Kumparan Logo

Menyoroti Kenaikan Angka Obesitas di Asia Tenggara, Termasuk Indonesia

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Obesitas. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Obesitas. Foto: Shutterstock

Kita patut waspada dengan asupan kalori yang tidak dibarengi dengan aktivitas fisik untuk membakarnya. Sebab, asupan kalori yang masuk ke tubuh lalu menumpuk menjadi lemak dalam jangka waktu yang lama, bisa membuat kita mengalami obesitas.

Saat ini, kondisi kronis akibat penumpukan lemak tengah mengintai penduduk di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Urbanisasi dan meningkatnya pendapatan disebut-sebut sebagai pemicu tingginya prevalensi obesitas di sejumlah negara ASEAN.

Seseorang disebut mengalami kegemukan atau obesitas jika memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 30. Perhitungan nilai IMT ini diperoleh setelah membandingkan berat badan (dalam satuan kilogram) dengan tinggi badan kuadrat (dalam satuan meter kuadrat).

gemuk Foto: Shutterstock

Berdasarkan laporan dari Fitch Solutions Macro Research, jumlah orang dewasa yang mengalami obesitas di beberapa negara ASEAN tercatat telah meningkat. Dalam rentang waktu 2010 hingga 2014, Vietnam menjadi negara di Asia Tenggara dengan peningkatan jumlah penduduk obesitas tertinggi, yakni meningkat sebesar 38 persen. Disusul kemudian dengan Indonesia dan Malaysia yang masing-masing meningkat sebesar 33 persen dan 27 persen.

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang mengalami kelebihan berat badan cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, jumlahnya terus meningkat sejak tahun 2007 hingga 2018.

Dalam data Riskesdas, orang yang memiliki IMT antara 25,0 hingga 27,0 dikategorikan memiliki berat badan lebih (overweight), sementara yang dikategorikan obesitas adalah orang yang memiliki IMT 27,0.

Dalam data Riskesdas terlihat bahwa angka orang dewasa yang mengalami overweight dan obesitas di Indonesia terus mengalami peningkatan. Angka overweight di tahun 2007 mencapai 8,6 persen, 10,0 persen pada tahun 2010, 11,5 persen tahun 2013, dan naik menjadi 13,6 persen pada 2018.

Adapun angka obesitas mengalami peningkatan lebih tinggi lagi. Pada 2007, angka obesitas mencapai 10,5 persen, kemudian naik menjadi 11,7 persen pada 2010, 14,8 persen pada 2013, dan meningkat tajam menjadi 21,8 persen pada 2018.

Titi Wati, wanita tergemuk di Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Adi Wibowo

Perubahan gaya hidup Sebabkan Obesitas

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak terjangkaunya harga makanan sehat serta kelangkaan bahan pangan di negara-negara terbelakang telah berkontribusi terhadap persoalan obesitas. Namun selain itu, norma budaya dan sosial turut memainkan peran.

Fitch Solution mengklaim bahwa peningkatan standar ekonomi di sebuah kawasan telah membawa perubahan gaya hidup pada masyarakatnya. Salah satunya adalah kebiasaan mereka yang kerap mengonsumsi makanan tidak sehat seperti makanan cepat saji dengan harga murah namun bergizi rendah.

Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock

Obesitas yang banyak menyerang kalangan usia produktif di kawasan Asia Tenggara ternyata mampu memangkas harapan hidup mereka antara empat hingga sembilan tahun. Selain itu, obesitas juga mempengaruhi kualitas hidup mereka.

Belum lagi risiko kesehatan yang harus mereka tanggung karena lebih rentan terkena diabetes, serangan jantung, bahkan jenis kanker tertentu. Gangguan kesehatan lainnya seperti nyeri pada sendi, penyakit ginjal, stroke hingga tekanan darah tinggi juga tak bisa terelakkan. Pada wanita hamil, obesitas bahkan dapat mengakibatkan komplikasi pada si ibu maupun bayinya.

Dengan mengatur pola makan yang sehat, kita bisa mencegah obesitas. Namun anjuran utama untuk mengurangi obesitas tetap dengan melakukan aktivitas olahraga secara rutin. Di negara tertentu. intervensi pemerintah untuk mengatasi obesitas penduduknya terbilang cukup efektif. Seperti di Malaysia misalnya, pemerintah menerapkan pajak gula pada minuman kemasan seperti jus buah hingga minuman bersoda pada awal Juli lalu.

Ilustrasi kopi dan gula Foto: Shutter Stock

“Pajak gula benar-benar membantu mengurangi konsumsi gula,” tutur Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, Lee Boon Chye, sebagaimana dikutip dari The Asean Post. Lee optimis bahwa orang Malaysia dapat mengatasi masalah obesitas dengan membatasi konsumsi gula.

Di Indonesia sendiri baru ada sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) dari pemerintah yang isinya berupa imbauan pada tiga kegiatan utama, yakni melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, mengonsumsi buah dan sayur, dan memeriksakan kesehatan secara rutin. Sayangnya, belum ada regulasi khusus yang tegas dari pemerintah untuk mengurangi tingkat obesitas di negeri ini.

Padahal, menurut WHO, obesitas merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Menurut catatan WHO pada 2017, setidaknya ada 2,8 juta orang di dunia yang meninggal akibat kegemukan atau obesitas.