kumparan
26 Sep 2018 5:41 WIB

Yuk Berkenalan dengan Para Sobat Air ADES di Conservacation NTT

Koordinator Program Coca Cola Foundation Indonesia, Agus Priyono. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Setelah meninggalkan Yogyakarta, keseruan Sobat Air ADES kini hadir di Nusa Tenggara Timur. 10 Sobat Air ADES yang beruntung tersebut berkesempatan belajar konservasi air sambil berlibur bersama ADES.
ADVERTISEMENT
Yuk, berkenalan dengan Sobat Air ADES di Conservacation NTT yang ikut dengan beragam motivasi seru!
1. Muhammad Asyraf
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@mydaypack)
Peserta asal Makassar ini sehari-hari aktif sebagai travel blogger. Motivasi cowok asli Bugis ini mengikuti Sobat Air ADES Conservacation tidak jauh-jauh dari kehidupannya sehari-hari.
"Saya lahir dan besar di keluarga petani. Makanya, mungkin sudah jadi kodratnya untuk ikut peduli dan melindungi alam," kata Asraf.
Tak hanya itu, sebagai orang yang aktif di dunia sukarelawan, Asraf mengaku merasa tertantang ikut belajar konservasi air sembari berlibur.
"Makanya saya senang, ADES menggelar kegiatan seperti ini. Dan Alhamdulillah, saya terpilih," pungkasnya.
2. Kara Nisa
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@karandoeana)
Lain lagi dengan peserta asal Jakarta ini. Kara mengaku sudah sejak lama ingin bergabung dengan kegiatan volunteer yang berhubungan dengan lingkungan.
ADVERTISEMENT
"Terus, kebetulan ada ADES Concervacation ini. Dan alhamdulillah bisa keterima, jadi sekalian," kata Kara.
Kara juga mengaku pada dasarnya adalah pecinta traveling. Namun, ia ingin traveling bukan hanya sekadar berjalan-jalan dan memamerkan foto saja, tetapi juga memberikan dampak positif dengan aksi nyata.
"Pada dasarnya aku suka jalan-jalan, tapi lagi mikir, kira-kira bisa lakuin hal positif apa selagi jalan-jalan?" pungkasnya.
3. Evrina Budiastuti
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@evrinasp)
Berkarier sebagai penyuluh pertanian, membuat peserta asal Bogor ini dekat dengan lingkungan. Bagi Evrina, ADES Concervacation bukan hanya sekadar jalan-jalan saja, tetapi juga kesempatan 'mencuri ilmu'.
"Saya memang suka dengan konservasi, apalagi kerjaan saya tiap hari dengan para petani. Saya ingin menambah ilmu sehingga bisa diadopsi dan dibagikan dengan para petani binaan saya," tutur Evrina.
ADVERTISEMENT
Untungnya, Evrina juga merupakan orang yang gemar traveling, terutama ke daerah perpaduan bukit dan pantai. Sebut saja Ternate dan Tidore.
"Selain itu juga lokasi kita nanti. Itu juga termasuk wisata impian saya, perpaduan pantai dan bukit. Terima kasih ADES," kata dia.
4. I Made Kusuma Arya Putra
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@imadearya)
Pegiat karang taruna asal Surabaya ini memang sudah tidak asing dengan kegiatan konservasi air. Ia bahkan pernah mengikuti kongres sungai dan patroli sungai.
"Sejak remaja, waktu SMA, saya sudah mulai cinta lingkungan, suka mendaki gunung, pro-konservasi. Jadi saya pikir, apa salahnya coba ikut," kata Made.
Made mengaku akan membawa ilmu yang ia dapatkan dari Conservacation NTT ini ke lingkungannya. Apalagi, Made mengaku daerah rumahnya memang dilewati beberapa arus sungai.
ADVERTISEMENT
"Beberapa sudah dinormalisasi. Dan seperti di Embung Cinta ini, mungkin kita akan terapkan juga di lingkungan sehingga bisa dijadikan salah satu objek wisata," pungkasnya.
5. I Dewa Agung Gd.Yogeswara Aditya N
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@heyho_traveler)
Sebagai seorang travel blogger, pemuda asal Bali ini mengaku sangat prihatin dengan kondisi lingkungan. Apalagi, ia mengakui, isu tersebut tidak terlalu dipedulikan oleh generasi milenial.
"Tapi sebagai milenial, gue mau kontribusi langsung ke masyarakat. Contohnya ya dengan ikut Conservacation ini," ungkap Adit.
Sebagai penulis, ia menyebut akan mempublikasikan ilmu barunya dalam akun blog miliknya. Ia juga berharap, pengetahuan soal konservasi air bisa diterapkan juga di daerahnya, terutama di Nusa Penida.
