kumparan
30 Mei 2018 4:17 WIB

Studi: Suplemen dan Vitamin Tak Terlalu Bermanfaat Bagi Tubuh

Ilustrasi suplemen (Foto: Thinkstock)
Sering mengkonsumsi suplemen tambahan? Menurut suatu studi terbaru, para peneliti menemukan bahwa hal itu tidak memberikan banyak manfaat pada tubuh Anda.
ADVERTISEMENT
Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of The American College of Cardiology pada Senin (28/5) lalu, para periset asal Kanada menjelaskan bahwa sebagian besar suplemen yang banyak dikonsumsi masyarakat tak memberikan manfaat bagi tubuh.
"Kami terkejut untuk menemukan hanya sedikit sekali efek positif dari suplemen yang banyak dikonsumsi orang," ujar David Jenkins, profesor di Department of Nutritional Sciences dari University of Toronto, Kanada, sekaligus pemimpin studi, dilansir Medical Daily.
"Dari hasil penilaian kami ditemukan bahwa konsumsi multivitamin, vitamin D, kalsium atau vitamin C tak berbahaya bagi tubuh, namun juga tidak memberikan manfaat apapun," tambahnya.
Sebelumnya penggunaan suplemen vitamin D sendiri mulai disarankan untuk dikurangi oleh The U.S. Preventive Services Task Force, salah satu badan kesehatan milik pemerintah di AS, karena hasil riset yang berbeda-beda atas pengaruh vitamin tersebut.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, masih dalam pandauan yang sama, untuk vitamin B3 (niacin) dan antioksidan seperti vitamin A, C, dan E ditemukan dapat meningkatkan penyebab kematian.
Ilustrasi suplemen vitamin D. (Foto: Thinkstock)
Untuk niacin, menurut suatu studi yang dipublikasikan pada 2014, memang dianggap berbahaya bagi kesehatan tubuh. "Mungkin ada satu kematian dari setiap 200 orang yang kami berikan niacin," ujar ahli kardiologi Donald Lloyd-Jones.
Ia mengatakan bahwa niacin adalah cara pengobatan yang tidak dapat diberikan pada setiap pasien. Lloyd-Jones menambahkan, cara pengobatan tersebut hanya diberikan bagi mereka yang punya risiko serangan jantung atau stroke.
Namun dalam studi terbaru ini, ditemukan ada satu suplemen yang benar-benar memberikan manfaat, yaitu folat. Menurut para peneliti, folat membuat terjadinya penurunan pada tingkat kemungkinan terserang penyakit kardiovaskular dan juga stroke.
ADVERTISEMENT
Hal serupa juga ditemukan pada vitamin B kompleks yang juga mengandung asam folat.
Ilustrasi vitamin B6. (Foto: stevenpb via pixabay)
Studi tersebut menggarisbawahi penggunaan suplemen secara umum di AS, yang lebih dari setengah populasinya disebut menggunakan suplemen. Sebagian besar ahli memang lebih menyarankan masyarakat untuk mendapatkan nutrisi dari makanan dibanding dari suplemen.
"Karena tidak adanya data positif yang signifikan, kecuali asam folat yang berpotensi menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung, akan lebih bermanfaat untuk mendapatkan vitamin serta mineral dari makanan yang sehat," kata Jenkins.
"Sejauh ini, tidak ada riset yang dilakukan pada suplemen yang menunjukkan kepada kita suatu hal yang lebih baik dari sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan," imbuhnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan