kumparan
10 Jul 2019 18:57 WIB

Medali dan Gelar Juara Bukan Tujuan Utama di ASEAN School Games

Maskot ASEAN School Games 2019 diambil dari Warak Ngendhog yang mencerminkan nilai persatuan dalam keberagaman. Foto: Karina N. Shabrina/kumparan
Sebagai multiajang olahraga terbesar bagi pelajar se-Asia Tenggara, ASEAN School Games tak hanya memfokuskan atlet untuk merengkuh kemenangan dan medali. Ada pula nilai-nilai sosial yang ingin disalurkan dengan olahraga sebagai medium.
ADVERTISEMENT
Chef de Mission kontingen Indonesia, Yayan Rubaeni, menjelaskan bahwa misi utama ASEAN School Sports Council (ASSC) menyelenggarakan ajang ini sejak 2009 hingga memasuki edisi ke-11 tetap sama: Menjadikan atlet peserta sebagai duta bagi negaranya masing-masing.
Yayan juga menjelaskan, harapan Menpora Imam Nahrawi selaras dengan tujuan ASSC. Selama gelaran berlangsung pada 17 hingga 25 Juli nanti di Semarang, Jawa Tengah, diharapkan akan banyak pelajar ikut terlibat.
“Ajang ini berbeda dengan multievent lainnya karena diperuntukkan untuk atlet junior, khususnya pelajar. Jadi, sebagaimana program ASSC, juara bukan tujuan utama. Tujuan utamanya, membangun budaya berolahraga di kalangan pelajar ASEAN, lalu bertukar informasi budaya, membangun persaudaraan, dan solidaritas,” ujar Yayan.
Menpora Imam Nahrawi (kanan) menghadiri seremoni peluncuran logo dan maskot ASEAN School Games 2019 Semarang di Wisma Kemenpora, Jakarta, Selasa (25/6). Foto: Karina N. Shabrina/kumparan
“Para atlet harus menjadi idola, menjadi role model bagi anak-anak seusia mereka sehingga prestasi dan kiprah di ASEAN School Games ini bisa ditularkan ke pelajar-pelajar lain. Istilahnya, menginspirasi,” tambahnya saat ditemui di Hotel Patra, Semarang, Rabu (10/7/2019).
ADVERTISEMENT
“Kami juga sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah Jawa Tengah, sekolah-sekolah akan ikut andil di event ini. Nantinya ada mutualisme. Jadi, atlet merasa termotivasi dan yang datang merasa terinspirasi,” tuturnya.
Meski demikian, Yayan menegaskan bahwa aspek prestasi tak bisa dilepaskan begitu saja sehingga fokus lain pemerintah lewat ajang ini adalah pembentukan karakter juara dan pembinaan atlet ke jenjang berikutnya.
Dengan kata lain, ASEAN School Games merupakan Kawah Candradimuka buat atlet junior Indonesia untuk menggembleng diri agar bisa terus berprestasi ketika menjejak level senior.
Staf Kemenpora meninjau persiapan atlet Indonesia jelang ASEAN School Games 2019. Foto: Aditia Nugraha/kumparan
“Menpora juga ingin ajang ini menjadi jembatan untuk karier atlet di dunia olahraga karena mereka ada di masa transisi dari atlet junior ke senior. Terkait medali dan menjadi juara adalah bonusnya, bukan hal paling utama.”
ADVERTISEMENT
“Tapi, itu juga menjadi fokus dari setiap negara karena ini adalah jembatan meningkatkan prestasi olahraga. Di pelatnas sendiri, kami melakukan pembinaan mental untuk menguatkan kepribadian atlet bahwa mereka terpilih dan harus bangga. Jadi, saat bertanding tidak ada canggung, minder. Kemampuan mereka bisa keluar maksimal,” pungkas Yayan.
ASEAN School Games2019 akan diikuti oleh 10 negara. Selain mentas di berbagai nomor pertandingan, para atlet juga bakal mengikuti acara Culture Visit yang difokuskan untuk memupuk rasa solidaritas antara pelajar se-Asia Tenggara.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·