kumparan
25 Jun 2019 16:15 WIB

Pelari Maraton Punya Bakteri Spesial, Bisa Tingkatkan Performa Fisik

Maraton di Asian Games 2018. Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Dwi Oblo
Atlet dan pelari maraton ternyata memiliki bakteri spesial di perutnya. Bakteri ini membantu mereka meningkatkan performa fisiknya.
ADVERTISEMENT
Penemuan ini diungkap dalam sebuah riset tersebut yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine pada Senin (24/6). Tim peneliti di studi ini menjelaskan, atlet dan pelari maraton memiliki bakteri Veillonella yang lebih tinggi di perutnya, terutama setelah menyelesaikan suatu perlombaan.
Dalam risetnya, para ilmuwan memberikan bakteri itu kepada tikus. Mereka lalu membuat hewan tersebut berlari di treadmill. Hasil eksperimennya menunjukkan, tikus dengan bakteri Veillonella mampu berlari 13 persen lebih lama dibandingkan tikus yang tidak diberikan bakteri.
Para peneliti mengatakan bahwa bakteri Veillonella memakan asam laktat, suatu komponen yang diproduksi di otot saat tubuh berolahraga. Sebagai gantinya, bakteri itu memproduksi senyawa bernama propionate. Peneliti menduga propionate itulah yang membantu meningkatkan performa atlet dan pelari.
Maraton di Asian Games 2018. Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Dwi Oblo
Menurut para ilmuwan, suatu saat ada kemungkinan menggunakan probiotik dengan Veillonella kepada para nonatlet. Probiotik ini bisa meningkatkan kemampuan mereka untuk berolahraga. Tapi, hal tersebut perlu riset lebih lanjut lagi untuk membuktikannya.
ADVERTISEMENT
"Apa yang kami cita-citakan adalah membuat sebuah suplemen probiotik yang ketika diminum akan meningktkan kemampuan mereka untuk melakukan olahraga," kata Aleksandar Kostic, peneliti dalam riset.
"Ini bisa melindungi mereka dari penyakit kronis, termasuk diabetes," lanjut dia dalam suatu pernyataan yang dilansir Live Science.
Kemampuan berolahraga dalam waktu lama dan perut
Para ilmuwan juga mempelajari sampel feses dari 15 orang yang ikut dalam acara Boston Marathon 2015 di risetnya ini. Hasil analisisnya dibandingkan dengan sampel dari 10 orang yang punya gaya hidup jarang bergerak.
Periset menemukan, bahwa pada sampel feses orang yang gaya hidupnya tidak aktif, keberadaan Veillonella nyaris tidak ada. Sementara keberadaannya jadi meningkat pada pelari maraton yang baru saja selesai melakukan perlombaan.
ADVERTISEMENT
Para peneliti memutuskan untuk melakukan analisis lain. Mereka mempelajari sampel dari 87 pelari maraton ultra, mereka yang biasa berlari melebihi jarak maraton biasa. Selain itu, peneliti juga mempelajari sampel dari atlet dayung olimpiade.
Mereka mendapatkan hasil serupa. Tingkat Veillonella pada para atlet dan pelari itu meningkat secara signifikan setelah berolahraga berat.
Kostic menjelaskan bahwa di antara bakteri perut, Veillonella terbilang unik. Sebab, bakteri ini menggunakan laktat atau asam laktat sebagai satu-satunya sumber energi karbonnya.
Ilustrasi bakteri Foto: Pixabay
Studi pada tikus menunjukkan bahwa asam laktat dari darah bisa masuk ke usus. Di sana, Veillonella menggunakannya sebagai sumber makanan lalu memproduksi propionate.
Para peneliti berhipotesis bahwa atlet dan Veillonella memiliki hubungan simbiosis. Semakin tinggi asam laktat di perut atlet maka akan semakin mendorong pertumbuhan Veillonella. Lalu bakteri itu akan memproduksi senyawa yang membantu performa para atlet itu.
ADVERTISEMENT
"Ini menciptakan sebuah putaran positif. Tubuh memproduksi sesuatu yang mikroba ini sukai. Sebagai gantinya, mikroba ini memproduksi sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh yang ia tumpangi," jelas Kostic.
Dr. Emeran Mayer, ahli gastroenterologi di David Geffen School of Medicine, memuji hasil riset ini. Menurut Geffen, yang tidak terlibat riset, jika hasil riset bisa diulang pada studi manusia, maka implikasi riset ini akan sangat positif dan besar.
Suasana pertandingan Maraton Internasional Mangyongdae ke-30 di Pyongyang. Foto: Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) Korea Utara via REUTERS
Meski begitu, Mayer mengatakan bahwa sulit untuk memprediksi apakah probiotik Veillonella bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk berolahraga. Menurutnya, bisa saja orang-orang jadi memiliki tingkat Veillonella yang tinggi di perutnya di masa awal hidupnya, dan orang-orang ini cenderung menjadi atlet kemudian hari.
Ia menambahkan bahwa tidak diketahui dengan pasti apakah probiotik bisa meningkatkan Veillonella di perut orang non atlet. Bahkan ada kemungkinan pemberian bakteri itu malah menyebabkan efek samping.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·