kumparan
21 Nov 2018 16:32 WIB

Kata Peneliti LIPI soal Sampah Plastik 5,9 Kg di Perut Paus Wakatobi

Seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi dalam kondisi sudah membusuk (18/11). (Foto: Dok. WWF)
Penemuan bangkai seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) di Pulau Kapota, Wakatobi, pada Minggu (18/11), sangatlah menyedihkan. Pasalnya dalam perut paus yang mulai membusuk itu ditemukan 5,9 kilogram sampah plastik.
ADVERTISEMENT
Salah satu peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan hal ini harus menjadi pengingat bagi kita atas kondisi Indonesia yang sudah darurat sampah plastik.
Muhammad Reza Cordova, penelitian pencemaran laut LIPI, mengatakan kemungkinan besar paus di Wakatobi itu mati akibat sampah plastik di perutnya.
"Sampah plastik itu secara langsung akan mengganggu saluran cerna dari paus. Mungkin karena terlalu banyak sampah yang masuk kemudian saluran pencernaan dari paus itu rusak atau terganggu akhirnya tubuhnya tidak bisa menyerap nutrisi. Tapi ini harus kita pelajari lebih lanjut dulu," kata Reza saat dihubungi kumparanSAINS, Rabu (21/11).
"Dengan seperti itu kita memang harus sadar bahwa segala sesuatu yang kita buang ke lingkungan yang ujung-ujungnya ke laut itu akan berakhir salah satunya di perut paus atau malah bisa jadi sampai ke meja makan dan perut kita," tambahnya.
Seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi dalam kondisi sudah membusuk (18/11). (Foto: Dok. WWF)
Reza juga menjelaskan bahwa berdasarkan riset yang sedang ia lakukan, jumlah sampah plastik di lautan Indonesia memang sudah dalam tingkat tinggi dan berbahaya. "Jenis sampah plastik seperti itu dominan kami temukan di seluruh area yang dipelajari dalam riset. Kita ini sudah darurat sampah plastik," ujarnya.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita rata-ratakan seluruh Indonesia, tapi ini baru hitungan kasar ya, bisa jadi sampai ada jutaan hingga puluh jutaan potong sampah plastik masuk ke lautan Indonesia per tahunnya," tambahnya.
Reza juga menuturkan bahwa berdasarkan data yang ia pelajari, ada sekitar 100 hingga 200 ribu ton sampah plastik per tahunnya yang masuk ke lautan Indonesia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar kita menghindari penggunaan plastik sekali pakai, baik jenis kantong plastik atau sedotan.
"Dari hasil kajian kami juga yang paling dominan itu adalah sampah sekali pakai itu tadi. Jadi makanya saya sangat mendukung pelarangan penggunaan plastik sekali pakai dan sebaiknya kita semua juga menghindari pemakaiannya," saran dia.
Seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi dalam kondisi sudah membusuk (18/11). (Foto: Dok. WWF)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan