kumparan
24 Apr 2018 17:53 WIB

Jumlah Pesut Mahakam di Indonesia Turun, di Kamboja Justru Naik

Pesut atau Irrawaddy dolphin. (Foto: WWF)
Pesut Mahakam, atau dalam bahasa Inggris disebut juga sebagai Irrawady dolphin, adalah pesut yang banyak hidup di muara-muara sungai di Asia Tenggara. Di antaranya, mereka mudah ditemui di sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dan sungai Mekong yang melintasi Kamboja dan Laos.
ADVERTISEMENT
Saat ini, pesut tersebut dianggap terancam punah karena jumlah mereka yang terus menurun. Di Indonesia sendiri hanya ada sekitar 70 ekor pesut yang tersisa di sungai Mahakam.
Namun, organisasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF) di Kamboja baru saja mengumumkan kabar gembira. Setelah terus menerus mengalami penurunan sejak tahun 1997, kali ini jumlah populasi pesut di sungai Mekong justru bertambah.
Pada 1997, terhitung hanya ada 200 ekor pesut di sungai tersebut. Jumlah tersebut menurun drastis hingga akhirnya hanya tersisa 95 ekor pada 2007.
Sejak saat itu upaya konservasi kemudian dilakukan oleh pemerintah Kamboja meski dampaknya belum terlihat. Jumlah pesut di sungai Mekong masih juga menurun hingga tersisa 80 ekor saja pada 2015.
ADVERTISEMENT
Ancaman terbesar bagi pesut ini adalah kerusakan habitat di sungai tersebut dan jaring yang ditebar oleh nelayan untuk menangkap ikan yang malah melukai pesut.
Upaya konservasi ini baru menuai hasilnya pada tahun lalu. Dilansir Phnom Penh Post, WWF Kamboja dan pemerintah setempat mengumumkan, untuk pertama kalinya ada peningkatan populasi pesut, yakni menjadi 92 ekor pada 2017.
Selain itu, WWF juga mengatakan, ini adalah pertama kalinya selama 20 tahun terakhir jumlah bayi pesut yang lahir lebih banyak daripada pesut yang mati.
Seng Teak, direktur WWF Kamboja, mengatakan dalam siaran persnya, jumlah ini memang masih terlalu sedikit. Namun begitu, ia tetap menganggap hal ini merupakan tanda positif dari upaya konservasi pesut Mahakam.
ADVERTISEMENT
Menurut Teak, naiknya populasi pesut ini adalah karena upaya dari pemerintah yang menegakkan hukum sekaligus diadakannya patroli oleh nelayan lokal untuk mencegah perburuan ilegal. Jaring sepanjang 350 kilometer sempat disita dari sungai Mekong.
Meski sudah ada upaya upaya konservasi dari pemerintah, penangkapan ikan ilegal masih terus menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup pesut di sungai Mekong tersebut.
“Sulit mengendalikan penangkapan ikan di malam hari,” kata Phay Somany, deputi direktur Department of Fisheries Conservation and Government Liaison di WWF Kamboja.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan