Kumparan Logo

Lebih dari 100 Singa di Afsel Terkena Penyakit Kudis dan Kelaparan

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Singa betina, ibu dari empat anak singa yang mati di kebun binatang Gaza. Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
zoom-in-whitePerbesar
Singa betina, ibu dari empat anak singa yang mati di kebun binatang Gaza. Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

Lebih dari 100 singa di sebuah penangkaran di Afrika Selatan mengalami situasi yang sangat miris. Mereka mengalami kelaparan dan rambut di tubuh mereka rontok akibat penyakit kudis.

Menurut Humane Society International, singa-singa itu ditemukan pada 11 April lalu oleh para pengawas dari Dewan Masyarakat Nasional untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Hewan di Afrika Selatan (National Council of Societies for the Prevention of Cruelty to Animals/ National Council of SPCAs). Saat itu awalnya mereka menemukan ada dua anak singa menderita masalah neurologis dan tidak bisa berjalan, dan 27 singa lainnya kehilangan banyak rambut karena penyakit kulit atau kudis yang disebabkan oleh tungau parasit.

“Masalah-masalah lain, seperti kandang yang kecil, tempat tinggal tidak memadai, tidak adanya persediaan air, terlalu banyaknya jumlah hewan, dan kondisi kotor serta terdapat banyak parasit, itu semua terjadi di kandang singa, caracal, harimau, dan macan tutul,” ujar Douglas Wolhuter, pengawas senior National Council of SPCAs kepada TimesLive, seperti dilansir Live Science.

Singa di Penangkaran Afrika Selatan yang terkena Kudis. Foto: Conservation Action Trust

Kelompok-kelompok anti-kekejaman terhadap binatang langsung mengecam penangkaran Pienika, tempat ditemukannya singa-singa malang tersebut. Penangkaran Pienika sendiri berada di provinsi North West, Afrika Selatan.

Audrey Delsink, direktur Humane Society International mengatakan, anak-anak singa yang tersebut telah diambil dari induk mereka. Hewan-hewan itu kemudian dijadikan sebagai sebagai objek wisata bagi para pengunjung yang ingin memberi makan atau bahkan memelihara singa-singa tersebut.

“Begitu hewan-hewan itu tumbuh dewasa dan dianggap berbahaya, singa-singa itu akan dibunuh untuk diambil tulangnya, kemudian akan diekspor ke Asia untuk dijadikan obat-obatan tradisional, atau dijual untuk dibunuh oleh para pemburu trofi yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat,” kata Delsink.

Anak singa di Penangkaran Afrika Selatan yang terkena Kudis. Foto: Conservation Action Trust

Para pemburu trofi itu menyukai ajang perburuan ‘kalengan’. Dalam ajang ini, singa-singa itu akan ditempatkan di lokasi yang telah dipagari sehingga mereka tidak dapat kabur, dan para pemburu kemudian menembaki singa-singa tersebut.

Pada Agustus 2018, parlemen Afrika Selatan telah meninjau penangkaran-penangkaran singa yang ada di negara mereka dan memutuskan untuk mengurangi kuota ekspor tulang singa. Mereka juga melakukan tinjauan yang lebih dalam terkait pengawasan terhadap penangkaran. Selain itu, Departemen Urusan Lingkungan Afrika Selatan juga telah mengusulkan untuk membuat regulasi tambahan terhadap penangkaran.

Atas temuan ini, kini pemilik penangkaran Pienika, Jan Stienman, sedang menghadapi sejumlah dakwaan kriminal atas kekejaman terhadap hewan. Mirisnya, Steinman ternyata merupakan anggota dewan Asosiasi Predator Afrika Selatan (South African Predator Association), sebuah badan yang menetapkan standar kesejahteraan hewan untuk fasilitas penangkaran singa di negara tersebut.