kumparan
3 Mei 2018 14:49 WIB

Belajar dari Sembako Maut di Monas, Bagaimana Kerumunan Bisa Membunuh?

Suasana pembagian sembako di Monas. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
Monas menjadi saksi atas tragedi menyedihkan meninggalnya dua orang anak, Mahesa Junaidi dan Adinda Rizki, pada acara bagi-bagi sembako yang diadakan Forum Untukmu Indonesia (FUI) pada Sabtu (28/4) lalu.
ADVERTISEMENT
Meski penyebab meninggalnya dua anak itu masih belum diketahui secara pasti, besar kemungkinan penyebab kematian mereka adalah akibat berdesak-desakan saat pembagian sembako.
Sebenarnya, acara kerumunan memang rentan untuk merenggut korban. Pada bulan lalu misalnya, dalam acara Sukabumi City Fest 2018 terdapat seorang peserta yang pingsan akibat berdesakan di bawah terik matahari. Contoh-contoh lain soal jatuhnya di korban di acara kerumunan juga sudah sering diberitakan di berbagai media.
Suasana pembagian sembako di Monas. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
Yang menjadi pertanyaan, sebenarnya mengapa acara kerumunan rentan merenggut korban? Bagaimana kerumunan bisa membunuh seseorang atau bahkan beberapa orang sekaligus?
Menurut Stephen Reicher, profesor psikologi sosial di University of St. Andrews, Skotlandia, kerumunan membunuh korbannya secara diam-diam dan perlahan-lahan. "Banyak anggapan yang salah mengenai psikologi kerumunan," ujar Reicher seperti dikutip dari Los Angeles Times.
ADVERTISEMENT
"Ada omongan mengenai ‘kepanikan’ dan ‘saling menginjak-injak’. Tapi menginjak-injak memberikan kesan bahwa orang-orang membuat malapetaka saat mereka panik berlarian. Dalam bencana seperti ini, masalah utamanya adalah orang-orang tidak bisa bergerak sama sekali (bukan karena panik berlarian)," jelasnya.
Reicher menjelaskan bahwa masalah utama kerumunan tersebut saat diminta memberikan komentar atas bencana Haji pada 2015. Pada bencana tersebut, sedikitnya ada 717 orang meninggal dan 800 orang terluka akibat berdesak-desakkan.
Situasi berdesak-desakkan dalam penyelenggaraan Haji 2015 itu kemungkinan besar juga terjadi pada acara pembagian sembako di Monas. Kedua acara tersebut sama-sama mengakibatkan timbulnya korban jiwa.
Kota tenda Mina dan jembatan jamarat (Foto: REUTERS/Suhaib Salem)
Kerumunan dengan Kepadatan Tinggi
Seperti dalam kegiatan Haji 2015, dalam acara pembagian sembako di Monas juga ada banyak orang berdesak-desakan. Kondisi berdesak-desakkan seperti inilah yang menurut Reicher menyebabkan terjadinya suatu kondisi yang dikenal dengan sebutan high density crowd atau kerumunan dengan kepadatan tinggi.
ADVERTISEMENT
Kerumunan dengan kepadatan tinggi terjadi ketika ada empat orang atau lebih di area per satu meter kuadrat. Dalam tingkat kepadatan ini, kerumunan akan membuat orang di dalamnya tak bisa bergerak bebas, bahkan untuk mengangkat tangannya saja sulit.
Semakin banyak jumlah orang yang berada di area per satu meter, makan semakin tinggilah potensi maut yang mengintai. Sebab, kepadatan seperti itu bisa menyebabkan seseorang mati lemas karena paru-parunya tak lagi bisa memompa keluar-masuknya udara.
Selain sulit bergerak, ketika kerumunan semakin padat, mereka yang mulai memaksa bergerak ketika berada dalam kerumunan itu akan mulai bergerak layaknya cairan. Kontak antara orang yang berada di kerumunan itu akan menimbulkan gelombang dorongan. Dari sinilah maut semakin gencar mengintai.
Ilustrasi kerumunan. (Foto: Thinkstock)
Laporan The Guardian menambahkan, penyebab lain kematian di dalam keramaian adalah suatu kondisi yang disebut progressive crowd collapse atau jatuhnya kerumunan massa.
ADVERTISEMENT
Gelombang dorongan bisa menyebabkan orang-orang yang berada di kerumunan massa tersebut jatuh sehingga rentan terinjak-injak.
Jatuhnya kerumunan massa biasanya dimulai dengan jatuhnya satu orang. Lalu karena orang di sebelahnya kehilangan penopang untuk berdiri, maka ia pun akan turut jatuh menimpa orang yang jatuh sebelumnya.
Hal ini kemudian menyebabkan efek domino yang bisa membunuh orang yang tertimpa. Jika sudah sulit bernapas dan kemudian terdorong jatuh hingga terinjak-injak dan tertimpa, maka kedatangan sang maut hanya tinggal menunggu waktu dan sulit untuk dielakkan.
Kondisi yang menyebabkan bencana seperti ini biasanya terjadi ketika suatu kerumunan padat bergerak maju melewati suatu rute yang menyempit.
Cara Selamatkan Diri dari Kerumunan
Menurut Keith Still, profesor ilmu kerumunan masyarakat di Manchaster Metropolitan University, Inggris, ada cara untuk bisa selamat dari keramaian ini.
ADVERTISEMENT
"Perhatikan sekeliling Anda, dan cobalah untuk melihat ke depan. Dengarkan suara dari kerumunan," ujar Still.
"Jika Anda ternyata berada di tengah-tengah kerumunan, ikuti saja dan cobalah untuk bergerak ke pinggirannya. Ikuti pergerakannya dan coba untuk bergerak ke bagian pinggir," imbuhnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·