Pencarian populer

Riwayat Krakatau, Anak Krakatau, dan Tsunami yang Ditimbulkan

Litografi letusan Gunung Krakatau tahun 1883 (Foto: Wikimedia Commons)

Pada 1883 sebuah bencana besar mengguncang dunia. Pada tahun itu Gunung Krakatau meletus dan menyebabkan lebih dari 70 persen bagian Krakatau hancur.

Gejala letusan Krakatau pada tahun itu telah dimulai sejak Mei dan letusan puncaknya berlangsung pada 26-27 Agustus dengan mengeluarkan berbagai material seperti lava, batu-batuan, abu, serta menimbulkan tsunami dengan ketinggian lebih dari 30 meter yang menyapu pesisir Selat Sunda.

Akibatnya, 36.417 orang dilaporkan tewas dan letusan gunung api tersebut tercatat dalam sejarah manusia modern sebagai salah satu bencana alam paling mematikan di dunia.

Letusan Krakatau pada 1883 itu begitu diingat dalam sejarah dunia karena dahsyatnya letusan kala itu tak hanya berdampak di wilayah Nusantara, tapi juga di seluruh dunia.

Gunung Krakatau (Foto: dok : Flickr / Rifaldi Fauzan)

Suara letusan Gunung Krakatau saat itu bisa terdengar hingga jarak 5.000 kilometer. Bahkan, akibat letusan tersebut, abu vulkanik terlontar ke langit hingga ketinggian 80 kilometer dan membuat area seluas 800 ribu kilometer persegi di sekitarnya ditutupi awan hitam.

Dampaknya, selama dua setengah hari area tersebut gelap karena Matahari yang tertutup asap hitam. Sebab, abu dari letusan itu menyebar hingga ke seluruh dunia dan menyerap sinar Matahari. Akibatnya, suhu dunia saat itu turun sebesar 1,2 derajat Celcius dan kondisi suhu dunia baru kembali normal pada 1888.

Koordinator Bidang Vulkanologi Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, mengatakan kala itu letusan Krakatau menyebabkan terbentuknya sebuah kaldera seluas 4 kilometer kali 8 kilometer. Di bagian kaldera itulah Gunung Anak Krakatau kemudian muncul.

Foto Anak Krakatau diambil oleh instrumen Multi Spectral Instrument (MSI) di satelit Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa (ESA). (Foto: ESA)

Munculnya Anak Krakatau pada 1929

Hancurnya sebagian besar bagian Gunung Krakatau membuat aktivitas vulkanik di kompleks Krakatau seolah berhenti. Tak tampak lagi Gunung Krakatau yang besar.

Namun ternyata dari bagian kaldera bekas Gunung Krakatau tersebut kemudian muncul sebuah gunung baru yang lebih kecil. Hal ini mulai diketahui pada 1928, ketika dilaporkan telah terjadi lagi erupsi dari gunung bawah laut di lokasi tersebut.

Sutawidjaja drr., (2006) dalam laporannya menyebutkan, seorang ahli gunung api (Stehn) pada 20 Januari 1929 mengamati suatu tumpukan material di permukaan laut membentuk satu pulau kecil yang kemudian dikenal dengan kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Dalam makalah ilmiah berjudul “Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian terhadap Katalog Tsunami Soloviev”, Yudhicara dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Kris Budiono dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) mengkaji rentetan tsunami yang pernah terjadi di Selat Sunda yang diantaranya disebabkan oleh Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau.

Dalam makalah tersebut, mereka menuliskan bahwa tsunami di Selat Sunda yang disebabkan oleh erupsi Gunung Krakatau dan Anak Krakatau pernah terjadi pada tahun 416, 1883, dan 1928.

Ilustrasi tsunami (Foto: Pixabay)

Siklus pembentukan dan penghancuran Krakatau

Dalam makalah ilmiah yang telah dipublikasikan di Jurnal Geologi Indonesia pada 4 Desember 2008 lalu itu, Yudhicara dan Budiono mencatat bahwa “Gunung Api Krakatau paling tidak telah mengalami empat tahap pembangunan dan tiga kali penghancuran.”

Munculnya Gunung Krakatau diawali dengan pembentukan sebuah kerucut komposit gunung api purba yang diperkirakan mencapai ketinggian 2000 meter di atas permukaan air laut. Gunung api purba ini membangun tubuh kerucutnya selama periode konstruksi I gunung api komposit, terdiri atas perselingan bahan piroklastika berbagai ukuran dengan aliran lava berkomposisi andesit.

“Pada tahap berikutnya terjadi letusan besar yang menghancurkan tubuh kerucut gunung api itu, yaitu selama perioda penghancuran I, memuntahkan bahan piroklastika yang kaya abu gunung api dan batuapung berkomposisi dasit-riolit dalam jumlah yang sangat besar. Sejumlah ahli menduga bahwa tahap penghancuran I ini terjadi pada tahun 416 M, dan membentuk Kaldera Krakatau I,” papar mereka dalam makalah tersebut. Letusan pada tahun ini tercatat telah menimbulkan tsunami.

Ilustrasi Tsunami. (Foto: Pixabay)

Aktivitas Gunung Krakatau kemudian berlanjut ke periode konstruksi II, yaitu berupa pembentukan kerucut gunung api yang saat ini telah hilang. “Periode itu juga diikuti oleh periode destruksi II pada tahun 1200 M (Winchester, 2003), yang membentuk kaldera II dan melontarkan piroklastika kaya batuapung yang kemudian membentuk ignimbrit terlaskan sempurna di bagian tengah,” tulis mereka.

