Pencarian populer

Ada Perkara Hoaks Medis di Balik Hilangnya 4 Gigi Kintaan Mary

Kintaan Mary. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Saat Kintaan Mary tersenyum lebar, orang yang berhadapan dengannya akan segera tahu gadis itu telah kehilangan empat gigi seri atasnya. Meski begitu, perempuan bernama asli Kintan Laksana Putri itu tetap percaya diri dengan penampilannya yang apa adanya.

Alasan Kintaan Mary memilih tak menggunakan gigi palsu adalah satu hal. Penyebab Kintaan kehilangan empat giginya adalah hal lain yang lebih penting untuk menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Hilangnya empat gigi Kintaan bermula pada 2011, ketika dia untuk pertama kalinya memasang behel fesyen seharga Rp 250 ribu dari seseorang yang “katanya, sih, dokter.” Namun, kawat gigi itu hanya bertahan beberapa hari. Sebab, Kintaan mulai merasakan efek samping yang tidak mengenakan pada giginya.

"Aku cuma pakai beberapa hari, karena pemasangannya enggak benar. Kawatnya bengkok seperti kabel telepon, terus bau dan berkarat. Setelah itu aku paksain aja copot behelnya pake tang," ujar Kintaan saat ditemui kumparanSAINS pekan lalu di Jakarta.

Meski behel tersebut sudah dicopot, masih ada sesuatu yang tertinggal di dalam mulut Kintaan. “Ternyata ada sesuatu warnanya cokelat segede gigi di belakang gigi taring,” tutur perempuan berhijab yang berprofesi sebagai pembalap motor itu.

Kintaan Mary. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Berselang tahun, Kintaan merasakan sesuatu berwarna coklat yang mirip karang gigi itu kian bertambah besar. Setiap kali menggosok gigi, ia merasa terganggu dengan bagian yang cokelat tersebut.

Kondisi itu membuat Kintaan merasa perlu memeriksakan giginya. Pada tahun 2012 Kintaan mendatangi sebuah klinik di Bandung yang menjadi tempat praktik “tukang gigi yang mengaku ahli gigi.”

“Dia (tukang gigi) bilang, giginya harus ditambal. Dia janjiin bisa rapi, tapi agak maksain nambalnya. Terus dia nawarin promo pemasangan behel, biayanya 1,5 juta, sudah termasuk behel dan tambal,” tutur mojang asal Bandung itu.

Dara kelahiran 1 November 1998 itu rupanya kembali tergiur untuk kembali memasang kawat gigi dengan iming-iming harga promo yang murah tersebut. Setelah pasang behel lagi pada tahun 2012, Kintaan rutin kontrol dan mengganti kawat giginya tiap enam bulan sekali di tukang gigi tersebut.

Pada saat itu, Kintaan belum menyadari bahwa dari hari ke hari, selama enam tahun, kondisi giginya telah semakin bertambah buruk. Barulah pada September 2018, saat sedang ngemil, ia merasakan tambalan giginya itu goyang. Tambalan gigi tersebut akhirnya copot dan terlihatlah bahwa sesuatu berwarna cokelat yang “ditutup-tutupi” oleh si tukang gigi itu telah tumbuh membesar dan menyebar.

“Besoknya aku langsung ke dokter gigi. Katanya gigi aku tuh infeksi. Gigi yang cokelat itu sudah merambat ke gusi, sudah masuk ke akar,” ujar Kintaan yang tidak bisa melupakan pengalaman getirnya tersebut.

Agar infeksi tersebut tak menyebar lebih luas, Kintaan harus merelakan empat gigi seri depannya dicabut. Dan itulah kisah di balik hilangnya empat gigi pembalap yang memiliki ratusan ribu follower di Instagram tersebut.

Ilustrasi gigi kawat. Foto: Getty Images

Perkara Hoaks Medis dan Tips Memilih Klinik yang Tepat

Menurut Rifqie Al Haris, dokter gigi lulusan Universitas Gadjah Mada, apa yang dialami Kintaan termasuk dalam perkara hoaks medis. Hoaks artinya berita bohong atau informasi palsu. Medis berarti berhubungan dengan kedokteran. Adapun kedokteran memiliki arti segala sesuatu yang berhubungan dengan dokter atau pengobatan penyakit. Jadi, hoaks medis adalah informasi palsu yang berhubungan dengan pengobatan penyakit.

Rifqie menyebut setidaknya ada lima jenis hoaks yang biasa dibuat oleh kalangan praktisi gigi ilegal, yakni “hoaks legalitas, janji-janji hasil perawatan, metode perawatan, profesi, dan istilah medis.” Dalam kasus yang dialami Kintaan, si tukang gigi memberi janji bisa mengatasi permasalahan gigi pembalap muda itu, tapi ternyata hasilnya palsu.