"Di Nusa Penida, kondisi geografisnya sama dan mungkin gue akan coba sebarkan hal yang sama, apa yang gue dapet di sini, buat gue sebarin orang-orang di Nusa Penida," tutupnya.
ADVERTISEMENT
6. Taumy Alif Firman
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@taumy.alif)
Pemuda asal Sausu, Sulawesi Tengah, ini sehari-hari berprofesi sebagai chemical enginering. Meski begitu, masalah lingkungan tetap menjadi salah satu minatnya sejak dulu.
"Saya lahir dan tumbuh di pesisir pantai. Dan sama seperti di sini, sejak kecil di daerah saya juga kesulitan air bersih," kata Taumy.
Pengalaman itulah yang membuat Taumy terpacu untuk mengikuti Conservacation dari ADES. Sebab, salah satu misi yang ingin ia bawa adalah semangat dalam mengadakan dan mengelola air bersih dan air minum.
"Saya ingin membuka pikiran bahwa air itu bukan hanya untuk minum saja, tapi untuk segala hal dalam kehidupan kita," tuturnya.
7. Dody Sanjaya
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@dsenjaya89)
Hobi traveling membawa pria asal Jakarta ini aktif ke dalam komunitas backpacker. Namun, ia berprinsip, traveling juga harus membawa pengaruh baik bagi daerah yang dikunjungi.
ADVERTISEMENT
"Karena kalau jalan-jalan, traveling, tapi enggak ada manfaatnya ya buat apa?" ujar Dody.
Bagi Dody, Conservacation yang digelar ADES ini merupakan kegiatan yang sangat ideal. Sebab, tak hanya menikmati keindahan alam, para Sobat Air ADES juga diberi kesempatan untuk menimba ilmu, yang nantinya bisa digunakan di lingkungan masing-masing.
"Apalagi ada kata vacation-nya, jalan-jalan gratis," tutupnya.
8. Priscilla Nadia Putri
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@pnadiaputri)
Keingintahuan mahasiswa asal Yogyakarta ini terhadap konservasi air justru muncul dari minatnya di dunia fashion. Nadia sadar, kualitas air bahkan sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah produk fashion.
"Dalam produksinya, proses pewarnaan kain dengan pewarna alami itu erat hubungannya dengan air. Makanya, kualitas air yang buruk juga akan berpengaruh dengan kualitas warna kainnya," tutur Nadia.
ADVERTISEMENT
Saat mencari tahu soal cara mengatasi masalah tersebut, Nadia menemukan iklan soal Conservacation dari ADES. Karena motivasi yang senada, Nadia memutuskan untuk mencoba mendaftar sebagai Sobat Air ADES dan berhasil terpilih.
"Awalnya cuma lagi belajar soal air aja dan kebetulan nemu, nyoba daftar dan syukur kepilih," tutupnya.
9. Muhammad Irfan Kholiudin
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@udafanz)
Pemuda berusia 30 tahun ini berasal dari Bukitinggu, Sumatera Barat. Sehari-hari ia merupakan seorang freelancer yang tertarik dengan kelestarian lingkungan.
"Saya tertarik karena melihat di lingkungan saya, kesadaran masyarakat sekitar soal air bersih masih sangat kurang," ungkap Irfan.
Untuk itu, ia berharap bisa belajar banyak soal konservasi air dari petualangannya di Conservacation NTT. Selain itu, ia juga berharap bisa berperan lebih dalam menjaga kelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT
"Saya ingin belajar tentang konservasi air, agar bisa lebih berperan dalam kelestarian sumber daya alam," tuturnya.
10. Haerul Pahmi Haris
Pejuang Air Ades. (Foto: Instagram/@fahmy_haris)
Perawat asal Lombok ini mengaku masalah lingkungan masih belum menjadi concern masyarakat di daerahnya. Tak hanya infrastruktur, ia menuturkan, masalah sampah masih belum terawat dan banyak limbah.
"Melalui acara ini saya ingin gimana setidaknya dengan kontribusi ADES ini saya ingin bagikan ilmu dengan masyarakat," kata Haris.
Usai bertualang di Conservacation, ia akan langsung mengajak masyarakat mengaplikasikan ilmu yang ia dapat. Dimulai dari hal yang sederhana, seperti pengolahan sampah dan mendedikasikan hidup bersih dan sehat.
"Selain itu juga menyadarkan masyarakat, kalau enggak jaga lingkungan akan dapat penyakit ini, ini. Macam-macam tekniknya, tapi lebih efektif dengan beach meet up misalnya, atau lewat video," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·