kumparan
2 Mei 2018 8:42 WIB

Peneliti Pelajari Tulang Belulang Korban Bom Hiroshima, Untuk Apa?

Bom Hiroshima dan Nagasaki (Foto: Wikimedia Commons)
Pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertamanya yang bernama Little Boy ke kota Hiroshima, Jepang, sebagai cara untuk memaksa Kaisar Hirohito menyerah.
ADVERTISEMENT
Sekarang, 73 tahun setelah kejadian mengerikan tersebut, para peneliti berusaha mempelajari seberapa mematikannya serta berapa banyak radiasi yang dialami para korban Little Boy.
Dilansir IFL Science, dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE, para ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brazil, menganalisis tulang rahang dari seorang korban yang ditemukan hanya sekitar satu kilometer dari pusat ledakan.
Bom Hiroshima dan Nagasaki (Foto: Wikimedia Commons)
Ilmuwan menggunakan metode yang disebut 'paramagnetism', yang memanfaatkan berubahnya tulang menjadi suatu magnet lemah akibat terekspos sinar x atau radiasi gamma. Hal tersebut menjadi penanda atas bagaimana radiasi terserap, dan membantu peneliti untuk melakukan dosimetri radiasi alias penghitungan tingkat atau dosis radiasi.
Untuk menambah akurasi dari temuan mereka, para peneliti juga menggunakan teknik Spektroskopi resonansi elektron. Mereka menemukan bahwa korban tersebut mengalami dosis radiasi sekitar 9,46 grays (satuan ukur dosis radiasi), angka yang cukup tinggi mengingat radiasi 4-5 grays cukup untuk membunuh makhluk hidup.
ADVERTISEMENT
Angka 9,46 grays sendiri sudah cukup akurat sebab angka tersebut terpisahkan dari radiasi akibat panasnya ledakan bom atom.
Menurut tim peneliti, studi ini tak hanya memberikan pemahaman baru atas bom atom yang telah terjadi, temuan ini juga dapat membantu pada kejadian bom di masa depan.
"Bayangkan seseorang di New York memasang suatu bom biasa yang mengandung sedikit material radioaktif. Teknik seperti ini dapat membantu mereka yang terpapar radioaktif dan mempercepat perawatan," jelas Oswaldo Baffa, pemimpin studi ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan