kumparan
23 Nov 2018 14:28 WIB

Ketika Samantha Edithso Tagih Bendera Merah Putih Sebelum Juara Dunia

Perjalanan Samantha Edithso menjuarai World Cadets Chess Championships U10 di Spanyol, 3-16 November 2018. (Foto: Dok. Istimewa)
Samantha Editsho juara dunia (lagi). Kali ini, 'Indonesia Raya' berkumandang di Palacio de Congresos y Exposiciones de Galicia, Kota Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol, Kamis 15 November 2018 usai Samantha juara catur klasik (cadet chess) di World Cadets Chess Championships 2018 U-10.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, bocah perempuan asal Bandung ini menorehkan sejarah menjadi juara catur cepat (rapid chess) di 2nd World Cadets Rapid and Blitz Chess Championships juga kategori U-10 pada Juni lalu.
Perayaan gelar Samantha di catur klasik terasa lebih spesial. Berdiri di podium tertinggi, hanya Samantha seorang yang berbalut bendera negaranya. Runner-up asal Rusia, Alexandra Shvedova, dan peringkat tiga, Chen Yining (China), membisu tanpa membawa bendera mereka.
Seiring dengan pemberian trofi, lagu kebangsaan Indonesia pun berkumandang. Hadirin di sana terlihat khidmat berdiri, seperti terlihat dalam video unggahan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Persatuan Catur Seluruh Indonesi (Percasi), Kristianus Liem. Samantha, tenang sambil mengangkat trofi.
Video
Di balik pesta juara di hari penutupan turnamen itu, ada kepercayaan diri Samantha yang sukses mengantarkannya menjadi pecatur terbaik kategori umur di bawah 10 tahun.
ADVERTISEMENT
Menurut So Siau Sian, sang ibu yang menemani di Spanyol, Samantha sudah bertanya kepada pengurus Percasi soal bendera 'Merah-Putih' sebelum 11 babak dirampungkannya.
"Sebelum mulai babak sembilan, Samantha sudah tanya ke pengurus, 'Bawa bendera enggak'?," tiru So saat dihubungi kumparanSPORT, Jumat (23/11).
Pada akhirnya, Samantha kalah di babak tersebut dari rival asal China, Zhou Yafei. Itu bukan yang kekalahan Samantha yang pertama, karena sebelumnya dia juga kalah di babak empat. Emosi, begitu So menyebut faktor kekalahan dua kali Samantha di sana.
"Kalah itu bukan karena teknik, tapi emosi. Terganggu karena temannya (lawan) tidak bisa diam, badan ke depan ke belakang, akhirnya Samantha emosi ingin cepat-cepat selesai," tuturnya.
Samntha Edithso saat bertanding catur melawan perwakilan dari China. (Foto: Dok. Istimewa)
ADVERTISEMENT
Di babak 11 sekaligus penentuan, Samantha bisa mengalahkan unggulan klasemen, Alexandra, yang berakhir menjadi runner-up. Dan akhirnya, permintaan Samantha untuk menyediakan sang 'Merah-Putih' betul-betul bukan bualan semata —malah menjadi 'aksesori' yang menyempurnakan podium sang pecatur muda.
"Bendera itu saya yang pasangi. Samantha 'kan perlu megang medali, piala, dan hadiah tablet, untungnya pengurus membawa dua pin untuk mengaitkan bendera itu di pundak Samantha. Suasana riuh begitu nama Indonesia disebut. Saya terharu mendengar lagu Indonesia Raya," kata So.
"Lagunya memang lebih memancing emosi. Samantha bilang, 'Saya pegang pialanya berat banget, mau jatuh ini'," tiru sang ibu sambil tertawa.
Di venue Palacio de Congresos y Exposiciones de Galicia, So begitu setia melawan dinginnya cuaca Eropa demi menemani sang anak tercinta. Selama turnamen berlangsung, sehari-hari So bersama pengurus Percasi dan tiga atlet lain.
ADVERTISEMENT
Tidak bisa masuk ke venue apalagi berada dekat meja pertandingan, maka kaca pembataslah tempat di mana So mencuri-curi pandang, memicingkan mata dalam upanya mengamati kelincahan jemari sang anak yang asyik 'menghidupkan' bidak caturnya.
Samntha Edithso saat bertanding catur melawan perwakilan dari Rusia. (Foto: Dok. Istimewa)
"Saya sudah 3-4 kali menemani ke luar negeri, paling jauh di Spanyol ini. Cuaca di sana dingin suhu 11 derajat Celcius, angin kencang disertai hujan. Jadi dari hotel Puerta del Camino menuju arena naik bus sekitar 10 menit. Turun dari shuttle ke venue juga 10 menit," katanya.
"Saya tidak bisa menonton, pintu ditutup. Di sana, orang tua menunggu di luar walau kedinginan. Saya suka mengintip di dekat pintu kaca di luar, tapi masih kelihatan meja Samantha di ujung. Cuma perhatikan gerak-gerik dan mimik Samantha. Di babak 11 penentuan itu, Samantha mukanya tenang," ucap So.
ADVERTISEMENT
Samantha Edithso, Juara Dunia Catur U-10 (Foto: dok : istimewa)
Masih bersemangat menceritakan aksi Samantha di meja pertandingan, So mengatakan kebiasaan sang anak ialah membawa lolilop dan cokelat. Akan tetapi, kudapan yang terakhir disebut saja yang dimakan di Spanyol. "Katanya bikin tenang," imbuh So.
"Anaknya optimis, mentalnya baja, kuat melebihi cowok dan orang dewasa. Samantha juga selalu penuh kejutan, saat bermain suka melakukan langkah tidak terduga. Pernah mengorbankan tiga perwira sekaligus, ternyata itu bisa mengalahkan lawan," ujarnya.
Perjalanan Samantha Edithso menjuarai World Cadets Chess Championships U10 di Spanyol, 3-16 November 2018. (Foto: Dok. Istimewa)
"Kalau bermain di Indonesia, pasti penuh penontonnya. Permainan spektakulernya yang ditunggu orang. Fans cukup banyak dari anak-anak dan orang dewasa. Gaya dia juga ditiru, contohnya makan lolipop saat bertanding," ucapnya bangga.
"Pesan saya untuk Samantha, semoga dia bisa main dan juara di kejuaraan senior. Bertambah usia, semoga dia semakin matang emosionalnya," ucap So mengakhiri.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan