertumbuhannya seperti apa nah kita tentukan nih makannya dia berapa banyak. Jadi semuanya ter-record.

Lumba-lumba Ancol. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

2. Lalu, bagaimana dengan program breedingnya?

Nah kalau perkembanbiakan kan kita harus tau individunya, individu terlebih dahulu. Jadi antara satu lumba lumba dengan lumba lumba lainnya kan enggak bisa kita samakan.

Jadi masing-masing itu ada nama dan setiap nama itu kan ada record di belakangnya jadi untuk lumba lumba yang dewasa kelamin, itu paling tidak usianya di atas 8-10 tahun nah itu baru kita bisa gunakan sebagai kegiatan breeding.

Nah itu kita pilih, antara betina dan pejantan itu kita pilih mana sih kira-kira yang memiliki bibit genetis yang bagus. Nah ketika kita sudah dapat pejantan dan betina lalu kita coba gabungkan dan ternyata cocok, misalkan.

Nah itu kita lakukan kontrol. Pertama itu dari respons makan dan gerakan. Terlihat enggak proses perkawinan, nah misalkan sudah terlihat proses perkawinan tiap bulan kita coba cek level hormon progesteron kita ambil dari darah di ekor.

Kita cek kimia darah, level hormon progesteron di atas dua nanogram per mili indikasi hamil. Nah kalau sudah ada di atas dua nanogram brati kita bisa periksa program berikutnya yakni ultrasonografi dan ini kita lakukan tiap bulan.

Sehingga kita tahu perkembangannya apakah sudah mulai pertumbuhan tubuh, perkembangan jantung, besar kepala dan tubuh. Paling tidak bisa kita perkirakan lah sudah siap lahir atau belum.

Lumba-lumba Ancol. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

3. Setelah melahirkan, bagaimana nasib bayi lumba lumba?

Nah jadi gini, fungsi kita kan sebagai salah satu lembaga konservasi kita sebagai bank genetis. Paling tidak kita ada data nih, data genetik.

Kelahiran lumba lumba itu kan salah satu fungsi kita sebagai lembaga konservasi untuk mengembanbiakan dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Jadi setiap kehamilan dan kelahiran yang terjadi itu menjadi record buat kita.

Dan itu menjadi data yg sangat berharga sebetulnya, di samping kita mempunyai baby.

4. Bicara konservasi yang dilakukan oleh Ancol, LIPI menyebut konservasi terbaik dilakukan di habitat aslinya. Bagaimana tanggapannya?

Konservasi itu kan bisa dilakukan secara eksitu dan insitu. Yang kita lakukan secara eksitu di sini dengan mengembanbiakkan. Tetapi kita link kepada insitu, insitu itu dengan melakukan penyelaman. Rescue atau pelepasliaran kembali.

Nah pada kasus ini, yang bisa kita lakukan ialah penyelamatan atau rescue. Dan itu sudah pernah dilakukan di Gelanggang Samudra atau Ocean Dream Samudra PT. Taman Impian Jaya Ancol.

Kita pernah melakukan rilis di Surabaya, kita pernah melakukan penyelamatan dan penggiringan kembali ke laut di tahun 2012 di Medan, Langkat, Sumatera Utara.

Lumba-lumba Ancol. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Itu bisa kita lakukan karena kita mempunyai basic nih di Ancol, kita dapat knowledge nya di sini dan setiap tahun di Ancol sendiri ada kegiatan penelitian, research atau kegiatan magang.

Yang biasa dilakukan oleh mahasiswa dari IPB UGM UI dan macam-macam dan kita sudah menghasilkan lah beberapa hasil dari itu. Nah ini yg kita dapatkan di sini ini yang kita coba terapkan kepada alam. Apa sih yg bisa kita lakukan?

Jangan sampai kegiatan yg kita lakukan, niatnya menolong tp sebetulnya itu mungkin menambah ya kebalikannya lah ya.

5. Apakah nantinya lumba lumba di konservasi Ancol ini akan dirilis kembali?

Nah rilis untuk lumba lumba akan sedikit berbeda karena lumba lumba itu kan hewan yang komunal. Dia berkelompok. Dimana kegiatan dia dalam melakukan, pencarian makan, reproduksi itu tergantung dari kelompoknya.

Nah apabila kita melakukan rilis tanpa tahu apakah dia bisa diterima oleh kelompoknya ya kemungkinan besar akan susah untuk survive.

Lumba lumba yang sudah kita rawat di sini, di Ancol, itu untuk melakukan rilis agak berat. Untuk melakukan rilis kan harus dilakukan pemeliharaan kembali dan itu agak belum bisa dilakukan.

Lumba-lumba Ancol. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

6. Apakah ada umur pensiun bagi lumba lumba sirkus?

Nah jadi lumba-lumba itu kan dirawat di Ancol, sebagai LK nah kita kan harus memberikan enrichment atau pengayaan. Supaya dia tidak merasa, tingkah lakunya atau kegiatannya monoton begitu.

Enrichment ini bisa macam-macam. Kita usahakan tidak memberikan ikan itu secara gratis atau banyak. Misalkan kita punya ikan, seember kita tuangkan begitu, itu malah tidak baik untuk kesehatan lumba lumba. Dan kita lebih kepada, pendekatan, hand feeding dan ketika hand feeding kita lakukan interaksi.

Jadi kegiatan edukasi yang dilakukan di Ancol itu base kepada perilaku dia. Perilaku dia melompat, baru kita berikan dia makan. Itu semacam interaksi sebetulnya supaya lumba lumba nya menghindari rasa bosan. Nah itu lah pentingnya program enrichment begitu.

Lumba-lumba Ancol. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

7. Apakah ada lumba-lumba hasil tangkapan di Ancol?

Ada yang kita sengaja untuk penangkapan, bisa memang untuk pencarian bibit genetik yang lebih baik. Ada yang memang mungkin terdampar yang kita rescue tapi tidak bisa kita langsung rilis karena memang kondisinya yang kurang baik dan juga hasil breeding di sini.

Dan terakhir kita penangkapan dalam rangka untuk pencarian bibit indukan tahun 2007-2006.

8. Sudah ada berapa banyak lumba lumba yang dirilis ?

Kita pernah melakukan konservasi insitu dari tahun 2007, rilis killer whale dua ekor kemudian tahun 2013 ada satu ekor indo-pasifik dolphin ini hasil rescue dan rilis.

Ketika kita rescue hasilnya jelek kita rawat. Ketika perawatan ya berarti ketika sudah skeptif agak susah untuk dilakukan rilis lagi.

Simak ulasan lengkap sirkus lumba-lumba keliling di konten spesial kumparan dengan mengikuti topik Sirkus Lumba-lumba

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57