Wanita India Diminta Operasi Pengangkatan Rahim agar Tak Menstruasi

9 Juli 2019 16:29 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan di India. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan di India. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Dua berita yang sangat mengkhawatirkan telah muncul dari India belum lama ini. Berita-berita ini berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita pekerja di India dan kurangnya perlindungan terhadap mereka ketika mereka sedang menstruasi.
ADVERTISEMENT
Salah satu berita kontroversial soal menstruasi di India ini dipaparkan cukup detail oleh Geeta Pandey, yang menulis untuk BBC News. Dia melaporkan bahwa banyak wanita yang bekerja di wilayah "sugar belt" di negara bagian Maharashtra diminta untuk mengangkat rahim mereka agar terhindar dari menstruasi bulanan. Tindakan ini "dianjurkan" karena menstruasi dianggap berpotensi mengganggu hari-hari kerja para wanita.
IFL Science melansir, di salah satu distrik di Maharashtra, telah dilakukan 4.605 histerektomi atau operasi pengangkatan rahim terhadap para wanita pekerja di sana. Sebagian besar operasi ini dilakukan terhadap wanita di bawah usia 40 tahun dan dalam beberapa kasus pada wanita yang masih berusia 20-an tahun.
Bagi beberapa wanita yang menjalaninya, intervensi bedah yang tidak perlu ini telah menyebabkan komplikasi parah, seperti nyeri otot dan sendi hingga pembengkakan ekstremitas, dan pusing yang konstan atau secara terus-menerus.
Perempuan berdemonstrasi di Kerala, India . Foto: AFP
Satu laporan lainnya, yakni dari Reuters, mengungkapkan bahwa wanita yang bekerja di industri garmen bernilai miliaran dollar di Tamil Nadu diberi obat-obatan yang tidak berlabel ketika mereka mengeluh tentang nyeri haid, alih-alih diberikan hari libur. Wilayah ini diyakini mempekerjakan lebih dari 300.000 perempuan dan kebanyakan dari mereka kemungkinan tidak terdata atau diketahui pemerintah. Selain itu, wilayah ini juga terkenal akan sumangali, praktik ilegal yang mempekerjakan para gadis di bawah umur.
ADVERTISEMENT
Dari seratus wanita yang diwawancarai oleh Reuters di wilayah industri ini, mayoritasnya berusia antara 15 dan 25 tahun dan dilaporkan sering menerima efek samping dari obat-obatan tidak berlabel itu. Mereka menderita mual, muntah, serta efek lebih parah yang bertahan lama, seperti gangguan siklus menstruasi, depresi, dan kesulitan hamil.
Sebenarnya sudah ada cukup banyak pihak yang vokal berkampanye untuk menentang ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan India yang sedang menstruasi. Namun begitu, stigma buruk terhadap menstruasi wanita sudah menjadi hal yang lazim di India.
Bahkan, sebenarnya, stigma tersebut tidak terbatas hanya berlaku di India. Contohnya, hasil sebuah studi yang diterbitkan di British Medical Journal menyatakan bahwa hampir 33.000 wanita di Belanda, negara yang dianggap progresif dan secara konsisten diklaim sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, rata-rata kehilangan sekitar 8,5 hari kerja produktif setiap tahunnya karena gejala yang berhubungan dengan menstruasi.
ADVERTISEMENT
Konklusi yang diambil dari studi semacam itu tentunya cenderung menggiring pada persepsi yang tidak menguntungkan bagi para wanita. Padahal, setengah populasi global yang merupakan kaum wanita kemungkinan akan mengalami menstruasi pada titik tertentu dalam hidup mereka. Jadi, sudah sepatutnya kita membuang jauh-jauh bahwa menstruasi adalah hal yang buruk dan tabu.