Transformasi Desa di Banda Aceh, dari Kumuh hingga Instagramable

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Warna-warni dinding mengapit lorong kecil Gampong (desa) Lhong Cut, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Tanaman bunga hias tertata rapi sepanjang ruas jalan. Di sela-selanya disisipi kursi pemanis taman. Seorang wanita mengenakan kemeja flanel, menjinjing tas ransel berjalan santai.

Sesekali pandangan tampak menoleh ke kiri dan kanan, menatap lukisan ragam tema menyulut perhatian. Wanita itu mengeluarkan gawai dari saku baju, lalu berswafoto di balik salah satu dinding berlatar belakang gambar hati.

“Ini baru bagus,” ujar Fatma (27) seorang warga Banda Aceh saat sedang berkunjung ke Gampong Warna-warni.

Gampong Lhong Cut merupakan salah satu desa yang masuk dalam Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Banda Aceh. Desa yang dulunya semrawut dan kotor, kini bersolek menjadi lokasi Instagramable.

Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Saat kumparan menyambangi kampung tersebut, Jumat (15/2), tampak kondisi lingkungan bersih dan rapi. Wajah kampung Lhong Cut kini berubah menjadi lebih modern.

Program Kotaku memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat terutama di kawasan kumuh. “Dulunya tempat ini sangat kumuh tapi sekarang disulap menjadi taman asri warna-warni,” kata Fatma.

Dengan wajah warna-warni bak pelangi tersebut, bagi Fatma, memberikan kesan semangat dan jadi lokasi menarik untuk berswafoto. Apalagi dibalut dengan ragam macam mural.

“Menurut saya lokasi seperti selain bermanfaat untuk keindahan. Juga bisa dijadikan sebagai lokasi wisata,” ujarnya.

50 Desa di Banda Aceh Disulap Menjadi Bebas Kumuh

Melalui program Kotaku, Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Dinas Cipta Karya, telah menyulap sebanyak 50 desa menjadi desa bebas kawasan kumuh. Desa-desa ini tersebar di sejumlah wilayah Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan, pada 2017 pemerintah telah memoles sebanyak 15 desa. Sedangkan pada 2018 dengan anggaran senilai Rp 38,2 miliar bersumber dari APBN milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), ada 35 desa yang dibuat jadi lebih baik.

“Program ini menyentuh dan bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Buktinya adalah lorong ini (Desa Lhong Cut). Dulu ada got (gorong-gorong) besar, bahkan menjadi sarang nyamuk. Sekarang sudah indah jauh dari penyakit dan bisa dinikmati oleh masyarakat,” kata Aminullah.

Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Aminullah mengatakan, dalam menjalankan program Kotaku pihaknya juga bekerja sama dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Anggaran yang dikucurkan ke setiap gampong dikerjakan oleh masyarakat masing-masing desa dengan sistem swakelola.

“Pemerintah hanya merekomendasi desa-desa mana saja. Tidak ada pegang dana, sama sekali nol. Kita sudah menjalankan menurut petunjuk pusat,” ujarnya.

Aminullah menargetkan di tahun 2020 Banda Aceh akan bebas dari kawasan kumuh. “Sisanya yang masih belum ter-cover akan terus dilaksanakan. Di tahun 2020 Banda Aceh harus bebas dari kumuh,” ungkapnya.

Selain Gampong Lhong Cut, melalui program Kotaku salah satu desa di kawasan Setui yang dulunya sangat kumuh kini telah berganti wajah menjadi lokasi wisata. Dengan warna-warna serta ragam lukisan di setiap dinding rumah, kata Aminullah, akhir-akhir ini wisatawan yang datang ke Aceh kerap berkunjung ke sana.

Wisatawan berswafoto di balik salah satu dinding berlatar belakang gambar love di Gampong Lhong Cut, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Sementara itu, Kadis Perkim Kota Banda Aceh Jalaluddin mengungkapkan, pihaknya bersama dengan BKM, KSM dan masyarakat terus berupaya keras merealisasikan program Kotaku. Setelah sejumlah infrastruktur selesai dibangun di 35 gampong, program ini akan dilanjutkan dengan menangani sisa kawasan kumuh yang hanya tersisa sekitar 21 hektar meliputi dua gampong.

“Total kawasan kumuh yang sudah ditangani mencapai 773 hektare dari 794 total kawasan kumuh di Banda Aceh. Sisanya sekitar 21 hektare lagi, dan insyaallah sesuai target 2019 ini akan tuntas,” ungkapnya.

Di samping itu, Ketua BKM Amiruddin Usman Daroy menjelaskan, kriteria pemilihan desa yang dianggap kumuh, dinilai dari segi kebersihan, tata letak bangunan, drainase, limbah sampah, dan air bersih.

Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Kelima aspek ini benar-benar dinilai sehingga setelah itu baru ditetapkan menjadi desa yang masuk dalam kategori Kotaku. Setelah ditetapkan, pengerjaan desa Bebas Kumuh ini akan dilakukan oleh masing-masing masyarat desa yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat.

“Jadi pengerjaan ini murni masyarakat setempat yang kerjakan, karena kami berpikir ingin hasil yang maksimal. Tidak mungkin masyarakat dia kerjakan dengan asal-asalan,” pungkasnya.

Suasana Gampong Lhong Cu yang kini menjadi desa (gampong) warna-warni. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan