Pencarian populer

Setiap Jam, 1 Perempuan di Indonesia Meninggal akibat Kanker Serviks

Forum Diskusi Publik dan Peluncuran A2PKI. (Foto: Zahrina Yustisia Noorputeri/kumparan)
Dalam acara Forum Diskusi Publik dan Peluncuran Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan Indonesia (A2KPI), Selasa (27/3), terungkap beberapa fakta mengenai penderita kanker perempuan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Salah satunya adalah fakta mengejutkan bahwa setiap satu jam ada satu perempuan Indonesia yang meninggal dunia akibat kanker serviks. Sementara itu, secara global, setiap dua menit, satu perempuan di dunia meninggal karena terkena kanker serviks.
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim perempuan. Leher rahim ini berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina.
Serviks sangat lembut dan sensitif (Foto: Pixabay)
Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 per 1.000 orang dan kasus tertinggi terjadi di DIY dimana prevalensi mencapai 4,1 per 1.000 orang. Itu artinya, di Indonesia ini, jika masing-masing 1.000 di Indonesia dikumpulkan, ada satu sampai dua orang di antara mereka yang menderita kanker.
Data-data tersebut dipaparkan oleh dr. Niken Wastu Palupi, MKM, yang saat ini menjabat sebagai Kasubdit Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI.
dr. Niken Wastu Palupi, MM (Foto: Zahrina Yustisia/kumparan)
Selain data prevalensi kanker di Indonesia secara umum, Niken juga menyebutkan angka prevalensi kanker terhadap penduduk Indonesia berdasarkan jenis kelaminnya. Di Indonesia, angka penderita kanker pada perempuan masih lebih tinggi daripada laki-laki.
ADVERTISEMENT
Pada laki-laki, jenis kanker tertinggi ditempati oleh kanker paru-paru yang memiliki prevalensi mencapai 25,8 per 100 ribu orang dan angka kematian mencapai 23,2 per 100 ribu.
Adapun pada perempuan, jenis kanker tertinggi adalah kanker serviks. Prevalensi kanker serviks pada perempuan jauh lebih tinggi daripada kanker paru-paru pada laki-laki, yaitu 40,3 per 100 ribu.
Ilustrasi penderita kanker (Foto: Thinkstock)
Pentingnya deteksi dini dan vaksinasi
Melihat tingginya prevalensi akibat kanker serviks, Niken mengatakan deteksi dini harus dilakukan terutama bagi perempuan yang sudah aktif secara seksual.
Selain itu, vaksinasi kanker serviks pun perlu dilakukan sedini mungkin. Vaksin sebaiknya dilakukan begitu seorang perempuan mencapai usia antara sembilan hingga 15 tahun, sesuai dengan anjuran WHO.
Meskipun pada usia tersebut sebagian besar perempuan belum aktif secara seksual, vaksinasi dilakukan sebagai pencegahan bila kelak mereka menikah. Sebab, lebih dari 70 persen penularan HPV, menurut Niken, terjadi melalui hubungan seksual.
ADVERTISEMENT
“Kita tidak tahu pasangan seperti apa yang kita dapat, karena itu kita harus waspada,” kata Niken.
HPV atau human papillomavirus sendiri adalah virus penyebab kanker serviks.
Deteksi dini jadi langkah jitu perangi kanker. (Foto: thinkstockphotos.com)
Tujuan pengendalian kanker
Niken mengatakan, pemerintah telah melakukan upaya pengendalian kanker untuk memenuhi tiga tujuan. Pertama, meningkatkan deteksi dini, penemuan dan tindak lanjut kanker.
Pemerintah, ujar Niken, telah menargetkan 37 juta deteksi dini kanker secara nasional. Namun sampai tahun 2017, tercatat baru 3.038.296 orang yang melakukan deteksi kanker dini. Angka tersebut sudah meningkat dari 2015 yang hanya sebanyak 1,2 juta orang.
Tujuan kedua adalah meningkatkan kualitas hidup penderita kanker. Adapun tujuan ketiga adalah menurunkan angka kematian akibat kanker.
Peresmian A2KPI
Selain diskusi bersama organisasi para pasien kanker yang ada di seluruh Indonesia dan para penyintas kanker, acara yang bertempat di Auditorium Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Gedung Kementerian Kesehatan RI ini juga menjadi momen peresmian Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan Indonesia (A2KPI).
ADVERTISEMENT
A2KPI merupakan penegasan tentang perlunya keterlibatan organisasi pasien dalam penyusunan kebijakan untuk perbaikan penanganan kanker perempuan.
Peresmian ini dilakukan oleh pihak Kementerian Kesehatan RI yang diwakili oleh Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA, perwakilan dari Komisi IX DPR-RI H. Syamsul Bachri, Ms.C, dan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. Aru Wisaksono Sudoyo, beserta perwakilan dari 13 organisasi pasien kanker di seluruh Indonesia.
Forum Diskusi Publik dan Peluncuran A2PKI. (Foto: Zahrina Yustisia Noorputeri/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81