Pencarian populer

Muncul Petisi Minta Menteri LHK Cabut Izin Konsesi Hutan di Papua

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar. Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Organisasi pemberdayaan lingkungan, Auriga Nusantara, membuat sebuah petisi online di Change.org yang ditujukan untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar. Petisi yang diunggah sekitar tiga pekan lalu itu bertajuk “Menteri LHK, Cabut Konsesi Hutan Bermasalah di Papua dan Alokasikan untuk Hutan Adat!”
ADVERTISEMENT
Isi petisi itu mendesak Menteri LHK untuk mencabut izin pemanfaatan hutan di Tanah Papua. Pada tahun 2018, tercatat ada 10 perusahaan yang mendapat Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan tujuh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang tidak lagi berproduksi.
Perusahaan-perusahaan itu beroperasi di lahan seluas 2,4 juta hektar di Jayapura. Lokasi tersebut berdekatan dengan kawasan birdwatching atau tempat pengawasan burung. Kini, lahan tersebut terbengkalai sehingga rentan menjadi sasaran pembalakan liar.
Lokasi birdwatching di Papua Barat. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata
Masyarakat adat pun menginginkan agar kawasan hutan yang sudah tidak terawat itu dikelola oleh kelompok masyarakat. Mereka hendak memanfaatkannya sebagai ekowisata hutan adat.
Sampai hari ini, Jumat (16/8), petisi yang menargetkan pendukung sebanyak 100 orang itu telah ditandatangani oleh 90 orang. Petisi ini dibuat agar masyarakat bisa mengikuti jejak Alex Waisimon, pria yang oleh lembaga World Wide Fund for Nature (WWF) mendapat julukan sebagai Sang Penjaga Cendrawasih.
ADVERTISEMENT
Kisah Alex Waisimon, Sang Penjaga Cendrawasih
Perjuangan Alex menjaga kelestarian hutan di tanah kelahirannya itu juga membuat pria tersebut diganjar penghargaan ASEAN Biodiversity Heroes oleh ASEAN Center for Biodiversity. Apa yang telah dilakukan pria itu?
Pada 2014, Alex yang telah melanglang buana ke berbagai penjuru dunia memutuskan untuk kembali ke Papua. “Saya sudah pergi kemana-mana, tapi tak pernah menemukan tempat seindah tempat kelahiran saya,” ujar Alex, seperti dikutip Auriga Nusantara di situs Change.org.
“Bangun pagi sudah ada suara burung. Pagi-pagi burung memuji Yang Kuasa dengan suara indahnya. Saya tak bisa menemukan sungai yang jernih di negeri orang lain.”
Sekembalinya ke Tanah Air, Alex pun menunjukkan keseriusannya untuk melindungi burung-burung yang menghuni Bumi Cenderawasih. Tak sendiri, ia juga mengajak berbagai kepala suku di sekitar tempat tinggalnya untuk sama-sama berkontribusi.
ADVERTISEMENT
Awalnya, Alex menyerahkan tanah milik marganya, Waisimon, seluas 19 ribu hektar untuk keperluan konservasi. Pada tahun 2016, tanah seluas 98 ribu hektar terkumpul dari berbagai marga untuk dijadikan wilayah konservasi.
Lokasi birdwatching di Papua Barat Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Upaya Alex pun tak sia-sia. Kegigihannya menularkan semangat menjaga hutan tetap lestari kepada masyarakat berbuah manis. Kini, kawasan tersebut telah menjadi rumah bagi 84 spesies burung dari 31 famili. Melalui konservasi itu, Alex dan masyarakat lainnya juga berhasil menyelamatkan lima spesies burung yang terancam punah.
Alex juga menangkap potensi wisata yang cukup menjanjikan dari lokasi itu sehingga berdirilah tempat pengamatan burung yang menarik wisatawan. Kini, lokasi itu pun menjadi sangat terkenal karena banyak didatangi wisatawan mancanegara.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86