Kisah Firman Noor, Peneliti yang Jadi Profesor Riset Termuda LIPI

Rabu terakhir ketiga di tahun 2018 jadi hari besar bagi Firman Noor. Di hari itu, Firman mendapat gelar profesor riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bahkan ia jadi profesor riset termuda yang ada di LIPI.
"Perlu saya sampaikan bahwa Profesor Firman Noor adalah profesor termuda di LIPI," papar Kepala LIPI Dr. Laksana Tri Handoko di acara Pengukuhan Profesor Riset LIPI di Jakarta, Rabu (12/12).
Lahir di Jakarta pada Februari 42 tahun lalu, Firman mengatakan bahwa dirinya tak pernah menyangka akan menjadi profesor riset termuda di lembaga ilmu pengetahuan itu.
"Di satu sisi saya surprise, senang, karena tidak menyangka saya yang termuda. Tapi di sisi lain ini juga merupakan awal dari tantangan yang harus saya hadapi," ujar Firman kepada kumparanSAINS.
"Tanggung jawab saya menjadi lebih besar, saya jadi punya tanggung jawab terhadap komunitas saintifik, tanggung jawab terhadap lembaga, dan tanggung jawab kepada bangsa," tambahnya.

Firman benar-benar tidak menyangka akan bisa mendapat gelar profesor riset ini. Ketika ia mulai bergabung dengan LIPI sebagai asisten peneliti madya pada 2003, kesuksesan ini sama sekali tidak ada di pikirannya.
"Sama sekali tidak kepikiran, bahkan pas masuk LIPI pun tidak kepikiran bisa dapat gelar ini," tutur Firman. "Alhamdulillah, sekarang saya harus fokus pada tugas yang menanti.”
Kisah Firman untuk menjadi profesor riset termuda LIPI dimulai ketika dia melakukan beberapa konsultasi serta diskusi dengan beberapa rekan dan seniornya untuk maju sebagai profesor riset. Setelah mendapat dukungan, ia pun akhirnya mengajukan diri untuk menjadi profesor riset.
"Ternyata tahapan-tahapan pengujian bisa saya lalui dengan cukup baik," kata Firman.
Namun bukan berarti perjalanannya menjadi profesor riset mulus saja. Firman mengatakan bahwa ia sempat kesulitan menyiapkan bahan orasi pidato, salah satu syarat yang harus dilakukan seorang peneliti untuk bisa jadi profesor riset.
"Proses yang sulit itu adalah bagaimana kita bisa menuangkan hasil kerja kita selama hampir 20 tahun ke dalam naskah yang sangat singkat, hanya boleh 27 halaman," tutur Firman.
"Saya butuh sekitar dua bulan untuk menyiapkan orasi pidato itu," ungkapnya.

Untuk menyiapkan teks orasi ini, Firman harus melakukan kajian-kajian yang lebih mendalam atas bidangnya. Dalam orasi pidatonya di acara Pengukuhan Profesor Riset LIPI, Firman yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI membahas kajiannya yang berjudul Partai Politik sebagai Problem Demokrasi di Indonesia Era Reformasi.
“Pendidikan politik harus menjadi prioritas agar tercipta nilai-nilai budaya politik yang kompatibel dengan demokrasi. Juga penciptaan dan penguatan civil society untuk berperan secara kritis mengawasi eksistensi partai,” kata Firman dalam orasi pidatonya.
Langkah Firman dalam dunia penelitian politik dimulai sejak masa kuliah. Ia adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI tahun 2000. Setelahnya ia melanjutkan studi ke Australia.
Di Australia ia mendapat gelar Master of Art dari Fakultas Studi Asia di Australian National university pada 2006. Setelahnya, gelar doktor ia dapatkan dari University of Exeter, Inggris pada 2012.
Sepanjang kariernya Firman telah menghasilkan 52 karya tulis ilmiah, sembilan di antaranya dalam bahasa Inggris. Firman juga pernah mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya X di tahun 2013 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sekarang, selain sebagai Kepala Puslit Politik LIPI, Firman juga merupakan pembimbing skripsi, tesis, dan penguji disertasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
