Separuh Perokok di Indonesia Tak Tahu Merokok Bisa Sebabkan Stroke

Hari ini (31/5) adalah Hari Tanpa Tembakau Dunia (World No Tobacco Day). Saat ini diperkirakan ada sekitar 1,1 miliar perokok di dunia. Hal ini menunjukkan angka perokok di dunia tidak banyak berubah sejak tahun 2000 yang juga berjumlah 1,1 miliar.
Laporan dari Global Report on Trends in Prevalence of Tobacco Smoking 2000-2025 menunjukkan bahwa sebenarnya ada penurunan prevelansi perokok dari 27 persen di tahun 2000 menjadi 20 persen di tahun 2016. Namun hal tersebut belum cukup, mengingat WHO memiliki target untuk menurunkan jumlah perokok di dunia hingga 30 persen.
Dengan tren saat ini, diperkirakan penurunan jumlah perokok di dunia hanya akan mencapai angka 22 persen pada tahun 2025.
Karena itu, pada Hari Tanpa Tembakau Dunia 2018, WHO menggandeng World Heart Federation untuk menyoroti hubungan antara tembakau dan penyakit kardiovaskular, penyakit yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Setiap tahunnya 44 persen kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.

"Kebanyakan orang tahu bahwa tembakau menyebabkan kanker dan penyakit paru-paru, tetapi banyak juga orang yang tidak menyadari bahwa tembakau dapat menyebabkan penyakit jantung dan stroke yang merupakan pembunuh utama di dunia," kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO dalam pernyataan resminya.
"Pada Hari Tanpa Tembakau Dunia ini, WHO mencoba untuk menyebarkan fakta bahwa tembakau tidak hanya menyebabkan kanker."
Di negara-negara yang memiliki jumlah perokok yang besar, kesadaran mengenai penyakit yang ditimbulkan oleh rokok cukup rendah.
Misalnya di China, menurut Global Adult Tobacco Survey, lebih dari 60 persen populasinya tidak menyadari bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung. Di India dan Indonesia, lebih dari separuh orang dewasa tidak tahu bahwa merokok dapat menyebabkan stroke.
Tren perokok di Indonesia terus bertambah
Laporan dari WHO menunjukkan bahwa tren perokok di Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2013, WHO memperkirakan 36 persen penduduk Indonesia atau sekitar 60.270.600 orang adalah perokok.
Berdasarkan jenis kelamin, pada tahun 2010, 68 persen laki-laki di Indonesia adalah perokok, sementara jumlah perokok perempuan adalah 4 persen dari populasi mereka.
Sementara itu, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, prevelansi penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun yang merokok mencapai 36,2 persen. Itu berarti, dari setiap tiga orang Indonesia, dua di antaranya adalah perokok.

Angka di atas menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India. Dan menurut prediksi WHO, bila tidak ada perubahan, maka angka perokok di Indonesia diperkirakan akan naik dari 36 persen ke angka 45 persen di tahun 2025.
WHO mengatakan, diperlukan peran pemerintah untuk mengurangi angka perokok di Indonesia. "Pemerintah memiliki kekuatan di tangan mereka untuk melindungi warga mereka dari penderitaan yang tidak perlu dari penyakit jantung," kata Dr Douglas Bettcher, Direktur WHO untuk Pencegahan Penyakit Tidak Menular.
"Tindakan yang mengurangi risiko terhadap kesehatan jantung akibat tembakau bisa dilakukan dengan membuat seluruh ruangan di dalam bangunan dan tempat kerja benar-benar bebas asap rokok serta menggunakan peringatan pada produk tembakau yang menunjukkan risiko kesehatan akibat tembakau."
