Wajah Indonesia di Pos Perbatasan RI-Malaysia

Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau, Kalimantan Barat, saat ini sudah selesai pengerjaannya. Saat kumparan (kumparan.com) mengunjungi PLBN Badau dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kamis kemarin, terlihat pos perbatasan antara Indonesia-Malaysia, ini sudah sangat bagus.
Gedung PLBN Badau ini kental akan budaya lokal Kalimantan. Bangunannya mengadaptasi khas Rumah Panjang, dilengkapi penggunaan relief di gedung tersebut. Selain itu, terlihat telah diterapkan penerapan prinsip bangunan ramah lingkungan yakni dengan banyaknya kaca untuk membantu penerangan tanpa menggunakan lampu.
Baca juga: Hari 2 Ekspedisi Perbatasan RI-Malaysia: Jalan Mulus di Tapal Batas

Perlengkapan di pos lintas batas untuk arus keluar masuk barang dan orang juga sudah lengkap, ada mesin x-ray dan karantina perikanan dan pertanian tersedia disini. Toiletnya juga resik. Pos ini diharapkan dapat melayani hingga 360 pelintas per hari sampai dengan tahun 2025.
Pos perbatasan yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 16 Maret 2017 tersebut berada di atas lahan seluas 8,8 Hektar dengan total luas bangunan 7.619 meter persegi, dan memakan biaya pembangunan sebesar Rp 153 miliar.

PLBN Badau ini terhitung sepi, hanya ada beberapa warga Malaysia ataupun Indonesia yang melintas. Badau memang bukan akses utama menuju ke Malaysia, berbeda dengan Entikong yang merupakan akses terdekat untuk menuju Kuching Malaysia.
"Sekarang sudah mulai ramai, akhir pekan bisa sampai puluhan," ujar salah satu petugas PLBN, Nurhayati, saat ditemui kumparan (Kumparan.com), di Badau, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat.
Baca juga: Membelah Hutan Belantara Bangun Jalan Perbatasan RI-Malaysia

Adapun bangunan yang berada pada zona inti meliputi Bangunan Utama PLBN, Bangunan Pemeriksaan Kargo, Pos Lintas Kendaraan Pemeriksaan, Bangunan Utilitas, Monumen, Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan. Kebanyakan warga yang melintas ke pos Badau untuk melakukan aktifitas berbelanja.
"Kebanyakan pergi ke pasar di Malaysia," tambah Nurhayati.