Selanjutnya adalah periode penghancuran III yang terjadi pada 1883, yang kengeriannya telah dijelaskan sebelumnya. Erupsi pada tahun ini sangat eksplosif hingga memuntahkan material vulkanik lebih dari 18 kilometer kubik. Tak hanya memuntahkan material vulkanik, letusan pada tahun ini juga menimbulkan tsunami setinggi 30 hingga 40 meter yang menyapu daerah pesisir pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.

Masa istirahat yang relatif pendek dari aktivitas gunung api ini kemudian berlangsung mulai 1884 sampai Desember 1927, yang diikuti kemudian oleh peristiwa letusan di bawah laut pada 29 Desember 1927 yang kemudian diketahui bersumber dari aktivitas Gunung Anak Krakatau yang baru muncul menggantikan keberadaan “ayahnya”.

“Semburan air laut di dalam kaldera atau di pusat kompleks Gunung Krakatau menyerupai air mancur yang terjadi terus menerus sampai 15 Januari 1929,” tulis mereka.

Ilustrasi ombak tsunami (Foto: Pixabay)

Hingga tahun 1996, Yudhicara dan Budiono mencatat, gunung api ini telah meletus sekurang-kurangnya 80 kali. Kegiatannya berupa erupsi letusan dan erupsi lelehan. Hasil pengukuran pada tahun 2001 menunjukkan bahwa ketinggian Gunung Anak Krakatau telah mencapai 315 m di atas permukaan air laut (Sutawidjaja, 2006).

“Kegiatan gunung ini dapat dipandang sebagai periode konstruksi IV Gunung Api Krakatau di kawasan Selat Sunda yang lebih tepat disebut Gunung Anak Krakatau,” jelas Mereka.

Gunung Anak Krakatau Muntahkan Abu Vulkanik. (Foto: ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Prediksi keberulangan letusan dan tsunami besar Krakatau

Yudhicara dan Budiono menghitung, antara periode penghancuran I (tahun 416) dengan periode penghancuran II (tahun 1200) berjangka waktu 784 tahun. Sementaraa antara periode penghancuran II (tahun 1200) ke periode penghancuran III (1883) berjangka waktu 683 tahun.

“Berdasarkan data ini, maka periode penghancuran IV akan terjadi antara tahun (1883+683) hingga tahun (1883+784) atau tahun 2566 hingga 2667 (2500- 2700) (Sutawidjaja drr., 2006). Pada kisaran tahun yang diperkirakan menjadi periode ulang erupsi Gunung Anak Krakatau itu diduga akan menimbulkan tsunami yang dihasilkan oleh volume gunung api yang ada saat ini,” simpul mereka.

Aktivitas Gunung Api Krakatau ( Sutawidjaja drr., 2006) (Foto: Yudhicara dan K. Budiono/Jurnal Geologi Indonesia)

Keberulangan letusan “kecil” dua tahunan

Tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) malam lalu bukanlah akibat letusan besar Gunung Anak Krakatau, melainkan karena longsornya bagian Anak Krakatau yang dipicu oleh letusan-letusan “kecil” yang terjadi di hari yang sama.

Mirzam Abdurrachman dari PPMB ITB menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau pada akhir pekan lalu itu tidak akan memberikan dampak seperti erupsi yang terjadi pada 1883 silam. Ia menjelaskan kejadian erupsi beberapa hari lalu itu “hanya” membuat area seluas 64 hektare di sebelah barat daya Anak Krakatau hilang, sehingga dampak tsunaminya tidak separah erupsi 1883.

Dia menerangkan, tsunami setinggi 30 meter pada 1883 terjadi akibat Krakatau meletus lalu kolaps dan menghasilkan kaldera. Menurutnya, biasanya sebelum terjadi tsunami akibat kolaps ini, air di pantai akan surut lebih dahulu.

"Yang kemarin (Sabtu 22/12/2018) dilihat kan tidak ada air surut, tiba-tiba air langsung naik. Bisa jadi karena longsor atau wedus gembel yang masuk ke laut," terangnya kepada kumparanSAINS.

"Kalau tsunami akibat longsor sama wedus gembel itu dari catatan sejarah biasanya menghasilkan tsunami-tsunami kecil. Seperti kemarin (Sabtu, 22/12/2018) kan nol koma sekian atau sekitar satu meteran," tambah Mirzam.

Belakangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memastikan bahwa penyebab tsunami pada Sabtu itu adalah akibat longsor di barat daya Anak Krakatau.

Para pengungsi duduk-duduk di antara reruntuhan. (Foto: Dok. Pribadi Ahmad Emil Mujamil)

Lebih lanjut Mirzam memaparkan bahwa Gunung Anak Krakatau memiliki siklus letusan kecil dua tahunan, mulai dari 2012, 2014, 2016, 2018, dan seterusnya. Ia menjelaskan bahwa semakin pendek siklusnya berarti energi yang dilepaskan gunung api itu akan semakin kecil.

"Jadi kalau melihat siklusnya seharusnya tidak perlu khawatir ada letusan besar ya. Artinya bahwa tsunami mungkin bisa terjadi kalau ada longsor atau wedus gembel masuk air, tapi paling tingginya sekitar satu meter, tidak seperti 1883," jelas ahli vulkanologi ITB itu.

Meski menurut laporan BMKG tsunami yang terjadi pada Sabtu lalu hanya setinggi 0,9 meter, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa akibat tsunami tersebut, lebih dari 400 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 100 orang lainnya masih hilang.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: