Faktor Lain Kesuksesan Ahsan/Hendra: Tanggung Jawab sebagai Ayah

kumparanSPORTverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan menggendong anaknya saat tiba di Terminal Kedatangan Internasional 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan menggendong anaknya saat tiba di Terminal Kedatangan Internasional 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Begitu spektakuler laju Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan sepanjang 2019. Tercatat, Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis menghadirkan final ketujuh yang dilakoni Ahsan/Hendra tahun ini.

Dari tujuh final, tiga di antaranya berakhir dengan gelar juara. Ya, Ahsan/Hendra sempat keluar sebagai kampiun All England dan Selandia Baru Terbuka sebelum merengkuh juara dunia.

Pencapaian luar biasa tentunya mengingat Ahsan/Hendra tak lagi muda. Hendra tepat berusia 35 tahun pada 25 Agustus lalu dan Ahsan kini menginjak usia 31 tahun.

Usia memang bukan halangan untuk Ahsan/Hendra. Malah, menurut pelatih ganda putra Indoneisa, Herry Iman Pierngadi, faktor umur mematangkan permainan dan membentuk mental baja.

Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan memberikan keterangan pers usai menjuarai Kejuaran Dunia 2019 di Terminal Kedatangan Internasional 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selain itu, pelatih berjuluk 'Naga Api' tersebut menyebut faktor tanggung jawab sebagai ayah menjadi aspek pendukung lain. Ahsan merupakan ayah dari dua orang anak dan Hendra sudah dikaruniai tiga anak dari istrinya, Sandra Arif.

"Ya, itu motivasinya bapak-bapak (bisa 7 final). Harusnya pemain-pemain muda ikuti mereka. Mereka tanggung jawabnya hebat. Waktu pertandingan jarang panik. Di gim ketiga (final Kejuaraan Dunia), Ahsan/Hendra sudah panik sebenarnya, tapi enggak terlalu terlihat saja," kata Herry saat ditemui di Pelatnas Cipayung, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

"Kunci mereka juga adalah mental bagus, stabil konsisten. Permainan mereka matang dan lebih aman. Penempatan bola bagus, kalau mukul bola berpikir banget menempatkan di mana, kekurangannya hanya di fisik," tuturnya menambahkan.

Diakui Herry, melejitnya prestasi Ahsan/Hendra sepanjang tahun ini adalah hal mengejutkan. Namun, tentu saja juru latih berusia 57 tahun ini berharap langkah mulus The Daddies terus berlanjut.

Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan mencium anaknya saat tiba di Terminal Kedatangan Internasional 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

"Di luar perkiraan saya mereka bisa stabil begitu. Itu namanya pemain senior. Kelebihan mereka sebagai pemain senior dan matang, walau poin kritis mereka bisa menang karena pengaruh jam terbang. Mental mereka bagus," ujar Herry.

"Final (Kejuaraan Dunia) kemarin, kita tak bicara lagi soal fisik, 'kan pastinya kalah jauh, tapi mental mereka mantap. Sama seperti di final All England. Lawannya 'kan goyah, tapi mereka bisa stabil," katanya.

Terdekat, Ahsan/Hendra dijadwalkan akan mentas di China Terbuka 2019, 17-22 September mendatang. Mereka datang sebagai unggulan kedua turnamen dan akan menghadapi wakil India, Atrri Manu/Reddy B. Summeth, di babak 32 besar.