Kumparan Logo

23 Tahun Disangka Pejantan, Seekor Burung Hantu Tiba-tiba Bertelur

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Burung hantu. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Burung hantu. Foto: Pixabay

Seekor hantu elang bernama Kaln telah hidup selama 23 tahun di Barn Owl Centre, sebuah tempat penangkaran burung hantu di Gloucester, Inggris. Selama 23 tahun itu pula, para pawang di tempat penangkaran mengira Kaln sebagai burung pejantan. Tapi yang mengejutkan, belum lama ini, tepatnya pada 23 Juni 2019, Kaln tiba-tiba bertelur.

Vincent Jones, pendiri sekaligus pengawas tempat penangkaran tersebut, mengatakan kejadian itu merupakan kejutan bagi semua staf pekerjanya yang selama ini mengurus Kaln. "Saya pikir dia (Kaln juga) sama terkejutnya dengan kita," kata Jones, sebagaimana dilansir Live Science.

Untuk mengetahui jenis kelamin burung hantu memang merupakan perkara yang rumit. Sebab, burung hantu jantan dan betina secara lahiriah memiliki bentuk tubuh yang kurang lebih identik, sebagaimana menurut sebuah laporan penelitian yang diterbitkan di Journal of Heredity pada 24 Januari 2008 lalu. Tidak seperti mamalia dan makhluk lain, tidak ada perbedaan yang jelas antara alat kelamin mereka.

Bahkan, hasil tes genetik juga tidak selalu bisa menunjukkan perbedaan yang jelas antara burung hantu berjenis kelamin jantan dengan burung hantu berjenis kelamin betina di banyak spesies mereka, masih menurut laporan tersebut. Burung hantu berjenis kelamin jantan memiliki kromosom Z dan W, sementara burung hantu berjenis kelamin jantan memiliki dua kromosom Z.

Burung hantu. Foto: Pixabay

Namun, kromosom-kromosom itu cukup mirip sehingga sulit dibedakan. Para peneliti yang menyusun laporan penelitian tersebut secara khusus pernah mencoba untuk membedakan gen burung hantu elang Eurasia jantan dan betina, tetapi akhirnya mereka gagal.

Selain karena jenis kelamin burung hantu memang sulit dibedakan, kata Jones, tempat penangkaran burung hantunya itu juga tidak memiliki minat untuk mengetahui jenis kelamin biologis dari setiap burung hantu yang mereka tampung. Sebagian besar burung hantu di tempat penangkarannya merupakan burung hantu yang diselamatkan dari para pemelihara atau pengoleksi serta pemburu burung hantu.

Barn Owl Centre tidak memiliki minat dalam pengembangbiakan burung hantu, tapi hanya merehabilitasi mereka. Oleh karenanya, mereka tidak begitu peduli pada jenis kelamin burung-burung yang mereka tampung itu.

"Kami memiliki 46 burung," kata Jones. "Jika mereka memiliki perilaku pejantan, kami katakan mereka pejantan. Jika mereka memiliki perilaku betina, kami katakan mereka betina."

embed from external kumparan

Biasanya, menurut National Aviary, burung hantu elang Eurasia betina akan menghasilkan enam telur dalam periode sebulan di akhir musim dingin. Kaln tidak pernah melakukan itu meskipun sudah selama 23 tahun tinggal di tempat penangkaran tersebut

"Dia selalu menunjukkan tanda-tanda sebagai pejantan," tambah Jones.

Kejadian bertelurnya Kaln ini, menurut Jones, tidak akan mempengaruhi pandangan para petugas di penangkaran terhadap burung hantu tersebut. "Tidak ada bedanya dengan orang. Tidak ada perbedaan antara pejantan dan betina. Kita semua individu," katanya. "Kaln adalah individu. Dia individu yang sangat istimewa. Sekarang kami katakan dia (burung hantu) tomboi."

Yang terpenting, menurut Jones, kini kondisi Kaln kondisi sudah mulai membaik. Sesaat setelah bertelur, Kaln tampak “tertekan” dan menunjukkan beberapa masalah kesehatan. Namun kini, Jones mengatakan, Kaln sudah tampak lebih aktif dan ceria.

"Dan itulah yang benar-benar penting bukan? Kesehatan burung hantu," pungkas Jones.