kumparan
26 Agu 2019 15:06 WIB

Ini Gambar Sebaran Gas Beracun akibat Kebakaran Hutan Amazon

Asap mengepul saat kebakaran di area hutan hujan Amazon dekat Porto Velho, Negara Bagian Rondonia, Brasil. Foto: REUTERS/Ueslei Marcelino
Satelit NASA menangkap gambar penyebaran gas beracun karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan Amazon. Gambar itu didapat berdasarkan data terbaru dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) yang ada di satelit Aqua.
ADVERTISEMENT
AIRS menghitung tingkat karbon monoksida di ketinggian 5.500 meter dari 8 sampai 22 Agustus 2019. Instrumen ini juga mempelajari temperatur dan kelembapan atmosfer, jumlah awan serta ketinggiannya, konsentrasi gas rumah kaca, dan fenomena atmosfer lainnya.
Business Insider melaporkan, AIRS menemukan adanya peningkatan ekstrem kadar karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan Amazon. Begini penampakannya.
Dalam animasi di atas tampak karbon monoksida naik hingga ke atmosfer. Keberadaan karbon monoksida di atmosfer diindikasikan dengan warna hijau, kuning, dan merah darah yang menunjukkan konsentrasi gas itu berdasarkan per bagian per semiliar volume atau ppvb.
"Warna hijau mengindikasikan konsentrasi karbon monoksida ada di sekitar 100 ppvb, kuning pada 120 ppvb, dan merah darah 160 ppvb," tulis NASA.
ADVERTISEMENT
Polutan udara semacam ini bisa bergerak hingga sangat jauh. Dia juga bisa berada di atmosfer hingga satu bulan lamanya. Padahal, polutan ini adalah salah satu penyebab perubahan iklim dunia.
NASA menjelaskan bahwa karbon monoksida bisa terbawa angin kencang ke dekat permukaan tanah. Kondisi ini bisa mempengaruhi kualitas udara yang kita perlukan untuk bisa hidup.
Peneliti kimia sekaligus Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, pernah menjelaskan bahwa karbon monoksida adalah gas yang sangat berbahaya apabila sampai terhirup oleh manusia.
“Jadi hemoglobin kan harusnya mengikat oksigen. Dengan adanya gas CO (karbon monoksida), oksigen tidak bisa lagi terikat dengan hemoglobin karena sudah terkontaminasi dengan CO yang sangat kuat," kata Agus kepada kumparanSAINS beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
Bila terpapar karbon monoksida dalam waktu yang lama, orang yang menghirup karbon monoksida akan merasa seperti tercekik karena tidak bisa bernapas dengan normal. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian.
Saat ini kebakaran hutan Amazon di Brasil sudah mencapai rekor terparah jika dilihat sejak tahun 2013. Menurut Pusat Penelitian Luar Angkasa Brasil (Instituto Nacional de Pesquisas Espaciais/INPE), pada tahun 2019 ini tercatat sudah ada 72.843 kejadian terbakarnya lahan di area hutan Amazon. Jumlah ini sudah 80 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2018 lalu. Sebagaian besar kebakaran di area hutan Amazon ini diduga akibat ulah manusia.
Sementara itu, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, malah terus menggalakkan pembukaan lahan di hutan hujan Amazon untuk usaha pertambangan, bisnis kayu, dan pertanian. Banyak pihak kemudian menyalahkan Bolsonaro atas kebakaran ini dan bahkan memintanya mundur dari jabatannya sebagai presiden Brasil.
ADVERTISEMENT