Kepalsuan ini tak hanya pernah dialami Kintaan. Ada banyak korban tukang gigi lainnya dan beberapa di antaranya bahkan mengalami nasib lebih nahas. Ada korban yang sampai mengalami kanker stadium akhir, ada yang mengalami pendarahan sampai meninggal, begitulah tutur Rifqie yang kerap mendapat laporan mengenai korban tukang gigi.

Laporan semacam itu banyak menghampiri Rifqie karena selain berpraktik sebagai dokter, ia bersama 11 rekan sejawatnya juga sibuk mengelola akun Instagram bernama KorbanTukangGigi (KorTuGi) yang dibuat sejak Agustus 2016. Akun medsos yang bergiat memberantas hoaks medis terkait perawatan gigi itu belakangan semakin sering mendapat laporan dari korban-korban tukang gigi.

drg. Rifqie Al Haris, dokter gigi pengelola akun Instagram KorTuGi. Foto: Istimewa

Keberadaan tukang gigi di Indonesia sendiri sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014. Peraturan itu menyebutkan bahwa pekerjaan para tukang gigi yang diizinkan hanyalah membuat dan memasang gigi tiruan lepasan. Jadi, mereka sebenarnya tidak memiliki kewenangan dan bahkan terlarang untuk membuat tambalan gigi, mencabut gigi, memasang kawat gigi, maupun melakukan tindakan perawatan lain atas masalah kesehatan gigi.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengatakan Permenkes itu sengaja dibuat untuk mencegah timbulnya korban oknum tukang gigi. Kepada kumparanSAINS, Widyawati mengakui bahwa “memang betul ada beberapa beberapa praktik salon gigi atau ahli gigi ilegal” berdasarkan hasil temuan unit teknis terkait di Kemenkes.

“Dari informasi yang didapatkan, ada anggota masyarakat yang menjadi korban. Hanya sayangnya, korban enggan melaporkan. Tentu kami turut prihatin dan menyesalkan hal tersebut,” ujarnya.

Padahal, jika ada praktik salon gigi atau tukang gigi ilegal yang memakan korban, Kemenkes punya kewajiban untuk menindaklanjutinya dengan melakukan investigasi dan klarifikasi melalui Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan bersama-sama mereka turun ke lapangan untuk mendapatkan informasi yang akurat. Dari situ, pelaku bisa ditindak secara hukum.

Namun begitu, bagaimanapun, yang paling bertanggung jawab atas kesehatan gigi kita adalah diri kita sendiri. Jadi, Widyawati mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan berobat di salon gigi atau klinik gigi ilegal yang tidak berizin.

“Pelayanan kesehatan gigi saat ini sudah ditanggung oleh program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), sehingga masyarakat dianjurkan untuk mendapatkan layanan kesehatan gigi di fasilitas kesehatan milik pemerintah atau swasta terdekat yang sudah berizin resmi,” kata perempuan yang juga menyandang gelar dokter gigi itu.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg. Widyawati, MKM. Foto: Sehatnegeriku/flickr

Rifqie Al Haris secara khusus memberikan tips dalam memilih klinik kesehatan yang tepat, termasuk klinik gigi. Cara termudah, menurutnya, adalah dengan memeriksa izin praktik dokter di klinik yang bersangkutan. Cara mengeceknya adalah dengan mengisi nama dokter yang bersangkutan ke kolom di situs www.kki.go.id/cekdokter/form yang berisi database seluruh dokter, termasuk dokter gigi, yang terdaftar resmi di Indonesia.

Tindakan tidak memilih klinik gigi yang tepat dengan cara tersebut telah membuat Kintaan masuk ke dalam akun Instagram KorTuGi yang digawangi Rifqie. Kintaan sengaja melaporkan dan membagikan pengalaman buruknya tersebut kepada KorTuGi agar tidak ada orang lain yang bernasib seperti dirinya, yakni menjadi korban tukang gigi.

Kintaan tak masalah foto wajahnya yang tampak ompong menghiasi salah satu postingan KorTuGi dan dilihat banyak orang. Ia memang sengaja tidak memakai gigi palsu karena merasa nyaman tampil apa adanya.

Kintaan Mary. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Selain itu, Kintaan juga punya pertimbangan bahwa uang untuk membuat gigi palsu lebih layak dialokasikan untuk keperluan lain dirinya dan keluarganya. Antara lain, untuk membayar cicilan rumah dan membeli susu adiknya yang masih kecil. “Karena (sekarang) aku lebih mementingkan kebutuhan daripada keinginan,” katanya.

Dulu, Kintan remaja memang sempat mengikuti tren behel fesyen. Namun kini, ia sudah menjelma perempuan dewasa yang tak peduli pada penampilan artifisial dan memilih untuk tampil apa adanya.

---

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31